Pernah nggak kamu mencoba untuk recook resep menu andalan ibu tapi rasa masakannya tetap berbeda? Meski melakukannya dengan bahan dan takaran yang sama persis, tapi ada-ada saja yang terasa kurang.
Bisa dikatakan, resep boleh jadi sama, tapi jika dibuat oleh tangan yang berbeda, akan beda cita rasa dan cerita.
Hal itulah yang saya rasakan tiap kali mencoba membuat resep nasi goreng kampung andalan ibu. Telah lewat lebih dari dua dasawarsa sejak mulai terkesan dengan hidangan ini, tetapi nikmatnya masih tetap sama. Tidak tergantikan, dan tidak bisa ditiru oleh buatan tangan siapa pun.
Bagi saya, tidak ada yang mampu menandingi sedapnya aroma dan rasa nasi goreng kampung. Padahal resepnya amat sederhana.
Tidak perlu tambahan kecap manis atau saus yang bermacam-macam. Hanya dengan irisan bawang merah dan sedikit garam, maka nasi goreng kampung yang jadul ini akan menduduki kasta pertama jajaran nasi goreng terenak yang pernah ada.
Saya tidak tahu persis mulai menyukainya sejak kapan. Tapi yang jelas, ingatan tentang masakan ini amat lekat dengan beberapa kenangan saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kala itu hari Senin pagi dan harus mengikuti upacara bendera. Jarak dari rumah ke sekolah memakan waktu 15 menit dengan berjalan kaki.
Saya yang saat itu masih jadi bocah pecicilan yang mager-nya luar biasa sering menjadi sasaran omelan ibu tiap hari. Bagaimana tidak, tiap pagi mesti grasa-grusu, perlengkapan sekolah belum siap, dan seringnya nyaris terlambat ke sekolah karena bangun kesiangan.
Alhasil beberapa kali harus skip sarapan karena diburu waktu. Hingga suatu ketika, terjadilah insiden pingsan saat upacara bendera. Maka sejak saat itu, yang saya sadari, ibu menjadi dua kali lipat lebih galak untuk urusan sarapan pagi.
Perkara sarapan pagi ini membuat bawelnya ibu rasanya mampu mengalahkan toa masjid demi mengingatkan saya agar tidak melewatkan waktu untuk sarapan.
Andalan ibu tentu saja adalah nasi goreng kampung yang sangat sederhana itu. Nasi dingin sisa kemarin yang ditumis dengan bawang merah dan sedikit minyak jelantah, kemudian ditemani segelas teh hangat menjadi menu andalan sarapan satset di rumah ala ibu.
Kalau dipikir-pikir, sejak saat itulah kebiasaan sarapan 'nasi' itu terbentuk. Kalau tidak sarapan sebelum beraktivitas, alamat bakal lemas seharian. Dan jika menu sarapannya bukan nasi, artinya belum sarapan. Begitulah nasi goreng ini akhirnya menjadi amat lekat dengan gambaran sosok ibu.
Lalu setelah dewasa dan hidup di perantauan, nasi goreng ini adalah masakan yang paling saya rindukan dari dapur ibu. Selain karena cita rasa yang khas, selalu ada perasaan hangat ketika mengenang momen masa kecil saat menyantap menu itu sebelum berangkat ke sekolah.
Dari sepiring nasi goreng kampung buatan ibu, ada energi, harapan, dan cinta tanpa pamrih yang melekat di setiap momennya. Meskipun suka galak dan cenderung menerapkan parenting ala VOC, tapi setelah dewasa saya sadar jika sebenarnya hal itu adalah perwujudan dari kepedulian ibu.
Ia adalah tipikal ibu yang tidak terang-terangan menyampaikan bahasa cinta. Tapi wujud cintanya berimplikasi pada aksinya yang bangun amat pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menjamin semuanya beres tanpa terlewat satu pun. Termasuk urusan mengisi perut tiap penghuni rumah.
Ada sentuhan kasih sayang dalam hangatnya nasi yang tersaji di meja makan. Hangatnya kenangan itu melekat bersama momen ketika segalanya terasa lebih mudah dan menyenangkan ketika menyadari di rumah masih ada ibu.
Lalu saat beranjak dewasa, setiap kali perasaan homesick mendera karena rindu dengan kampung halaman, yang paling ngangenin salah satunya adalah kerinduan untuk mencicipi nasi goreng kampung buatan ibu.
Semua itu bukan saja karena rasa yang tak tergantikan, tetapi juga nostalgia yang dihadirkan. Barangkali memang benar bahwa setiap kali sedang memasak, masakan tersebut akan menyerap emosi dari pemasak.
Alasan yang mendasari mengapa saya gagal move on dari nasi goreng kampung yang sederhana ini meski telah berkenalan dengan banyak rupa nasi goreng kekinian. Sebab yang namanya masakan ibu, akan selalu menjadi yang nomor satu.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
-
Soleh Solihun Ungkap Pertemuan Terakhir dengan Gustiwiw: Dia Minta Diwawancara
-
Dibuatkan Film Senyum Manies Love Story, Anies Baswedan Pilih Promosi GJLS
-
Sop Iga Sapi Warisan Mama, Pelajaran Kasih dalam Semangkuk Kuah Hangat
-
Postingan Terakhir Gustiwiw di Medsos, Ngomongin Film GJLS
-
13 Fakta Menarik Gustiwiw, Sosok Kreatif di Balik Genre EnDiKup dan Innalillahi Aaliyah
Kolom
-
Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua
-
Stop Feodal! Dosen Gaul Tak Akan Kehilangan Harga Diri
-
Di Balik Ramainya Nobar Piala Dunia, Ada Ruang untuk Bersosialisasi
-
Kesepian di Era Media Sosial: Koneksi Makin Luas, Kedekatan Makin Langka
-
Registrasi Ulang Pelat Kendaraan: Pelayanan Publik atau Beban Administratif?
Terkini
-
Harry Potter and the Order of the Phoenix: Ketika Visi Gelap Menjadi Nyata!
-
Tokyo Revengers: War of the Three Titans Arc Resmi Umumkan Tanggal Tayang
-
Mengenali Sisi Maritim Indonesia di Buku Sejarah Laut Sulawesi Abad XIX
-
Membongkar Perempuan di Titik Nol: Kisah Nyata yang Lebih Ngilu dari Fiksi
-
Tecno Camon 50 vs Camon 50 Pro 5G: Duel HP Tecno Terbaru 2026, Pilih Mana?