Ada satu kenyataan kecil yang sering kita lewatkan ketika bicara soal bullying, yaitu tidak semua pelakunya adalah orang jahat.
Kadang, yang melontarkan ejekan, ikut menertawakan korban, atau berdiri pasif di belakang lingkaran keributan itu sebenarnya orang yang dikenal ramah, suka membantu, atau tidak pernah punya niat membuat siapa pun terluka.
Mereka hanya… ikut arus. Atau lebih tepatnya, mereka terseret arus.
Fenomena ini muncul hampir di semua lingkungan, mulai dari sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan grup chat keluarga. Dan yang membuatnya lebih rumit, sobat yoursay, adalah fakta bahwa banyak tindakan bullying dilakukan tanpa kesadaran.
Seolah-olah kita menekan tombol autopilot, tertawa ketika orang lain tertawa, dan menyindir karena semua orang sedang menyindir, begitu lah cara berteman.
Di titik inilah, orang baik dapat berubah menjadi kaki tangan budaya toxic, bukan karena sifat asli mereka, tapi karena situasi sosial memintanya.
Remaja lebih mungkin ikut merundung jika sedang ingin mempertahankan posisi sosial di kelompoknya. Mirip seperti ritual keanggotaan tak tertulis, kalau kamu ingin dianggap bagian dari lingkaran, tertawalah pada lelucon mereka, bahkan ketika yang dijadikan bahan tertawaan adalah temanmu sendiri.
Dalam lingkungan seperti ini, sopan santun bisa terasa aneh, dan empati bisa terdengar berlebihan. Ada alasan kenapa banyak orang bilang, “Aku sebenarnya enggak setuju, tapi ya… semua orang juga begitu.”
Sobat yoursay, saat itulah seseorang bisa melakukan bullying tanpa pernah merasa sedang membully.
Coba kita tarik satu adegan yang mungkin pernah kamu lihat sendiri. Di sekolah, di kelas, di kantor, atau di tongkrongan.
Seseorang membuat komentar, “Dia polos banget, gampang dibego-begoin.”
Lalu yang lain ikut tertawa karena tak ingin menjadi satu-satunya yang diam. Ada yang ikut menambahkan, “Iya, betulan lugu.”
Ada yang hanya tersenyum kaku, tapi senyum itu cukup untuk menunjukkan “aku ikut di pihak yang aman.”
Padahal mungkin di dalam hati mereka muncul bisikan, “Kok kasihan ya? Kayaknya enggak pantas deh ngomong gitu.”
Namun bisikan itu tenggelam oleh kebisingan keinginan untuk diterima.
Beginilah rantai sosial bekerja. Kadang, pelaku utama bullying hanya satu orang. Tapi pelaku tidak langsungnya bisa sepuluh, dua puluh, bahkan seluruh kelompok. Dan ironisnya, justru kelompok yang besar itu membuat korban merasa semakin kecil.
Yang luput dibicarakan adalah perasaan bersalah setelahnya. Banyak orang baik yang akhirnya pulang dengan kepala penuh tanya, “Tadi aku keterlaluan enggak ya?” atau “Kok aku ikut-ikutan sih?” atau “Padahal aku enggak suka kalau orang digituin.”
Namun perasaan bersalah tidak otomatis mengubah keadaan.
Sobat yoursay, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru sebaliknya, ini untuk mengajak kita melihat diri sendiri tanpa defensif, tanpa merasa harus sempurna.
Tidak ada manusia yang selalu benar. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Yang ada hanyalah manusia yang mau memperbaiki diri, dan manusia yang memilih mengulang pola lama.
Coba tanya diri sendiri, apakah aku pernah menertawakan seseorang yang tidak ikut tertawa? Apakah aku pernah diam ketika seseorang direndahkan di depan banyak orang? Apakah aku pernah menghibur diri dengan alasan “itu cuma bercanda” padahal hatiku tahu itu tidak lucu?
Tidak perlu panik jika jawabanmu adalah “iya.” Banyak orang baik pun menjawab hal yang sama. Yang penting adalah apa yang dilakukan setelahnya.
Kampanye Safe Space Starts With You adalah ajakan untuk merawat keberanian kecil, keberanian berkata, “Gue skip deh ngatain orang,” keberanian tidak tertawa pada lelucon yang menyakitkan, dan keberanian mengalihkan topik ketika suasana mulai toxic.
Perubahan budaya tidak selalu harus dimulai dari kerumunan. Terkadang ia dimulai dari satu orang yang berani menolak ikut-ikutan.
Dan bayangkan jika satu orang itu adalah kamu.
Baca Juga
-
Akselerasi Mimpi di Negeri yang Hobi Menunda: Sebuah Catatan Kritis
-
Negara yang Takut Program Gagal, tapi Tidak Takut Kehilangan Honorer
-
Bahaya Kecemburuan Kebijakan: Saat Honorer Lama Merasa Dianaktirikan
-
Bahagia Versi Siapa? Mempertanyakan Klaim Prabowo di Swiss Tentang Rakyat RI
-
Polemik Anies dan Kemenhut: Benarkah Negara Memfasilitasi Perusakan Hutan?
Artikel Terkait
-
Budaya Diam di Sekitar Kita: Mengapa Perilaku Bullying Terus Terjadi?
-
Bukan Sekadar Anak Nakal: Kupas Luka Psikologis di Balik Pelaku Bullying
-
Workplace Bullying: Perundungan yang Dianggap Normal di Kantor, Relate?
-
Cantik Itu Luka: Mengapa Orang Rupawan Juga Bisa Jadi Korban Bullying?
-
Kritik Sosial Drama 'Revenge of Others': Cermin Bullying, Sekolah dan Luka
Kolom
-
Membongkar Mitos Kota Metropolitan: Apakah Masih Menjanjikan Masa Depan yang Lebih Baik?
-
Publik Figur dan Moral Publik: Sampai Mana Kita Berhak Menuntut Sempurna?
-
Mengecam Konten "Sewa Pacar" Libatkan Pelajar
-
Antara Empati dan Superioritas: Mengembalikan Makna Volunteer yang Berdampak
-
UMK Naik, Hidup Tetap Berat: Ketika Angka Tak Pernah Mengejar Realitas
Terkini
-
Kulit Kering? 5 Rekomendasi Body Butter Shea Butter Terbaik Mulai Rp 20 Ribuan
-
Novel Le Petit Prince: Potret Kehidupan Dewasa dari Kacamata Pangeran Cilik
-
Work oleh no na: Semangat Kerja Keras dan Rayakan Pencapaian Diri
-
Bela Lula Lahfah, Reza Arap Tanggapi Tudingan 'Teman Mantan Istri Diembat' dengan Emosional
-
Guncang Panggung! Teater Nala di SMA Negeri 1 Purwakarta Tuai Apresiasi