Dulu, semangat kerja itu diukur dari seberapa sering lembur, seberapa cepat merespons pesan bos di luar jam kerja, dan seberapa banyak pekerjaan yang dikerjakan di luar deskripsi jobdesk. Tapi sekarang? Banyak karyawan yang memilih datang-pulang tepat waktu, tidak ikut grup WhatsApp kantor terlalu aktif, dan enggan ambil tugas tambahan tanpa kompensasi yang jelas.
Fenomena ini bukan sekadar “mager kerja” atau “karyawan bandel”, tapi bagian dari tren yang belakangan dikenal dengan nama quiet quitting. Istilah ini makin sering berseliweran di linimasa media sosial, biasanya disertai curhatan seperti:
“Kerja cukup sesuai jobdesk aja, nggak dibayar buat ngelakuin dua posisi.”
Kalau dulu overwork dianggap keren, sekarang “bekerja secukupnya” justru dianggap langkah yang waras.
Quiet Quitting: Bukan Malas, Tapi Paham Batasan
Banyak orang salah paham bahwa quiet quitting artinya berhenti bekerja atau kehilangan semangat. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah karyawan memilih untuk berhenti memberikan tenaga emosional dan waktu ekstra untuk pekerjaan yang tidak menghargainya. Mereka tetap profesional, menyelesaikan tanggung jawab sesuai kontrak, tapi tidak lagi ingin “membakar diri” demi target perusahaan. Karena pada akhirnya, loyalitas tak selalu dibalas dengan apresiasi.
Kenapa Quiet Quitting Jadi Tren?
Salah satu penyebab utamanya: ketimpangan antara beban kerja dan penghargaan. Banyak karyawan, terutama generasi muda, merasa tuntutan terus bertambah, tapi gaji dan apresiasi jalan di tempat. Belum lagi kultur “si paling loyal” yang diam-diam mendorong orang untuk kerja melebihi kapasitas, tanpa jaminan imbal balik yang jelas.
Pandemi juga membuka mata banyak orang. Ketika semua hal bisa berubah dalam semalam, prioritas hidup pun ikut bergeser. Kesehatan mental dan waktu bersama keluarga jadi lebih berharga dibanding jam lembur dan bonus tahunan yang tidak pasti. Di tengah tekanan ekonomi, banyak yang mulai sadar: kerja keras tanpa arah hanya bikin lelah.
Quiet Quitting adalah Perlawanan yang Diam-diam Tegas
Fenomena ini sebenarnya bukan bentuk kemalasan, tapi lebih kepada kesadaran akan batasan. Quiet quitting adalah cara anak muda berkata, “Aku cukup dengan apa yang aku kerjakan, sesuai yang dijanjikan di awal.”
Mereka bukan tidak ambisius, tapi tahu kapan harus menarik garis. Daripada terbakar perlahan dalam sistem yang eksploitatif, mereka memilih menyelamatkan diri sendiri terlebih dulu.
Bekerja sewajarnya bukan berarti tidak produktif. Justru dalam batasan yang sehat, produktivitas bisa lebih terjaga. Yang dihindari adalah glorifikasi budaya kerja berlebihan yang ujung-ujungnya hanya membuat orang tumbang secara fisik dan mental.
Akhirnya, Siapa yang Perlu Introspeksi?
Pertanyaannya bukan lagi “kenapa anak muda jadi pemalas?”, tapi “kenapa mereka tidak lagi merasa dihargai untuk memberi lebih?” Quiet quitting bisa jadi alarm bahwa sistem kerja perlu diperbaiki. Bahwa organisasi perlu mengubah pendekatan terhadap kesejahteraan karyawan, bukan sekadar mengejar target.
Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, wajar jika generasi sekarang memilih kerja dengan sadar, bukan sekadar keras. Mereka bukan berhenti peduli, hanya tidak ingin terus mengorbankan diri untuk sistem yang tidak memihak.
Dalam diamnya, quiet quitters justru sedang menyuarakan banyak hal. Tentang pentingnya kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan nilai dari pekerjaan itu sendiri. Mereka bukan pembangkang, tapi pionir dari cara kerja yang lebih beradab.
Karena di dunia kerja yang ideal, bekerja sewajarnya bukan sebuah dosa. Dan mengatakan “cukup” bukan tanda menyerah—tapi tanda bahwa seseorang tahu batasnya, dan itu layak dihargai.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Makin ke Sini Makin Banyak Istilah Baru, Memangnya Kita Paham Konteksnya?
-
Jebakan Repost di Instagram: Saat Kepedulian Sosial Berakhir Menjadi Validasi Digital
-
Dilema Kelas Menengah: Mapan Entah Kapan, Tapi Checkout Bisa Sekarang
-
Ijazah Masih Penting, Tapi Kenapa Dunia Kerja Hanya Melihat Portofolio?
-
Selamat Datang di Era Attention Economy: Ketika Kebenaran Kalah Penting dari Sensasi Viral
Artikel Terkait
-
Ibrahim Assegaf Wafat, Begini Profil dan Karier Suami Najwa Shihab di Dunia Hukum
-
Apa Pekerjaan Suami Najwa Shihab? Punya 3 Profesi yang Disegani
-
Menyingkap Makna Tersembunyi di Balik Great Resignation dan Quiet Quitting
-
Kepuasan Kerja di Persimpangan Etika dan Tekanan Psikologis
-
Etika yang Hilang, Mengapa Tim Kompak Bisa Saling Menikam?
Kolom
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
-
Whoosh dan Jeratan Utang: Antara Siasat Penyelamatan dan Bom Waktu Fiskal
Terkini
-
Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati
-
Redmi Note 17 Series Siap Hadir di Indonesia, Apa yang Membuatnya Istimewa?
-
Bahas Chemistry Instan, Le Sserafim Comeback dengan Lagu 'Made My Night'
-
Anak Sering Minta Jajan? 6 Cara Cerdas Ubah Permintaannya Jadi Pelajaran Uang
-
Bukan Sekadar Film Anak, Iyus Jenius Hadirkan Kembali Lagu Legendaris Papa T.Bob yang Dirindukan