Dunia saat ini sudah seperti kampung kecil. Apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa langsung diketahui hanya dalam hitungan detik lewat layar ponsel. Itulah globalisasi—era keterhubungan tanpa batas yang memengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. Di satu sisi, globalisasi membuat hidup jadi lebih mudah dan serba cepat. Namun di sisi lain, ia juga membawa tantangan besar bagi jati diri bangsa, terutama bagi Generasi Z, generasi muda yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010.
Generasi Z sering disebut sebagai “anak internet”. Mereka lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa. Segala hal bisa mereka dapatkan dengan satu sentuhan di layar smartphone. Mereka terbiasa belajar, bekerja, dan bersosialisasi di dunia digital. Tapi, di balik kecanggihan itu, ada kekhawatiran yang mengintai: semakin menurunnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air.
Menurut penelitian Hasrian, Akbar, dan Raharjo (2024) dalam Civil and Military Cooperation Journal, arus globalisasi membuat budaya asing masuk tanpa batas. Musik, film, gaya hidup, hingga cara berpikir dari luar negeri dengan mudah diterima oleh generasi muda Indonesia. Banyak anak muda kini lebih hafal lagu K-Pop daripada lagu perjuangan, lebih tahu soal budaya Korea atau Barat daripada tradisi daerahnya sendiri. Fenomena ini menjadi tanda bahwa sebagian anak muda mulai kehilangan koneksi emosional dengan budayanya.
Padahal, nasionalisme bukan sekadar kata “cinta tanah air” yang diucapkan di upacara bendera. Ia adalah semangat dan kesadaran bahwa kita hidup dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Dulu, generasi sebelum kemerdekaan rela mengorbankan nyawa untuk mempersatukan bangsa yang beragam. Kini, perjuangan itu tidak lagi berbentuk perang fisik, tetapi bagaimana mempertahankan jati diri bangsa di tengah derasnya pengaruh global.
Hasrian dkk. menegaskan, menumbuhkan kembali nasionalisme di kalangan Generasi Z tidak bisa dilakukan dengan cara-cara lama yang kaku, apalagi dengan melarang mereka menggunakan teknologi. Generasi ini tidak bisa dipisahkan dari dunia digital. Justru teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat penanaman nilai kebangsaan. Misalnya, membuat konten kreatif tentang budaya lokal di TikTok, mengunggah video edukatif tentang sejarah Indonesia di YouTube, atau menciptakan tren fashion yang terinspirasi dari batik dan kain tradisional. Dengan cara ini, semangat cinta tanah air bisa ditanamkan lewat media yang dekat dengan keseharian mereka.
Selain itu, pendidikan juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter nasionalis. Sekolah dan kampus tidak cukup hanya mengajarkan teori tentang Pancasila dan sejarah. Nilai-nilai kebangsaan harus dihidupkan dalam praktik nyata—seperti gotong royong, toleransi, dan kerja sama dalam kegiatan sosial. Guru dan orang tua juga berperan besar sebagai panutan. Mereka harus menjadi contoh nyata dalam menumbuhkan kebanggaan terhadap bangsa dan budaya sendiri.
Penelitian Hasrian dkk. juga menyoroti pentingnya mendorong generasi muda untuk mencintai produk lokal. Dengan mengembangkan dan menggunakan produk buatan dalam negeri, Generasi Z bisa menunjukkan kebanggaan terhadap karya anak bangsa. Festival budaya, lomba seni tradisional, hingga kampanye digital bertema “Bangga Buatan Indonesia” bisa menjadi sarana keren untuk menumbuhkan semangat itu.
Namun, penting untuk diingat bahwa mencintai budaya sendiri tidak berarti menolak budaya luar. Nasionalisme di era globalisasi justru berarti mampu menjadi bagian dari dunia tanpa kehilangan identitas. Generasi Z bisa tetap menikmati budaya luar, selama mereka tetap berakar pada nilai-nilai bangsa. Mereka bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokal dan global.
Seperti disimpulkan oleh Hasrian, Akbar, dan Raharjo (2024), globalisasi memang tak bisa dihindari, tetapi nasionalisme harus tetap menjadi fondasi utama agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, memperkuat pendidikan karakter, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya dan produk lokal, Generasi Z dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa.
Di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan terbesar bukanlah bersaing dengan dunia luar, melainkan menjadi diri sendiri tanpa kehilangan Indonesia di dalam hati.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
-
Sumpah Pemuda di Era Globalisasi, Jati Diri Bangsa Terancam?
-
Pendidikan di Era Global: Belajar dari Dunia, tapi Tetap Jadi Diri Sendiri
-
Kesejahteraan atau Keterasingan? Gen Z dan Paradoks di Tengah Badai Digital
-
Dosen Filsafat Ungkap: Media Sosial Jadi Arena Politik Baru Generasi Z
-
Generasi Z dan Karier Tanpa Tali: Kenapa Job-Hopping Jadi Strategi?
Kolom
-
Piala Dunia Bukan Sekadar Hiburan, Bisa Bantu Melepas Stres?
-
PPDB Jabar 2026 Kacau, Dedi Mulyadi Semprot Dinas Pendidikan: Seperti Ikan Gurame di Laut!
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
-
Budiman Sudjatmiko dan Mahasiswa: Siapa yang Gagal Berdialog?
Terkini
-
Top Scorer Piala Dunia 2026: Messi Pimpin, Haaland dan Mbappe Mengintai
-
Shadow Beauty: Sinematografi Dingin yang Menguak Misteri Sang Influencer
-
Catat Tanggalnya! Intip Keseruan Event Besar Thai Festival Jakarta 2026
-
The Cat and the Dragon Ungkap PV Pertama dan 3 Seiyuu Baru, Tayang 4 Juli
-
Novel Kiki's Delivery Service Resmi akan Diadaptasi Jadi Serial Live-Action