WFH (work from home) sudah menjadi trend yang tidak asing lagi. Trend ini membuat siapa saja bisa bekerja dari rumah. Namun di sisi lain, karena bekerja jauh dari kantor, mereka juga jauh dari rekan sejawat.
Sehingga tak heran bila banyak yang mengira kalau WFH itu sesuatu yang nyaman dan enak karena tidak perlu berurusan dengan teman kantor yang menyebelin, seperti saat WFO (work from office).
Padahal kenyataannya, WFH dan WFO tidak ada bedanya. Mari kita bedah satu per satu.
Dari segi interaksi sosial, memang WFH tidak terhubung langsung dengan rekan dan bos di dunia nyata dan lebih banyak melakukan aktivitas secara daring. Namun tak beda dengan WFO, para WFH juga terkadang bertemu dengan bos penuntut, suka menekan karyawan, perfectionist, hingga yang galak.
Meski mereka tidak bertatap muka secara langsung, tapi interaksi secara daring ternyata tak kalah melelahkannya. Begitu pun dengan teman kantor secara daring ini. Mereka ada yang baik, ada juga yang suka playing victim, menjilat, dan toksik.
Begitu pun dengan waktu kerja. Banyak yang mengira kalau WFH lebih enak karena punya waktu kerja yang lebih fleksibel sehingga tidan perlu terlalu capek dalam bekerja karena bisa dilakukan di rumah sambil rebahan.
Padahal kenyataannya, waktu fleksibel ini justru membuat jam kerja mereka menjadi lebih panjang. Seperti misalnya mereka memulai pekerjaan sebelum orang lain bekerja dan selesai setelah sangat malam. Bahkan tak jarang, mereka juga tetap bekerja di hari libur untuk memantau proyek atau tugas yang diberikan.
Walau di sisi lain, di saat orang lain bekerja, kita bisa mengambil libur atau tidur siang. Lalu di saat orang lain kehujanan sepulang bekerja, kita tidak perlu macet-macetan dan kehujanan.
Masing-masing pekerjaan memiliki tantangannya tersendiri dan pasti melelahkan. Tidak ada pekerjaan yang tidak capek dan benar-benar nyaman, bahkan saat WFH sekalipun.
Sehingga tidak perlu iri dengan orang lain yang terlihat lebih nyaman. Karena kita tidak pernah tahu tantangan apa yang selama ini mereka hadapi.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
4 Cara Angelina Sondakh Atasi Teman Toxic Berlidah Pencak Silat
-
Ulasan Novel Hidden Reality of Live: Perjuangan Melawan Perundungan di SMA
-
Enaknya Jadi Teman Anak Inul Daratista, Main ke Rumah Disuguhi Omakase Salmon hingga Wagyu
-
Keluar Harus Sama Pacar, Pola Pikir Nggak Asyik yang Hanya Buatmu Kesepian
-
8 Cara Seru Merayakan Akhir Tahun Bersama Keluarga dan Teman
Kolom
-
Falsafah Siri dan Pidato Presiden: Menakar Keadaban Lisan Pemimpin Kita
-
Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Duel Nyata ala Captain Tsubasa
-
Viral Dulu Baru Ditolong? Negara Tak Boleh Bekerja Berdasarkan Algoritma
-
Koneksi dan Loyalitas Jadi Jalan Pintas, Apa Kabar Meritokrasi?
-
Pria Jepang Jadi 'Pahlawan' di Stadion, Tapi 'Beban' di Rumah Tangga
Terkini
-
Review Film Obsession: Suguhkan Horor Psikologis tentang Obsesi Berbahaya
-
Review Viral Hit: Perjalanan Heroik Remaja Melawan Bullying secara Live
-
The Ogre's Bride Tayang 4 Juli, Hadirkan Kisah Cinta Manusia dan Ayakashi
-
Bak Serial Anime! Laga Jepang vs Brazil Jadi Warna di Piala Dunia 2026
-
5 Rekomendasi Sheet Mask Ampoule untuk Wajah Sehat dan Terawat