“Pejuang pulang Jumat, kembali Ahad.”
Ungkapan ini akrab di telinga banyak mahasiswa perantau. Setiap akhir pekan, sebagian dari mereka memilih pulang kampung meski hanya sebentar.
Perjalanan bolak-balik dari kos ke rumah memang melelahkan, tetapi bagi mereka justru itulah cara untuk menghilangkan penat.
Pulang berarti kembali menemukan kehangatan, suasana rumah, dan tentu saja masakan orang tua. Fenomena inilah yang sering disebut homesickness.
Homesickness adalah perasaan rindu akan suasana kampung halaman yang membuat seseorang kesulitan beradaptasi, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungan baru.
Kondisi ini umum terjadi pada mereka yang baru pertama kali hidup jauh dari keluarga. Mahasiswa baru, misalnya, kerap merasakan gejala ini karena harus dipaksa mandiri di tanah rantau.
Bagi yang terbiasa berkumpul dengan orang tua dan saudara, kesepian di kos bisa terasa menyiksa. Hal-hal sederhana seperti aroma masakan di rumah mampu membangkitkan kerinduan mendalam.
Tak heran banyak mahasiswa rela pulang hanya untuk sekadar menikmati kembali masakan ibu atau merasakan suasana rumah meski hanya dua hari.
Fenomena ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satunya unggahan TikTok @urhermosa (11/11/2023) yang memparodikan dirinya pulang kampung setiap Jumat sore. Video tersebut mendapat banyak komentar warganet.
“Pulang untuk mencicipi masakan mami dan menjadi tuan putri dua hari,” tulis seorang warganet. Sementara yang lain menambahkan, “Pulang capek, tapi kalau nggak pulang tambah capek.”
Penyebab Homesickness
Melansir dari Alodokter, ada beberapa faktor yang memicu munculnya homesickness pada perantau:
1. Perubahan kebiasaan
Tinggal jauh dari rumah berarti harus meninggalkan rutinitas yang sudah melekat. Tidak ada lagi yang membangunkan di pagi hari, tidak ada makan bersama keluarga, hingga terbiasa makan seorang diri.
2. Perbedaan budaya
Perbedaan tradisi dan kebiasaan dengan daerah asal juga memicu homesickness. Misalnya, perbedaan cara merayakan hari besar seperti Idul Fitri bisa terasa asing dan membuat seseorang semakin rindu rumah.
3. Sulit beradaptasi di lingkungan baru
Bertemu orang-orang baru bukan hal mudah bagi sebagian orang. Proses membangun pertemanan memerlukan waktu, dan pada masa inilah rasa kesepian sering muncul.
4. Merasa asing di tanah rantau
Bahkan setelah bertahun-tahun tinggal, sebagian perantau tetap merasa asing karena jauh dari keluarga dan orang-orang tercinta. Akibatnya, tanah rantau sulit dianggap sebagai “rumah kedua.”
Cara Mengatasi Homesickness
Psikolog Muthmainah Mufidah melalui akun TikTok @arsanara.id (21/12/2023) menjelaskan bahwa homesickness erat kaitannya dengan koneksi kita terhadap rumah.
“Tinggal jauh dari rumah itu tidak mudah, perjuangan sekali. Kesepian terasa sekali juga. Jadi aku sangat mengapresiasi teman-teman yang berjuang bertahan,” ujarnya.
Menurutnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Ingat alasan merantau
Ketika rasa sepi atau rindu datang, coba kembali mengingat tujuan awal. Ada mimpi atau kebaikan apa yang sedang diperjuangkan? Dengan begitu, kita bisa kembali kuat menghadapi tantangan.
2. Sadari bahwa emosi itu sementara
Rasa sedih, sepi, atau kangen tidak akan berlangsung selamanya. Sebagaimana kita pernah melewati emosi tidak menyenangkan sebelumnya, homesickness pun akan bisa dilalui.
3. Bangun koneksi di tempat baru
Cobalah membawa sedikit nuansa rumah ke rantau, misalnya menaruh barang kesayangan dari rumah atau melakukan kebiasaan yang sama seperti memasak di akhir pekan. Hal kecil ini membantu menjaga ikatan emosional dengan rumah tanpa harus selalu pulang.
Homesickness adalah bagian wajar dari perjalanan hidup merantau. Rasa rindu pada rumah dan keluarga memang berat, tetapi justru dari situlah proses pendewasaan dimulai.
Pada akhirnya, pulang bukan sekadar melepas rindu, tetapi juga mengisi kembali energi untuk terus berjuang meraih mimpi.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Debut Film Horor, Michelle Ziudith AlamiSakit Misterius hingga Lima Hari
-
Sering Disalahartikan, Ini Makna Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan dari Idgitaf!
-
Kisah Dokter Gia Pratama Keluarkan Koin di Leher Balita Pakai Kateter Urin
-
Siap Menikah, Ranty Maria dan Rayn Wijaya Siapkan Live Streaming untuk Fans
-
Antara Sayang dan Sakit: Mengapa Orang Tetap Bertahan dalam Hubungan Toxic?
Artikel Terkait
-
Sukses KKL, Mahasiswa Fakultas Hukum dan Komunikasi Belajar Langsung dari Industri Hingga Praktisi
-
Campus League Diluncurkan, Futsal Jadi Cabor Perdana yang Dipertandingkan
-
Mahasiswa UNY Ciptakan Aplikasi G-Waqf, Inovasi Wakaf Hijau untuk Solusi Ekologis Islam
-
Misteri Hilangnya Mahasiswa UI Terungkap: Ternyata Malu karena Skripsi Belum Beres
-
Dari Reformasi Sampai Gen Z: Kisah FODIM, Komunitas Kritis yang Tak Lekang Waktu di Atma Jaya
Kolom
-
Anatomy of Curiosity: Saat Kemalangan Orang Lain Menjadi Kepuasan Otak Kita
-
Seteguk Kopi di Tengah Peluh, Jeda Singkat Seorang Pekerja
-
Analisis Film Dirty Vote II O3: Antara Pasal KUHP dan Krisis Demokrasi
-
Diplomasi vs Realitas: Menakar Nyali Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
-
Wacana Pilkada oleh DPRD, Kedaulatan Rakyat di Persimpangan Pilihan?
Terkini
-
Besek Nasi dan Doa yang Pelan-Pelan Naik ke Langit
-
Bus yang Tidak Ingin Mengucapkan Selamat Tinggal
-
Misteri Pemuda Berjaket Levis di Dekat Pohon Mahoni
-
Bukan Sekadar Horor Biasa, Film Alas Roban Padukan Mitos Lokal dan Teror Psikologis
-
RedMagic 11 Pro Tembus 4 Juta AnTuTu, Seberani Apa Performa HP Gaming Ini?