Setiap kali nonton film, terutama film barat atau festival, tiba-tiba muncul adegan seks, reaksi pertama biasanya bukan malu atau risih, tapi bertanya dalam hati, "Emang ini perlu, ya?"
Jujur saja, adegan seks dalam film itu kayak bumbu yang tricky. Bisa bikin cerita jadi lebih dalam, lebih jujur, dan lebih manusiawi. Namun, bisa juga terasa maksa, tempelan, bahkan bikin penonton malah kehilangan koneksi emosional ke karakter. Yang awalnya ikut hanyut dalam konflik, tiba-tiba terlempar keluar karena adegan itu terasa seperti ‘iklan’ yang nggak nyambung.
Kalau ditanya kenapa adegan seks dimasukkan dalam film, ya jawabannya bisa macam-macam.
Pertama, karena alasan realisme. Seks adalah bagian dari hidup. Kita bisa bilang ‘nggak nyaman’, tapi faktanya, hubungan fisik adalah bagian dari dinamika manusia; cinta, nafsu, kesepian, bahkan kekuasaan. Di dunia nyata, banyak perasaan yang diekspresikan lewat tubuh. Film, sebagai medium seni dan cermin kehidupan, kadang memilih untuk jujur sepenuhnya. Apalagi kalau film itu memang menggali psikologi karakter secara dalam, seks bisa jadi alat penceritaan yang kuat.
Contohnya, coba lihat film-film dari Eropa. Cenderung lebih berani dan bebas dalam menggambarkan tubuh dan seksualitas, bukan karena ingin ‘nakal’, tapi karena mereka percaya tubuh juga bisa bercerita. Bahkan dalam film-film yang di antaranya: ‘Blue is the Warmest Color’, ‘In the Mood for Love’ (walau subtil), atau ‘Call Me by Your Name’, keintiman antar karakter terasa sangat manusiawi dan jujur, bukan asal buka baju.
Kedua, ada juga alasan komersial. Ini bagian yang sering bikin penonton skeptis. Beberapa film jelas memasukkan adegan seks sebagai bagian cara tercepat buat menarik perhatian. Apalagi di era internet sekarang, potongan adegan kayak gitu gampang banget viral. Ini bisa jadi strategi pemasaran diam-diam. Kasih satu adegan yang ‘mengundang’, biar orang ngomongin. Ups!
Dan justru dari situlah, kita bisa bedain mana film yang benar-benar pakai adegan seks buat memperdalam cerita, dan mana yang cuma buat sensasi. Kadang penonton sudah bisa merasakan kok, mana yang natural, mana yang jualan.
Ketiga, seks sebagai simbol atau metafora. Ini lebih sering muncul di film-film arthouse atau indie. Kadang seks ditampilkan bukan buat menggambarkan keintiman, tapi justru buat menunjukkan kehancuran, kehampaan, atau konflik batin. Seks yang dingin, kasar, atau canggung bisa jadi lambang dari kekosongan emosional tokohnya. Dan adegan semacam itu bisa powerful banget, kalau dieksekusi dengan matang. Misalnya, Film The Handmaiden atau Film Shame, menyampaikan keresahan eksistensial lewat tubuh dan relasi fisik yang rumit bila disampaikan dengan kata-kata.
Namun sayangnya, nggak semua filmmaker punya sensitivitas kayak gitu. Banyak juga yang jatuh ke jebakan klise. Seperti halnya, karakter jatuh cinta terus lanjut ke adegan ranjang. Padahal bisa saja diekspresikan lewat gesture kecil, dialog, atau momen diam yang sarat makna.
Film Asia, khususnya Jepang dan Korea, sering menunjukkan momen cinta dengan indah. Keintiman disiratkan lewat air mata yang jatuh, tangan yang nggak sengaja bersentuhan, atau pelukan canggung yang terasa lebih menyentuh dari seribu ciuman.
Nah, kalau dari sisi penonton, ini juga soal konteks budaya. Di Indonesia, adegan seks masih dianggap hal sensitif. Penonton seringkali merasa nggak nyaman, apalagi kalau nontonnya rame-rame. Aku ngerti sih, karena kita besar di lingkungan yang penuh norma dan batas.
Buatku pribadi, seks dalam film itu bukan masalah ‘harus ada’ atau ‘harus dihindari’, tapi lebih ke ‘apa fungsinya?’ Kalau adegan seks ada sebagai bagian dari perjalanan karakter, sebagai ekspresi emosional yang jujur, atau sebagai simbol cerita, ya silakan saja. Namun, kalau hanya jadi gimmick atau pemanis kosong, jujur saja, aku lebih milih adegan itu dihapus.
Dan sebenarnya, film yang baik itu bukan soal seberapa banyak yang ditunjukkan, tapi seberapa dalam yang bisa dirasakan. Adegan seks yang subtil, atau bahkan cuma disiratkan, kadang jauh lebih kuat ketimbang yang ditampilkan gamblang. Karena di situlah daya pikat sinema, bikin kita merasa, nggak cuma melihat.
Akhir kata, bijaklah memilih tontonan!
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Foufo Membuktikan Sci-Fi dari Indonesia Nggak Perlu Mengekor Hollywood
-
Pencarian Identitas yang Menyayat Hati: Mengapa Abandoned di Disney+ Lebih dari Sekadar Dokumenter
-
Review Film Moana: Saat Disney Kembali Berlayar dalam Balutan Live-Action
-
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
Artikel Terkait
-
Review Film Meet The Khumalos: Komedi Keluarga yang Kurang Menggigit
-
Tak Ada Tandingan, Final Destination: Bloodlines Rajai Box Office Rp839 M
-
Syahrini Pamer Lagi Privat Shopping Berlian, Netizen Julid ke Jempolnya
-
Sinopsis dan Fakta Film Legenda Kelam Malin Kundang, Karya Baru Joko Anwar
-
Aksi Cabul Eks Kapolres Ngada Bikin Merinding, Habiburokhman Murka: Jika Boleh Saya Tembak Kepalanya
Kolom
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
-
Stop Monetizing Your Hobby: Mengapa Hidup Tidak Selalu Tentang Produktivitas
-
Dari Istana ke Paspor: Mengapa Politik Menentukan Kesempatan Kerja?
-
Tren Soft Launching Pacar: Estetika Romantis atau Taktik Manipulasi Berkedok Privasi?
Terkini
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
Cuaca Makin Terik! Lakukan 5 Langkah Ini Agar Kulit Tak Cepat Kusam dan Menua
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Mudah Dipakai Pemula! 5 Liquid Eyeliner untuk Hasil Garis Tajam dan Presisi