Halah, modal cantik doang. Awalnya saya tidak suka dengan kalimat itu. Kalimat yang terkesan menyalahkan orang yang terlahir cantik, tanpa mengindahkan usahanya untuk mencapai sesuatu.
Tapi lama-lama saya merasa kok ada benarnya, ya? Utamanya saat sudah mulai magang dan punya rekan yang visualnya plus. Tak hanya cantik, dia sendiri juga aktif dan ramah ke semua orang, tidak heran kalau dia mencuri hati banyak orang.
Saya sendiri tidak pernah punya masalah dengan teman yang satu itu, dia banyak membantu, tapi perasaan saya mulai tidak nyaman saat diperlakukan berbeda oleh orang-orang di sekitar.
BACA JUGA: Dear Orang Kota yang Bercita-cita Ingin Tinggal di Desa, Yakin Bakal Betah?
Saya selalu berusaha humble dan aktif di sana, tapi respons mereka tidak seperti saat sedang ngobrol dengan teman saya yang cantik. Mereka selalu excited, tertawa renyah, dan saling melempar guyonan, sedangkan ajakan ngobrol saya sebatas ditanggapi dengan senyuman.
Setiap hari perasaan tidak nyaman itu terus bertambah, bahkan saat sudah dipindah ke divisi lain, kapanpun teman saya ikut nimbrung, otomatis saya tenggelam. Lama-lama jengkel juga.
Tapi kembali lagi, dia cantik juga bukan dia yang minta, itu pemberian Tuhan yang kalau saya benci saya sendiri yang dosa. Hanya satu hal yang saya sadari, beauty privilege itu memang ada.
BACA JUGA: Masih Menyebut Lingerie dengan Istilah Baju Dinas? Kurang-kurangin, Deh!
Melansir dari laman CXO Media, beauty privilege atau pretty privilege adalah prinsip bahwa orang-orang yang dianggap menarik berdasarkan standar kecantikan yang ada di masyarakat, memiliki keunggulan, dan diberikan banyak kesempatan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa yang dianggap tidak menarik oleh masyarakat.
Sebenarnya, bukan salah mereka yang good looking, tapi orang-orang di sekitar mereka (mungkin diri kita sendiri) yang berbuat tidak adil pada orang lain lah yang sepatutnya mengubah mindset dan menghilangkan beauty standard.
Pada akhirnya, beauty standard inilah yang membuat semua perempuan ingin mengikuti standar kecantikan yang ada di masyarakat, seolah-olah dengan kecantikan segala hal bisa didapat. Karena yang ada di depan matanya, cantik itu dipuja, diagungkan, dan diistimewakan.
Semua orang layak mendapat pekerjaan, layak diperlakukan dengan ramah, dan layak berteman.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Bukan Hanya Pembalap, Tim Tech3 Juga Tentukan Nasib untuk Tahun 2027
-
Kesabaran Mulai Habis, Fabio Quartararo Tak Temukan Titik Terang di Yamaha
-
Marc Marquez Terpuruk, Aprilia Berpesta: Hanya Sementara atau Seterusnya?
-
Jadwal MotoGP Prancis 2026: Ducati Masih Berupaya, Aprilia dalam Bahaya
-
Rekornya Terputus, Marco Bezzecchi Akui Tak Mudah Lawan Alex Marquez
Artikel Terkait
-
PKS Klaim Jadi Satu-satunya Parpol yang Penuhi Kuota Perempuan Caleg DPR
-
Ulasan Film Kartini: Pahlawan Perempuan dari Tanah Jawa Inspirasi Indonesia
-
Ulasan Buku Leila Khaled, Simbol Perlawanan Perempuan Palestina
-
Ulasan Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa, Pemberontakan Seorang Muslimah
-
Ulasan Buku Para Raja dan Pahlawan Perempuan, Serta Bidadari dalam Folklor Indonesia
Kolom
-
Perempuan dan Standar Ganda: Apa Pun yang Dipilih Tetap Salah, Harus Gimana?
-
Privasi Semakin Tipis di Era Digital: Ketika Hidup Jadi Konsumsi Publik
-
Earphone Kabel Kembali Digemari Anak Muda, Nostalgia atau Kesadaran?
-
Sebagai Santri, Saya Marah: Pelecehan Tak Boleh Dinormalisasi di Pesantren
-
Selalu Ingin Sempurna: Tekanan Tak Terlihat pada Perempuan yang Saya Rasakan
Terkini
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
-
Raja Antioksidan! 4 Masker Astaxanthin untuk Lawan Penuaan dan Flek Hitam
-
Teach You a Lesson Rilis Jadwal Tayang, Drama Aksi Terbaru Berlatar Sekolah
-
Jadi Dokter Bedah Plastik, Intip Karakter Lee Jae Wook di Doctor on the Edge
-
Bosan Desain TWS Itu-itu Aja? Realme Buds T500 Pro Bawa Desain Kotak Permen