Kadang aku merasa dunia perfilman kita sedang bercermin di kaca yang retak. Di satu sisi, ada Film Pangku yang lembut, manusiawi, dengan kepekaan emosi yang jarang dimiliki film lokal lain. Di sisi lain, ada Film Sosok Ketiga: Lintrik, horor yang dengan segala kengerian dan mistiknya berhasil menarik ratusan ribu penonton hanya dalam satu hari. Dua film yang berdiri di ujung spektrum yang sama, tapi menerima nasib yang bertolak belakang. Dan di tengah-tengahnya, aku cuma bisa menghela napas panjang, bertanya-tanya kenapa kualitas kalah dari kuantitas?
Jujur saja, ada yang ironis dalam cara pasar film kita bekerja. Film yang membuat orang berpikir, merasa, dan menatap diri sendiri di layar sering kali ditinggalkan (sepi), sementara film yang isinya cuma menakut-nakuti justru diburu.
‘Pangku’ ibarat lahir dari ruang keheningan dan kejujuran Sutradara Reza Rahadian yang berani mengajak kita melihat relasi manusia dengan cara yang rawan dan rapuh. Namun, di era ketika hiburan harus cepat, keras, dan viral, film semacam ‘Pangku’ seolah-olah dianggap terlalu sunyi untuk menarik perhatian.
Masalahnya bukan semata-mata soal selera sih, tapi cara kita memandang film itu sendiri. Di banyak negara, sinema adalah medium untuk berdialog yang berkaitan tentang manusia, luka, dan kehidupan. Di sini (Indonesia), sinema sering direduksi jadi pelarian alias sesuatu yang harus menghibur, menegangkan, atau bikin teriak. Makanya film dengan keheningan emosional seperti ‘Pangku’ mungkin dibilang ‘nggak seru’, ‘nggak laku’, atau ‘terlalu berat’. Padahal di balik keheningannya, ada hal yang jauh lebih berani daripada menampilkan hantu di pojok ruangan, yakni keberanian untuk membuat penonton duduk diam dan merasakan.
Sayangnya, mungkin memang (penonton kita) belum terbiasa dengan rasa itu. Gitu deh, Film Sosok Ketiga: Lintrik memang cocok jadi pelarian hiburan yang seru dan menyenangkan, tapi nggak menuntut apa-apa. Penonton mungkin bisa berteriak bebas, lalu pulang tanpa beban. Sementara ‘Pangku’ meninggalkan ruang kosong di dada, dan sebagian orang nggak tahu harus berbuat apa dengan perasaan semacam itu.
Yang bikin lebih miris, industri film kita ikut terjebak dalam logika angka. Sutradara, produser, sampai jaringan bioskop akhirnya lebih percaya pada film yang menjanjikan (rame) daripada film yang menawarkan kedalaman. Horor dianggap aman karena selalu punya pasar. Sementara drama, terutama yang jujur dan lembut, dianggap berisiko. Akibatnya, kita nonton film demi ‘laku’, bukan demi ‘rasa’. Dan perlahan-lahan, kita mungkin akan kehilangan keberanian sines membuat film yang benar-benar ingin bicara sesuatu.
Aku nggak menyalahkan penonton sepenuhnya. Siapa sih yang nggak mau hiburan? Cuma masalahnya, ketika pasar hanya dihuni film yang isinya menakut-nakuti, penonton pastinya kehilangan kesempatan untuk mengenal jenis keindahan genre yang lain.
Film kayak ‘Pangku’ seharusnya jadi tempat kita duduk, diam, lalu menyadari bahwa kehidupan bisa sesederhana genggaman tangan dan sekompleks perasaan yang nggak sempat diucapkan. Sayangnya, film seperti itu harus redup sama yang lebih viral.
Dan ya, hasil akhirnya miris tapi nyata. Film yang dikagumi kritikus, dipuji karena sinematografinya yang hangat dan aktingnya yang murni, malah sepi penonton. Sedangkan film yang disebut ‘biasa saja tapi seru dengan twist menjengkelkan’, melesat begitu saja.
Betewe, ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang bagaimana apresiasi kita terhadap film yang makin sempit. Seolah-olah film hanya dianggap sukses kalau menghasilkan angka besar, bukan makna yang panjang.
Padahal film bagus itu seperti surat panjang yang ditulis dengan tangan. Butuh waktu untuk dibaca, dirasakan, dan diingat. Sementara film horor komersial lebih seperti pesan singkat di layar ponsel yang langsung dibuka, bikin jantung berdebar, lalu dilupakan.
Oke deh. Satu hal, aku percaya Film Pangku nggak akan mati begitu saja. Akan bertahan lewat percakapan kecil di antara penonton yang tersisa, lewat tulisan-tulisan seperti ini, lewat orang-orang yang masih peduli dan paham ‘apa itu film bagus dan berkualitas’. Mungkin jumlah penontonnya kalah, tapi gema emosinya lebih panjang. Jadi biarlah film horor mistis terus berpesta angka.
Kira-kira Sobat Yoursay mau nonton Film Pangku atau Film Sosok Ketiga: Lintrik?
Baca Juga
-
Modal Cerita Kosong, Mortal Kombat II Bukti Hollywood Salah Arah
-
Kukungan Emosi dalam Set Terbatas Film Kupeluk Kamu Selamanya
-
Saat AI Merasuki Dunia Seni: Sineas dan Seniman di Ambang Kehilangan Diri
-
Saat Algoritma Lebih Berkuasa, The Devil Wears Prada 2 Terasa Lebih Relevan
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
Artikel Terkait
-
Bioskop Era Baru: Saat Film Terasa Lebih Hidup dan Nyata di Layar Raksasa
-
Film The First Ride: Komedi Chaos, Persahabatan Hangat, dan Twist Emosional yang Tak Disangka
-
Review Film Kuncen: Teror Nggak Kasatmata dari Lereng Merbabu
-
Sinopsis Film Boss, Upaya Kocak Menolak Jadi Ketua Gangster
-
Review Film Pangku: Menyelami Dilema Ibu Tunggal di Pantura yang Terlalu Realistis
Kolom
-
Obral Izin Masuk Berujung Bencana: Ketika Bandar Judi Internasional Menyamar Jadi Wisatawan
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?
-
Kedaulatan di Ujung Algoritma: Alasan Saya Stop Mengikuti Rekomendasi FYP
-
Flexible Working Hour dan Batas Hidup Pekerja yang Semakin Kabur
-
Membaca di Era Digital: Masih Penting atau Mulai Dilupakan?
Terkini
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Wajah Glowing Instan! Ini Rahasia Eksfoliasi Lembut dengan Ekstrak Apel
-
Dunia Koas yang Mencekam: Mengapa Gudang Merica Jadi Film Horor Paling Ditunggu di 2026?
-
Ketika Jurnalisme Bertemu Konspirasi Kelas Dunia di Buku The Sky is Falling
-
Sinopsis Nameless, Film Action Thriller Jepang yang Dibintangi Jiro Sato