Sampai saat ini, saya masih sering menemukan istilah "baju dinas" digunakan untuk menyebut salah satu jenis pakaian dalam perempuan, yaitu lingerie.
Entah kapan dan dari mana istilah tersebut berawal, namun istilah "baju dinas" sangat populer di kalangan ibu-ibu di media sosial. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan ada yang menyebut lingerie sebagai "baju haram".
Di e-commerce dan toko-toko online, istilah "baju dinas" dan "baju haram" umum digunakan untuk judul barang dagangan mereka. Pembelinya pun mewanti-wanti agar tidak menuliskan "lingerie" secara gamblang pada resi pesanan mereka.
Saya paham bahwa istilah tersebut mengarah pada salah satu fungsi lingerie, yaitu untuk memuaskan pasangan saat berhubungan intim. Tapi menurut saya, menggunakan istilah "baju dinas" agak berlebihan.
Pertama, hubungan intim dengan pasangan bukanlah pekerjaan resmi. Hal itu sebaiknya dilakukan suka sama suka, mau sama mau. Sedangkan menurut KBBI, dinas bisa juga berarti bertugas atau bekerja.
Menggunakan istilah "baju dinas" seolah menempatkan perempuan yang mengenakan lingerie sebagai objek yang bekerja, bertugas, dan melayani. Padahal hubungan yang didasari rasa cinta seharusnya bisa saling melayani tanpa embel-embel istilah kedinasan.
Kedua, banyak perempuan yang membeli lingerie untuk kesenangan pribadi. Dalam film "Sleeping With Other People" (2015), karakter Alison Brie membayangkan bahwa dia akan menghabiskan sejumlah uangnya untuk membeli set lingerie mewah untuk dirinya sendiri.
Menurut psikolog Danielle Forshee seperti dikutip dari HuffPost, lingerie sering dipandang hanya untuk kepentingan pasangan. Namun, saat ini, kita berada di masa ketika perempuan memberdayakan diri mereka sendiri, salah satunya dengan memakai lingerie untuk kesenangan diri sendiri.
Sementara itu, menurut psikolog Carolyn Mair, mengenakan lingerie yang berkualitas bagus dapat meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri kita, bahkan meskipun tidak ada yang melihatnya.
Membeli lingerie bisa menjadi bentuk perawatan diri dan meningkatkan semangat bagi para perempuan. Mengenakan pakaian seksi saat tidak ada orang yang melihat akan membangkitkan rasa cinta pada diri sendiri atau self love.
Dengan kata lain, sudah saatnya masyarakat tidak menghubungkan lingerie dengan aktivitas seksual. Lingerie itu hanya pakaian dalam biasa yang bentuknya lebih variatif dan mewah.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
-
Beban Ganda Perempuan Indonesia: Tubuh Diatur, Rahim Dipajaki
-
Ulasan Designated Survivor 60 Days: Sanggupkah Orang Jujur Lawan Oligarki?
-
Di Balik Tren Stop the Wedding: Bukan Takut Nikah, Tapi Makin Sadar Risiko
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Politik Harapan: Kesesatan Berpikir Tentang Politik Perempuan
-
Nggak Usah Malu Bawa Pembalut di Tempat Umum, Menstruasi Itu Normal!
-
Tak Sekadar Cegah Kanker Serviks, Ini Pentingnya Skrining HPV dan Vaksinasi Untuk Perempuan Pekerja
-
Wajah Perempuan Bali yang Terhegemoni: Ulasan Buku Karya Ni Nyoman Sukeni
-
Viral! Perempuan Mencuri Uang Bisnis Sahabat Rp1,3 Miliar Untuk Hedon dan Foya-foya
Kolom
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?