Beberapa waktu ini, artis Soimah ramai dibahas warganet setelah menjadi tamu di podcast Raditya Dika. Dalam podcast tersebut Soimah mengaku pernah “mengospek” pacar anaknya. Tak tanggung-tanggung, si pacar yang kelak bisa jadi calon menantu menangis hingga minta putus. Jika kita telisik lebih lanjut, pengalaman Soimah ini bukan sekedar obrolan sepintas lalu. Atau, sekedar turut campus si ibu dengan pacar sang anak.
Cerita Soimah seolah menegaskan drama mertua menantu yang sering terjadi. Hubungan antara mertua dan menantu perempuan meninggalkan jejak panjang patriarki yang melekat di masyarakat kita.
Mengapa? Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, perempuan yang menikah dianggap sebagai tamu pendatang ke “wilayah” keluarga laki-laki (suami). Ada istilah patrilokal yakni sepasang suami-istri yang menikah, keduanya diharuskan untuk tinggal dan menetap di kediaman keluarga suami.
Tradisi ini kemudian memosisikan menantu perempuan tampak lebih rendah sejak awal. Ia dianggap harus menyesuaikan, membuktikan diri, bahkan sanggup menerima kritik tajam dari mertua. Proses “ospek” yang disebutkan Soimah menjadi cerminan nyata bagaimana patriarki bekerja. Perempuan wajib diuji kesetiaannya, bukan karena kualitas diri. Lagi-lagi ini lantaran statusnya sebagai istri dari anak laki-laki.
Jika merujuk studi, hasilnya pun menunjukkan pola serupa. Menantu perempuan sering menjadi objek kontrol, baik dalam urusan rumah tangga atau dalam hal mengasuh anak. Kontrol ini dilakukan oleh ibu mertua, tak semata karena sikap personal. Namun ibu mertua sendiri merupakan perempuan yang dulunya bernasib serupa. Ibu mertua ini kini tanpa sadar mereproduksi pola yang sama terhadap menantunya.
Selanjutnya, kita juga bisa melihat bagaimana hukum dan norma sosial turut menguatkan posisi timpang tersebut. Dalam Undang-Undang Perkawinan Indonesia menyebutkan bahwa suami sebagai kepala keluarga, sedangkan istri ditempatkan pada ranah domestik.
Rumusan itu berdampak yakni perempuan dianggap nomor dua dalam pengambilan keputusan. Sementara saat berada di ranah publik, kemampuannya sering diragukan. Pada gilirannya menantu perempuan lebih sering dipandang sebagai “pembantu baru” daripada individu dengan identitas utuh.
Bila kita bertanya pada perempuan, pengalaman “ujian mertua” ini banyak berwujud dalam hal-hal keseharian. Misalnya, masakan si calon menantu yang kurang sedap, mempersoalkan cara mendidik anak, pilihan pakaian menantu dikritik dll. Hal-hal ini mungkin tampak remeh.
Namun hal itu justru bisa menggerus rasa percaya diri perempuan. Terlebih jika pasangan dalam hal ini suami tidak hadir sebagai penyeimbang. Pada akhirnya menantu terpaksa diam demi menjaga “keharmonisan keluarga.”
Persoalan tadi dianggap sekadar masalah pribadi ternyata bisa mereduksi kenyataan. Bahwa konflik mertua dan menantu perempuan adalah produk dari sistem patriarki. Sistem patriarki mewariskan mewariskan ekspektasi berlapis: perempuan harus tunduk, harus bisa multitugas, hingga rela mengalah. Ketika ada masalah atau gesekan, hampir selalu pihak yang disalahkan adalah si menantu lantaran dianggap tidak pandai menyesuaikan diri.
Lantas apakah hubungan mertua-menantu senantiasa buruk? Tidak juga. Ketika ada komunikasi terbuka dan batas jelas, hubungannya bisa jadi sehat. Mertua bisa berperan sebagai penopang, bukan pengawas. Dengan demikian, menantu bisa merasa diterima sebagai anggota keluarga baru, bukan tamu. Kunci utamanya terletak pada kesadaran untuk tidak lagi mengulang pola patriarkis yang dianggap normal.
Selanjutnya, pasangan atau suami memiliki peran penting. Suami tidak dapat hanya menjadi penonton. Suami berperan menjadi jembatan antara orang tua dan istri. Ia yang seharusnya memastikan hubungan berlangsung adil. Laki-laki harus berani menegaskan bahwa istrinya adalah partner setara, bukan “pemain cadangan”.
Penutup
Akhirnya, cerita Soimah bukan sekadar urusan pribadi dan keluarganya. Sesungguhnya hal itu merupakan cerminan dari banyak rumah tangga di Indonesia. Bahwa hubungan antara mertua dan menantu perempuan erat dengan ujian, tuntutan, dan penuh drama. Dengan demikian, perempuan dalam hal ini istri tak lagi sendirian mendapat label “tidak cocok dengan mertua”. Bukan masalah pribadi, ini perkara sistem yang perlu kita ubah bersama.
Baca Juga
-
Taruna Akmil Latih Sekolah Rakyat: Haruskah Militer Masuk Ranah Pendidikan?
-
Saat Anak SD Harus Ikut Aksi, Apakah Kita Sudah Benar-benar Mendengar Mereka?
-
Saat Jam Tidur Dilonggarkan: Nostalgia Masa Kecil Menonton Piala Dunia dengan Keluarga
-
Mahasiswa Demo Atas Nama Rakyat: Tapi Rakyat yang Mana?
-
Ketika Wapres Gibran Bicara AI: Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Rakyat?
Artikel Terkait
-
Apa Kabar Marshella Aprilia? Mantan Pratama Arhan yang Dulu Ditinggal Nikah
-
Diduga Pacari Jimin BTS, Song Da Eun Pernah Kerja di Bar Milik Seungri eks BIGBANG
-
Aldi Taher Beri Reaksi Bocoran Denny Sumargo Sebut Aktor Inisial A Hamili Pacar
-
Aldi Taher Beri Reaksi Bocoran Denny Sumargo Sebut Aktor Inisial A Hamili Pacar
-
Profil dan Biodata Song Da Eun, Aktris yang Dirumorkan Jadi Pacar Jimin BTS
Kolom
-
Hukum dan Fenomena No Viral No Justice: Kritik atas Kasus KSBE
-
Paradoks Negeri Tambang: Kaya Sumber Daya, tapi Bergantung pada Pajak
-
Gen Z dan Stigma Generasi Pemalas, Apa Benar Masalahnya Sesederhana Itu?
-
Ketika Mengajar Tak Lagi Menjanjikan: Kesejahteraan Guru Terus Tertinggal
-
Slow Living Bagi Gen Z: Tren Viral atau Cara Bertahan dari Tekanan Hidup?
Terkini
-
Selangkah Lagi Juara Dunia, Inikah Waktunya Spanyol Menguasai Sepak Bola?
-
Sulap Stadion dalam Hitungan Jam: Rahasia di Balik Megahnya Panggung Final Piala Dunia 2026
-
Sempat Tak Ada Perkembangan, Serial Animasi Twilight Kini Mulai Casting
-
Sung Han Bin ZEROBASEONE Resmi Didapuk Jadi MC Street World Fighter: Director's War
-
Review Novel Penance: Misteri Pembunuhan yang Menyisakan Luka Seumur Hidup