Di era digital, bahasa gaul seolah menjadi napas baru dalam komunikasi sehari-hari. Ungkapan seperti "gaskeun," "slay," atau bahkan "no debat" kini menjadi bumbu wajib di media sosial maupun percakapan langsung. Tren ini tidak hanya diadopsi oleh generasi muda, tetapi juga mulai merambah ke berbagai kalangan, mulai dari selebriti hingga pejabat. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan: apakah dominasi bahasa gaul ini memperkaya atau justru merusak bahasa kita?
Pada satu sisi, bahasa gaul adalah cerminan kreativitas. Setiap ungkapan yang lahir dari dinamika sosial menunjukkan betapa adaptifnya masyarakat kita. Kata-kata seperti "healing" dan "self-love" awalnya muncul dari bahasa asing, tetapi dimodifikasi sesuai konteks lokal hingga terasa lebih relevan. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan komunikasi.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Semakin dominannya bahasa gaul, semakin banyak pula kosakata baku yang terlupakan. Tidak jarang, kata-kata dalam KBBI terasa asing karena jarang digunakan. Misalnya, berapa banyak dari kita yang masih memakai kata "andal", padahal lebih sering berkata "reliable"? Perlahan tapi pasti, bahasa baku kita menghadapi risiko tergusur oleh istilah-istilah baru yang terasa lebih trendi.
Apakah iniminasi juga membawa tantangan dalam dunia pendidikan? Bayangkan anak sekolah yang lebih familiar dengan istilah “nge-gibah” daripada “bergosip.” Guru dan siswa terkadang harus berjibaku memahami konteks agar tidak terjadi miskomunikasi. Lebih buruk lagi, beberapa anak mungkin kesulitan membedakan mana bahasa yang santai dan mana yang formal karena terlalu sering menggunakan bahasa gaul.
Tidak bisa dipungkiri, internet adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi fenomena ini. Media sosial menciptakan ruang bebas untuk berekspresi, namun juga menjadi arena persaingan linguistik. Bahasa gaul sering digunakan untuk menciptakan kesan relevansi atau eksklusivitas. Akibatnya, ada tekanan sosial bagi pengguna internet untuk terus mengikuti tren agar tidak “kudet”.
Namun, apakah ini sepenuhnya salah? Tentu saja tidak. Bahasa gaul sebetulnya hanya bagian dari perkembangan linguistik alami. Yang menjadi masalah adalah ketika masyarakat tidak lagi menghargai pentingnya melestarikan bahasa baku sebagai identitas nasional. Seharusnya, bahasa gaul dan bahasa baku bisa berjalan beriringan, saling melengkapi daripada saling meniadakan.
Semua kembali ke kesadaran pengguna bahasa itu sendiri. Jangan sampai demi terlihat gaul, kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan warisan linguistik. Bahasa adalah cermin budaya; maka merawatnya adalah tugas bersama. Jadi, mau tetap bermain sambil menjaga bahasa baku? Bisa banget kok. Semua tergantung bagaimana kita memosisikannya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital Tahun 2035
-
5 Keuntungan Tanda Tangan Digital untuk Bisnis Anda!
-
5 Juta Lebih Konten Judi Online Diblokir Kominfo! Begini Cara Lapor Jika Temukan Lagi
-
75 Idiom Bahasa Inggris Kekinian, Bikin Obrolan Jadi Lebih Menarik
-
3 Website Untuk Tingkatkan Skor IELTS Gratis: Materi Lengkap!
Kolom
-
Mengakarnya Budaya Patriarki dan Absennya Peran Ayah di Rumah Tangga
-
Real or AI: Krisis Nalar Kritis Kala Konten AI di Media Sosial Kian Nyata
-
Belajar Berjalan Lebih Pelan: Menemukan Ketenangan di Tengah Dunia yang Berisik
-
Merokok, Pola Asuh Ayah, dan Persepsi Kesehatan Anak Lintas Generasi
-
Digitalisasi Industri dan Ancaman Pengangguran Struktural
Terkini
-
Niat Cari Jajanan Kaki Lima, Turis di Tailan Malah Disuguhi Makanan di Acara Duka
-
Harga Terjun Bebas! 5 Flagship Ini Makin Masuk Akal Dibeli
-
4 Serum Anti-Aging Tanpa Pewangi dan Alkohol yang Gentle untuk Kulit Sensitif
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme