Irama dangdut kini hadir dengan wajah baru yang lebih segar dan dekat dengan gaya hidup anak muda. Lewat sentuhan remix, beat elektronik, hingga lirik yang relate dengan Gen Z, lahirlah hipdut.
Hipdut merupakan salah satu genre musik dengan perpaduan hip-hop dan dangdut yang sukses memikat hati Gen Z. Dari TikTok hingga Spotify, genre ini jadi bukti bahwa dangdut mampu terus beradaptasi dengan tren zaman.
Dari TikTok ke Tren Musik Gen Z
Genre ini mulai memuncak pada akhir tahun 2024 hingga 2025 usai salah satu lagu hipdut yang berjudul “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” oleh Tenxii, Naykilla, dan Jemsii populer di kalangan Gen Z. Lagu ini menggabungkan beat hip-hop yang menghentak dengan nuansa dangdut yang khas, serta berhasil menarik perhatian jutaan pendengar dengan 203 juta streaming di Spotify dan digunakan dalam 641 ribu video di TikTok.
Hipdut hadir sebagai warna baru yang segar di tengah dominasi musik pop dan K-pop di kalangan Gen Z. Perpaduan beat hip-hop yang energik dengan cengkok dangdut membuat genre ini terasa unik sekaligus familier di telinga. Tak heran jika hipdut cepat menanjak popularitasnya, terutama melalui platform digital yang menjadi media utama bagi anak muda untuk menemukan musik baru.
Genre hipdut juga menunjukkan bagaimana musik lokal mampu menyesuaikan diri dengan ekosistem digital. Potongan lagu dan liriknya yang catchy cenderung menarik untuk dipakai sebagai backsound konten, sementara ritme yang cepat membuatnya cocok untuk tren joget di TikTok maupun Reels. Dari situ, hipdut tak hanya jadi musik pengiring, tapi juga bagian dari budaya populer Gen Z.
Berkembangnya genre hipdut juga tidak lepas dari peran media sosial sebagai ruang distribusi utama. Lagu-lagu baru lebih cepat dikenal publik karena langsung viral melalui potongan video pendek, hingga remix ulang oleh kreator musik independen. Hal ini membuat hipdut tidak hanya bertahan di satu momen, tapi terus menemukan cara baru untuk hadir di telinga pendengar.
Fenomena ini sekaligus menjadi bukti bahwa musik lokal bisa bersaing dengan genre global. Jika K-pop atau rap barat menguasai chart, hipdut hadir sebagai alternatif dengan identitas khas Indonesia yang dibalut modernitas. Gen Z, dengan gaya hidup digital dan rasa ingin tahu yang tinggi, menjadi pelaku utama yang mendorong hipdut untuk semakin populer.
Lebih dari sekadar hiburan, hipdut memperlihatkan adanya pergeseran selera generasi muda terhadap musik. Mereka tidak lagi membatasi diri pada genre global, melainkan merangkul musik dengan identitas lokal yang dibungkus secara kekinian. Dengan cara itu, hipdut berhasil menjembatani tradisi dan modernitas dalam satu alunan yang sama.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana dangdut mampu bertransformasi mengikuti arus zaman. Dari panggung offline hingga ruang virtual, hipdut membuktikan bahwa musik lokal tidak kehilangan daya tariknya, justru semakin relevan dengan gaya hidup digital generasi muda.
Di balik popularitasnya, hipdut juga memperlihatkan bagaimana musik bisa menjadi medium untuk menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Gen Z yang lekat dengan dunia digital justru menemukan ruang baru untuk merayakan musik lokal lewat cara mereka sendiri.
Kehadiran hipdut membuktikan bahwa dangdut tidak pernah benar-benar kehilangan tempat, hanya berganti wajah sesuai zamannya. Dari era kaset, televisi, hingga kini layar ponsel, dangdut selalu menemukan cara untuk tetap hidup. Bedanya, kini genre itu hadir dengan energi baru yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda.
Hipdut membuktikan bahwa dangdut bisa beradaptasi dan tetap relevan di era digital. Dengan wajah baru yang segar dan dekat dengan Gen Z, genre ini merupakan salah satu alternatif untuk terus menghidupkan musik lokal di era digital.
Baca Juga
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Diduga Selingkuh Lagi, Jennifer Coppen Singgung Sosok Jule di Live
Artikel Terkait
-
The Panturas Tuai Kritik: Tolak Pestapora karena Freeport, Tapi Manggung di Event Sponsor Sama
-
Mengekspresikan Diri Lewat Nada: Musik sebagai Bahasa Gen Z
-
Makan Sambil Nonton Jadi Gaya Hidup Baru Gen Z
-
Protes Gen Z di Nepal: Refleksi Kritis tentang Empati dan Keadilan Sosial
-
Nepal Membara: 5 Fakta Gokil Demo Gen Z yang Bikin PM Mundur Hingga Bakar Gedung Parlemen!
Kolom
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
Membongkar Mitos Kota Metropolitan: Apakah Masih Menjanjikan Masa Depan yang Lebih Baik?
-
Publik Figur dan Moral Publik: Sampai Mana Kita Berhak Menuntut Sempurna?
-
Mengecam Konten "Sewa Pacar" Libatkan Pelajar
-
Antara Empati dan Superioritas: Mengembalikan Makna Volunteer yang Berdampak
Terkini
-
Prof. Zainal Arifin Mochtar: Menjaga Akal Sehat di Tengah Kemunduran Demokrasi
-
Novel Jangan Bercerai, Bunda: Sebuah Cermin Retak Rumah Tangga
-
Comeback BTS Cetak Sejarah! Pre-Order Album ARIRANG Tembus 4 Juta Kopi dalam Seminggu
-
Rilis di Tiongkok, Vivo Y500i Ditenagai Baterai 7200 mAh dan Isi Cepat 44W
-
Kulit Kering? 5 Rekomendasi Body Butter Shea Butter Terbaik Mulai Rp 20 Ribuan