Internet tak pernah kehilangan bahan untuk bercanda, bahkan di tengah kondisi yang sulit. Salah satu tren yang sedang ramai di media sosial Indonesia adalah meme dengan frasa “In This Economy”.
Kalimat ini biasanya muncul setelah pernyataan yang terdengar mustahil, seperti “Nikah muda? In this economy?”, “Healing tiap minggu? In this economy?”, atau “Beli rumah? In this economy?”
Meski terdengar lucu, tren ini menyimpan ironi yang pahit. Di balik kelucuan, tersembunyi rasa frustrasi generasi muda atas kenyataan ekonomi yang kian tidak ramah.
Fenomena ini layak untuk dikaji lebih dalam. Apakah humor adalah cara kita untuk menghindari kenyataan, atau justru bentuk kritik paling jujur dari masyarakat?
Ketika frasa "In This Economy" digunakan dengan nada bercanda, sebenarnya itu adalah cara publik menyuarakan ketidakmampuan mereka untuk hidup ideal di tengah harga yang melonjak, gaji yang stagnan, dan tekanan sosial yang semakin berat. Ini bukan sekadar tren, tapi potret krisis yang dibungkus dalam tawa.
Dari Meme Lucu ke Kritik Sosial
“In This Economy” mungkin berawal dari budaya internet luar negeri, tapi cepat sekali menjadi relevan di Indonesia. Ketimpangan ekonomi, biaya hidup yang tak sebanding dengan pendapatan, dan mimpi-mimpi besar yang terasa makin jauh adalah bahan utama yang membuat meme ini terasa sangat ‘kena’.
Di Twitter dan Instagram, pengguna tak ragu menyelipkan frasa ini untuk menertawakan kenyataan mulai dari susahnya punya tabungan hingga tidak mampu nongkrong rutin. Meme ini menjadi semacam ventilasi sosial, yaitu cara anak muda mengekspresikan tekanan tanpa terkesan terlalu serius.
Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Humor yang muncul dari penderitaan kolektif memiliki daya sentuh yang kuat. “In This Economy” adalah sindiran halus tapi mengena, yang menunjukkan bahwa banyak hal dalam hidup kini terasa tak masuk akal, kecuali jika kamu punya privilege.
Generasi Z dan Biaya Hidup yang Menyesakkan
Mereka yang paling banyak menggunakan meme ini adalah generasi muda, terutama Gen Z dan milenial. Di balik wajah kreatif dan melek digital mereka, tersembunyi kecemasan akan masa depan. Harga rumah melonjak, biaya pendidikan tinggi, utang pinjol, dan tekanan untuk "sukses sebelum 30" membuat banyak dari mereka hidup dalam lingkaran stres yang konstan. Meme “In This Economy” menjadi cara untuk mengatakan, “Kami sadar ini absurd, tapi ini kenyataan kami.”
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa banyak anak muda di Indonesia bekerja di sektor informal, bergaji UMR, atau menjadi pekerja lepas tanpa jaminan. Gagasan tentang membeli rumah, menikah, punya anak, atau bahkan liburan jadi terasa seperti kemewahan yang hanya bisa dicapai segelintir orang. Maka tak heran, ketika ada yang berkata “pindah kerja demi passion”, balasan yang muncul adalah “In this economy?”.
Humor: Pelarian atau Perlawanan?
Pertanyaannya kini adalah apakah penggunaan meme ini hanya sekadar lucu-lucuan? Atau ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam?
Dalam konteks Indonesia, humor memang sudah lama menjadi cara masyarakat merespons tekanan dari kondisi politik hingga harga cabai. Humor bukan hanya pelarian, tapi bisa jadi bentuk perlawanan halus terhadap sistem yang tidak berpihak.
“In This Economy” adalah cara untuk tetap waras di tengah ketidakpastian. Ia adalah bentuk kritik pasif-agresif yang berhasil menyebar tanpa dianggap mengancam. Tapi tentu saja, tawa saja tidak cukup. Meme ini perlu dibaca sebagai sinyal bahwa generasi muda tidak sedang malas, manja, atau tidak tahu diri. Mereka hanya sedang hidup dalam sistem yang tidak adil, dan satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan tertawa.
Meme “In This Economy” adalah cara kita memperlihatkan luka yang kita alami bersama. Di balik candaan itu ada keresahan, ada ketidakpastian, dan ada mimpi yang tergantung karena realita ekonomi yang tidak berpihak.
Mungkin kita belum bisa mengubah keadaan sekarang, tapi dengan mengenali sinyal-sinyal kecil seperti ini, setidaknya kita tahu bahwa kita tidak sendiri. Dan ya, siapa tahu suatu hari nanti kita benar-benar bisa berkata, “Beli rumah? Why not, in this economy.” Gimana menurutmu?
Baca Juga
-
Eksplorasi Batas Sains dan Kedalaman Empati dalam Film Project Hail Mary
-
Berlari Bersama Forrest Gump: Mengapa Ketulusan Adalah Senjata Terkuat Menghadapi Dunia yang Kejam
-
Menakar Kontrol Sosial Masyarakat Modern Lewat Kasus Penyekapan di Bandung
-
Cara Saya Mengubah Kesepian Menjadi Ruang Terbaik untuk Mengenal Diri
-
Cara Saya Menemukan Kembali Makna Proses di Balik Lembar Pengesahan Skripsi
Artikel Terkait
Kolom
-
Syarat Maksimal, Gaji Minimal: Standar Tak Masuk Akal dalam Lowongan Kerja
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Negara Mau Pajak Kreator, Tapi Birokrasinya Masih 'Gagap' Digital?
-
AI Mengubah Cara Kerja Generasi Muda: Peluang atau Malah Ancaman?
Terkini
-
Statistik Laga Prancis vs Maroko: Mbappe CS Harus Waspada Demi Semifinal
-
Doctor on the Edge: Sajikan Sisi Humanis Dunia Medis yang Penuh dengan Tawa
-
Daftar Top Skor Piala Dunia 2026: Siapa yang Pantas Dapat Sepatu Emas?
-
Review Petaka Gunung Welirang: Saat Mitos Lokal Berhasil Digali dengan Apik
-
RAM 24 GB, Kamera OIS, Baterai 8000 mAh! Ini HP Realme Terbaik