Meriah dan gegap gempita, begitulah suasana Balai Kota Solo pada malam tahun baru 2025 kemarin. Warga dari berbagai penjuru datang, membawa keceriaan dan harapan baru.
Tapi sayangnya, ada sesuatu yang juga “ditinggalkan” di sana yakni tumpukan sampah plastik. Bukannya jadi simbol perayaan, tempat ini malah berubah menjadi lautan plastik. Ironis? Banget.
Pemandangan Balai Kota yang biasanya bersih berubah drastis. Plastik bekas minuman, bungkus makanan ringan, hingga botol air mineral berserakan di mana-mana.
Para petugas kebersihan sampai harus lembur demi membereskan jejak pesta semalam. Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab? Warga yang merayakan? Pemerintah kota? Atau semua pihak harus introspeksi?
Masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, usai perayaan besar seperti tahun baru, isu sampah selalu menjadi momok.
Namun, apa iya kita mau terus begini? Merayakan sesuatu yang seharusnya penuh makna dengan meninggalkan sampah tanpa peduli? Bukankah ini menunjukkan seberapa besar kita peduli pada lingkungan sekitar?
Hal yang lebih mengkhawatirkan, sampah plastik punya dampak jangka panjang. Tidak hanya mengotori kota, tapi juga mencemari lingkungan.
Kalau terus dibiarkan, ini bisa jadi ancaman serius bagi Solo yang selama ini dikenal sebagai kota budaya. Masa iya kota yang kental akan kearifan lokal malah dikenal karena masalah sampahnya?
Masalah utama ada pada kesadaran masyarakat. Mengedukasi warga untuk lebih peduli pada lingkungan harus jadi prioritas. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?
Bayangkan kalau setiap orang yang datang ke perayaan membawa kantong plastik sendiri untuk membuang sampahnya. Atau lebih baik lagi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Solusi kecil seperti ini bisa berdampak besar kalau dilakukan bersama-sama. Kuncinya ada di kita, masyarakat yang benar-benar mau berubah.
Tahun baru adalah waktu untuk refleksi dan harapan. Tapi kalau masih begini, apa benar kita siap menyongsong masa depan yang lebih baik? Mari jadikan 2025 bukan hanya sekadar angka, tapi juga awal perubahan. Yuk, mulai dari hal kecil, kayak buang sampah pada tempatnya!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Preview Lagu Hatchu Salma Menyadarkan Saya Kalau Syukur Itu Ada Batasnya
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Kalau Dunia Terasa Jahat, Tolong Jangan Balas ke Orang yang Gak Salah
-
Setelah Menonton MV Sal Priadi, Saya Sadar Doa Tak Selamanya Soal Meminta
-
Negara Sibuk Urus Minat Baca, tapi Lupa Membangun Ruang untuk Saling Bicara
Artikel Terkait
-
Teknologi Drone Sambut Tahun 2025 di Jakarta
-
Makna dan Sejarah Tradisi Unik Sambut Tahun Baru di Spanyol: Makan 12 Buah Anggur di Tengah Malam
-
10 Ide Resolusi 2025 untuk Perusahaan dan Rincian Penjelasannya
-
Pesan Shin Tae-yong di Tahun Baru 2025: Mari Menjadi Satu!
-
Ramaikan Acara Malam Tahun Baru di Bundaran HI, Aksi Yura Yunita dan Suami Bikin Baper
Kolom
-
Batasan Pertemanan Lawan Jenis: Masih Relevankah di Tengah Era Kebebasan Saat Ini?
-
Tren 'Kicau Mania' dan Suara Burung yang Tak Lagi Saya Dengar
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Tren Sujud Freestyle Berujung Petaka: Alarm Keras Dunia Pendidikan
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
Terkini
-
Dirasuki Roh Wanita Joseon, Ini Karakter Lim Ji Yeon dalam My Royal Nemesis
-
Minji NewJeans Muncul usai Lama Vakum, Pertanda Comeback? Ini Kata ADOR
-
Kulit Anti-Stres! Inilah 4 Face Mist Sea Water yang Ampuh Menenangkan Wajah
-
5 Drama Korea dari Byeon Woo-seok, Populer Ada Lovely Runner!
-
IHR: Perebutan Piala Raja Mangkunegaran dan Laga Krusial Triple Crown di Tegalwaton