Tahun lalu aku masih ingat betul rasanya ikut Jakarta World Cinema. Dari sekian banyak acara film yang pernah aku datangi, festival ini punya vibe yang beda. Ada semacam rasa hangat saat bisa nonton film dari berbagai negara, ngobrol dengan sesama penonton di luar studio, dan merasa jadi bagian dari komunitas kecil yang sama-sama cinta sinema.
Dan sekarang, ketika diumumkan bahwa festival ini kembali hadir untuk edisi keempatnya, aku langsung merasa excited.
Jakarta World Cinema 2025 bakal digelar selama sebulan penuh, dari 4 September sampai 4 Oktober. Ada dua bentuk penyelenggaraan, yaitu online lewat KlikFilm dengan 58 film yang bisa dinikmati tanpa keluar rumah, dan offline di CGV Grand Indonesia yang memutar 97 film di lima auditorium.
Kalau ditotal, ada 185 film dari 66 negara. Dari angka itu saja kelihatan kalau skala acaranya semakin berkembang dari tahun ke tahun, dan buat aku pribadi, itu bikin rasa penasaran makin tinggi.
Kalau ditanya apa yang paling membekas dari tahun lalu, jawabannya bukan hanya filmnya, tapi vibes-nya. Duduk di ruangan gelap bareng orang-orang asing, lalu keluar studio dengan percakapan spontan tentang film yang baru ditonton, itu pengalaman yang jarang bisa didapat di luar festival.
Tahun lalu aku bahkan sempat bertemu beberapa penonton yang sama sekali nggak kukenal sebelumnya, tapi bisa ngobrol panjang soal film favorit kami. Sesederhana itu, tapi menyenangkan.
Salah satu hal yang menurutku paling berharga dari Jakarta World Cinema adalah keberaniannya menampilkan film yang mungkin tidak akan pernah mampir ke bioskop komersial.
Tahun lalu aku masih ingat menonton sebuah dokumenter yang membicarakan isu sosial dengan cara yang jujur. Itu bukan jenis film yang bisa dengan mudah ditemui di platform besar. Dari situ aku sadar, festival seperti ini membuka akses ke cerita-cerita yang biasanya berada di pinggiran radar distribusi arus utama.
Dan inilah alasan kenapa aku menantikan edisi 2025. Karena sekali lagi, aku ingin keluar dari rutinitas tontonan yang biasanya dikurasi algoritma.
Kita semua tahu bagaimana platform streaming besar bekerja, menyodorkan film atau serial yang mirip dengan yang sebelumnya kita tonton. Itu nyaman, tapi lama-lama juga bisa bikin kita terjebak di lingkaran yang sama.
Sementara di festival, pilihannya jauh lebih acak dan berani. Kita bisa menemukan film dari negara yang bahkan jarang kita dengar kabarnya, atau karya sutradara baru yang penuh eksplorasi.
Tahun lalu aku pulang dengan daftar panjang sutradara dan film baru untuk ditonton, dan aku rasa tahun ini akan lebih gila lagi.
Jakarta World Cinema 2025 juga memberi ruang bagi eksplorasi genre. Tidak hanya film panjang yang serius, tapi juga film pendek, animasi, bahkan dokumenter yang menantang cara pandang.
Bagi penonton seperti aku, ini kesempatan untuk melatih kepekaan. Kadang film yang durasinya hanya 15 menit bisa meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada film berdurasi dua jam.
Mungkin karena itu juga aku menunggu-nunggu September ini. Rasanya seperti menunggu menunggu teman lama yang membawa cerita baru. Ada rasa penasaran, ada rasa rindu, sekaligus ada ekspektasi.
Jakarta World Cinema 2025 buatku adalah bukti kalau film masih punya kekuatan untuk mempertemukan orang-orang, membuka percakapan, dan menghidupkan kembali rasa penasaran terhadap dunia. Dan aku nggak sabar untuk kembali duduk di kursi studio, membiarkan layar besar jadi panggung bagi cerita-cerita baru.
Kalau tahun lalu pengalaman festival ini masih membekas sampai sekarang, aku jadi penasaran, kira-kira cerita apa yang akan kubawa pulang tahun ini?
Baca Juga
-
Lailatul Qadar vs Algoritma: Menjaga Fokus di Tengah Badai Notifikasi
-
12 Tahun Suara.com: Saat Yoursay Menjadi Bukti bahwa Suara Kita Berharga
-
Di Balik Target Khatam: Bicara Jujur tentang Ramadan dan Privilege Ibadah
-
Prabowo Bilang 'Siap-Siap Sulit', Rakyat Menjawab: 'Pak, Kami Sudah Sulit!'
-
Hari Perempuan Internasional: Saatnya Berhenti Membeli Narasi Kesempurnaan
Artikel Terkait
-
Perkuat Persatuan Anggota, PB PARFI Lakukan Perubahan Penting Ini
-
Teaser Film A House of Dynamite: Teror Nuklir Menghantui Amerika Serikat
-
Dorong Ekonomi Kawasan Timur, Manado Marketing Festival 2025 Sorot Peran Strategis Sulut
-
Sinopsis Film 'Mt. Fuji and Happiness Code', Dibintangi Issei Mamehara
-
Review Film The Conjuring: Last Rites, Penutup Seri Horor yang Menyeramkan!
Kolom
-
Evolusi Doa: Saat Saya Berhenti Meminta Dunia dan Mulai Meminta Ketenangan
-
Siomay Bukan Dimsum: Memahami Istilah yang Tertukar dalam Kuliner Tiongkok
-
Mudik Jalur Sabar: Tutorial Gak Emosi Pas Macet Demi Sepiring Opor Ibu
-
Keresahan Sarjana Pendidikan: Haruskah Jurusan Menjadi 'Penjara Profesi'?
-
Lapar Mata saat Berbuka: Kenapa Makanan Terlihat Lebih Menggoda saat Puasa?
Terkini
-
Sholat Ied atau Khutbah Dulu? Ini Hukum jika Tidak Mendengarkan Ceramah
-
Pelukmu Sementara, Hatiku Selamanya: Surat Cinta Pamungkas Vidi Aldiano yang Menembus Batas Waktu
-
Mengungkap Kedok Maskapai Super Buruk di Novel Efek Jera Karya Tsugaeda
-
Tayang 24 April, Girl from Nowhere Kembali Hadir Versi Remake Jepang
-
4 Sheet Mask Korea Tea Tree untuk Kulit Berminyak Atasi Jerawat dan Iritasi