Di era media sosial, rasanya gak lengkap kalau belum lihat postingan orang di gym. Ada yang selfie di depan cermin, ada juga yang update story sambil lari di treadmill. Padahal, saya pribadi belum pernah masuk ke gym. Tapi setiap lihat postingan itu, rasanya udah kayak ngeti betul suasana gym. Nah, pertanyaannya, kenapa sih orang suka banget pamer kegiatan olahraga mereka?
Kalau ngobrol sama teman yang rajin gym, jawabannya seringkali simpel: biar termotivasi. Mereka percaya, dengan membagikan kemajuan-nya, mereka bakal lebih semangat dan konsisten. Tapi di sisi lain, ada juga yang mengatakan kalau posting gym itu membuat cari pengakuan. Ya, semacam ingin dipuji, "Wow, rajin banget kamu!" atau "Keren, tubuhnya makin bugar!"
Sebagai orang yang hanya menjadi penonton di layar, terkadang saya merasa postingan gym ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada getaran positif yang bisa memotivasi orang lain. Tapi di sisi lain, gak sedikit juga yang merasa "wah, gue gak seaktif itu." Efeknya malah jadi minder dan merasa kurang dibanding orang lain yang rajin olahraga.
Yang menarik, ada fenomena lain: beberapa teman saya yang gak pernah update apa-apa soal gym, tapi badannya tetap bugar. Ketika ditanya kenapa gak ikutan pamer, penjelasannya simpel, "Ngapain? Yang penting hasilnya keliatan." Mereka lebih suka menikmati proses secara pribadi tanpa perlu publikasi.
Tapi ya, kita juga gak bisa langsung nge-judge kalau semua orang yang update soal gym itu hanya cari perhatian. Mungkin mereka hanya ingin berbagi perjalanan sehat mereka. Apalagi kalau mereka kasih tips olahraga atau cerita tentang kemajuan dari nol. Bisa jadi malah membantu orang lain yang lagi butuh motivasi.
Kalau dipikir-pikir, posting gym di media sosial itu kayak alat ukur masing-masing orang. Ada yang memang butuh perhatian untuk semangat, ada juga yang murni ingin memotivasi. Dan sebagai penonton, kita bebas memilih, mau terinspirasi, atau cukup jadi pengamat santai.
Jadi, meskipun saya belum pernah masuk gym, rasanya sudah cukup banyak pelajaran dari layar smartphone ini. Gimana menurut kamu? Tim pamer atau tim diem-diem aja?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Lonceng Terakhir di Ruang Kelas
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju
-
Preview Lagu Hatchu Salma Menyadarkan Saya Kalau Syukur Itu Ada Batasnya
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Kalau Dunia Terasa Jahat, Tolong Jangan Balas ke Orang yang Gak Salah
Artikel Terkait
-
Alasan Ridwan Kamil Mau Bangun Alat Gym di Pinggir Jalan Diulti Habis-habisan: Biar Bau Ketek?
-
Hidung Bengkok Ganggu Napas, Rey Mbayang Klarifikasi Operasi Hidung Usai Dikritik
-
Menjalani Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan untuk Keseimbangan Emosi
-
Cara Menghadapi Ujian Hidup dalam Buku Jangan Jadi Manusia, Kucing Aja!
-
Tren Media Sosial dan Fenomena Enggan Menikah di Kalangan Anak Muda
Kolom
-
Obral Izin Masuk Berujung Bencana: Ketika Bandar Judi Internasional Menyamar Jadi Wisatawan
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP
-
Flexible Working Hour dan Batas Hidup Pekerja yang Semakin Kabur
-
Membaca di Era Digital: Masih Penting atau Mulai Dilupakan?
Terkini
-
Banjir Air Mata, Nonton Duluan Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Sukses Mengharu Biru
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Wajah Glowing Instan! Ini Rahasia Eksfoliasi Lembut dengan Ekstrak Apel
-
Dunia Koas yang Mencekam: Mengapa Gudang Merica Jadi Film Horor Paling Ditunggu di 2026?
-
Ketika Jurnalisme Bertemu Konspirasi Kelas Dunia di Buku The Sky is Falling