Saat saya duduk di bangku SMA, sering ada pemeriksaan tas secara berkala oleh pihak guru atau OSIS. Setiap siswa digeledah tasnya, lalu mereka akan menyita barang-barang seperti ponsel, kosmetik, dan lain sebagainya.
Saat ada pemeriksaan tas tanpa pemberitahuan, saya dan teman-teman saya panik karena kami membawa pembalut di tas. Bukan apa-apa, kami hanya malu kalau ketahuan bawa-bawa pembalut. Pikiran polos anak SMA seperti kami menganggap pembalut sebagai sesuatu yang tabu dan memalukan.
Saat sedang dalam masa menstruasi, para perempuan biasanya terpaksa mengganti pembalut di toilet umum, misalnya toilet sekolah, kampus, atau mall.
Sejak dulu, saya sering melihat para perempuan menyembunyikan pembalut mereka di dalam saku. Bahkan, teman saya saat SMA pernah membawa tasnya ke toilet hanya demi mengganti pembalut.
Tak cukup sampai di situ saja, saat berada di dalam bilit toilet untuk mengganti pembalut, para perempuan sering kali menyalakan keran air untuk menyamarkan suara plastik pembalut yang dibuka.
Mereka bahkan merasa malu meskipun berada di dalam toilet khusus perempuan, yang mana pastilah penghuninya sudah paham soal menstruasi.
Selain mengalami "kendala" saat mengganti pembalut di toilet, banyak juga perempuan yang masih malu-malu saat membeli pembalut di warung. Beberapa orang akan menggunakan istilah pengganti, misalnya roti jepang atau yang lainnya.
Para perempuan, termasuk saya, pernah merasa malu saat membeli pembalut, dan meminta penjualnya memberi kantong plastik hitam agar pembalut yang kami beli tidak terlihat oleh orang lain.
Mengutip dari National Library of Medicine, menstruasi masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Dalam budaya India, perempuan yang sedang menstruasi dianggap kotor dan tidak suci.
Padahal, menstruasi itu normal. Penyebab terjadinya menstruasi adalah ovulasi yang diikuti dengan hilangnya kesempatan hamil yang mengakibatkan pendarahan pada pembuluh darah endometrium dan diikuti dengan persiapan siklus berikutnya.
Membeli dan membawa pembalut pun seharusnya sudah menjadi aktivitas normal dan tidak perlu dianggap tabu. Mengapa harus pakai acara sembunyi-sembunyi seolah membawa obat terlarang?
Baca Juga
-
Mode Survival Rakyat: Ayah Antre BBM, Ibu Cari Sembako, Anak Keracunan MBG
-
365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist
-
Buku Fiksi vs Self-Improvement: Mana yang Lebih Mengasah Empati?
-
Interview Online vs Offline, Mana yang Lebih Masuk Akal?
-
Destined with You: Kisah Cinta yang Terhalang Kutukan dan Rahasia Masa Lalu
Artikel Terkait
-
Tak Sekadar Cegah Kanker Serviks, Ini Pentingnya Skrining HPV dan Vaksinasi Untuk Perempuan Pekerja
-
Wajah Perempuan Bali yang Terhegemoni: Ulasan Buku Karya Ni Nyoman Sukeni
-
Viral! Perempuan Mencuri Uang Bisnis Sahabat Rp1,3 Miliar Untuk Hedon dan Foya-foya
-
Eksklusif, Klarifikasi Hamish Daud Terkait Isu Sewa Cewek Open BO di Bali
Kolom
-
Tugas Guru Itu Mengajar, Bukan Menjadi Petugas Pemeriksa MBG
-
Mode Survival Rakyat: Ayah Antre BBM, Ibu Cari Sembako, Anak Keracunan MBG
-
Bukan dengan Nirempati, Ini Cara Tepat Menerapkan Sikap 'Mindfulness'
-
Mendang-mending 2.0: Saat Gen Z Mulai Berani Bilang Tidak pada Racun Belanja
-
Bahaya Kalimat 'Mumpung Gajian' yang Bisa Bikin Dompet Cepat Menipis
Terkini
-
Masjid Baiturrahman Alasmalang, Dirawat Seperlunya Tanpa Ubah Wajah Lama
-
Review Drama Start-Up: Drakor Lama dengan Pelajaran yang Tak Pernah Usang
-
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
-
Cuaca Panas Terik? Ini 5 Mist Spray Aloe Vera untuk Menyegarkan Kulit Wajah
-
Dari Romcom hingga Aksi, 5 Drama Korea 2026 Ini Wajib Masuk Watchlist