Pagi itu saya menyadari ada yang aneh dengan cara saya memulai hari. Bukan karena terlambat bangun atau lupa sarapan, tetapi karena tangan saya sudah sibuk membuka ponsel bahkan sebelum benar-benar sadar. Notifikasi berdatangan, pesan belum dibalas, dan ada hal-hal yang seolah menunggu keputusan cepat. Padahal, saya masih duduk di tepi kasur, belum ke mana-mana, tetapi rasanya sudah tertinggal.
Hari-hari seperti itu terasa biasa. Terlalu biasa, bahkan. Semua berjalan cepat, seolah tidak memberi ruang untuk bertanya apakah saya benar-benar siap menjalaninya. Saya mengikuti arus, menyelesaikan kewajiban, dan memenuhi ekspektasi yang sebagian besar bahkan tidak saya ciptakan sendiri. Di luar terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam kepala rasanya selalu penuh.
Saya sempat berpikir mungkin ini cuma fase. Usia dewasa awal, katanya, memang seperti ini. Banyak hal yang harus dikejar dan banyak peran yang harus dijalani. Namun, lama-kelamaan saya sadar bahwa yang membuat lelah bukan hanya banyaknya aktivitas, melainkan ritme yang tidak pernah memberi jeda. Bahkan, saat tidak sedang sibuk pun, pikiran tetap berlari.
Ada masa ketika saya merasa bersalah jika bergerak lebih pelan. Ketika tidak langsung membalas pesan, ketika butuh waktu lebih lama untuk mengambil keputusan kecil, atau ketika memilih diam daripada mengikuti obrolan yang sebenarnya tidak ingin saya ikuti. Pelan-pelan hal itu terasa seperti kelemahan. Seolah-olah hidup hanya menghargai mereka yang cepat, sigap, dan selalu siap.
Di titik itu, saya mulai bertanya pada diri sendiri, mengapa saya merasa harus selalu siap.
Saya mencoba melambat dengan cara yang sangat kecil. Tidak ada perubahan besar. Tidak ada resolusi. Saya hanya berhenti sejenak sebelum bereaksi. Membiarkan pesan tidak langsung terjawab. Duduk lebih lama tanpa membuka apa pun. Awalnya terasa canggung, seperti melanggar aturan tak tertulis tentang bagaimana seharusnya hidup dijalani.
Ternyata, melambat tidak langsung membuat hidup lebih ringan. Justru sebaliknya. Ada banyak hal yang selama ini tertutup oleh kesibukan akhirnya muncul ke permukaan: pikiran yang tidak nyaman, rasa ragu, hingga pertanyaan-pertanyaan yang biasanya saya abaikan. Di situ saya sadar, mungkin selama ini saya berlari bukan untuk mengejar sesuatu, melainkan untuk menghindari diam.
Yang membuat melambat sulit bukan karena tidak punya waktu, melainkan karena diam sering memaksa kita berhadapan dengan diri sendiri, dengan hal-hal yang belum selesai, dan dengan perasaan yang tidak punya nama. Dan hal itu tidak selalu menyenangkan.
Saya juga menyadari betapa mudahnya kita mengukur hidup orang lain dari luar. Melihat mereka yang tampak produktif, bergerak cepat, dan selalu terlihat sibuk, lalu diam-diam membandingkan diri sendiri. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka rasakan. Namun, tetap saja ritme orang lain sering terasa seperti standar yang harus dikejar.
Di sinilah opini pribadi saya mulai terbentuk. Saya mulai percaya bahwa hidup tidak selalu harus terasa maju. Kadang terasa datar, bahkan stagnan. Dan mungkin itu bukan kegagalan, melainkan kondisi yang wajar. Kita terlalu sering memaksa hidup agar terlihat berkembang, padahal diri kita sendiri belum tentu siap.
Melambat bagi saya bukan soal menjadi lebih baik atau lebih bijak. Melambat hanya memberi ruang: ruang untuk tidak tahu, ruang untuk ragu, dan ruang untuk mengakui bahwa saya tidak selalu sanggup mengikuti ritme yang ditawarkan dunia.
Ada hari-hari ketika saya masih kembali terburu-buru. Masih merasa tertinggal. Masih tergoda untuk menjejalkan lebih banyak hal ke dalam waktu yang terbatas. Namun, setidaknya sekarang saya sadar bahwa rasa lelah itu bukan karena saya kurang kuat, melainkan karena saya terlalu sering memaksa diri berjalan lebih cepat dari yang saya mampu.
Saya tidak tahu apakah hidup yang lebih pelan akan membuat segalanya lebih baik. Saya juga tidak ingin mengklaim bahwa ini adalah solusi. Yang saya tahu, hidup terasa sedikit lebih jujur ketika saya berhenti berpura-pura selalu siap; ketika saya mengizinkan diri untuk tidak langsung mengetahui arah.
Mungkin memang tidak semua hal perlu diselesaikan sekarang. Tidak semua kebingungan harus segera diberi nama. Dan tidak semua langkah harus terasa pasti. Ada kalanya berjalan pelan bukan bentuk menyerah, melainkan cara untuk tetap bertahan tanpa kehilangan diri sendiri.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Merayakan Hidup Orang Biasa dalam Novel Kios Pasar Sore
-
Kehidupan Masyarakat Pesisir: Ruang Pertama yang Selalu Dikorbankan
-
Mencari Keseimbangan Kehidupan di Era Sibuk: Panduan Praktis Work-Life Balance
-
Ulasan Buku The Art of Stoicism, Misi Pencarian Makna tentang Kehidupan
-
Aktor Aliff Ali Dilaporkan Polisi oleh Istri Sah Usai Diduga Menikah Lagi Tanpa Izin
Kolom
-
Beban Anak Bungsu Merawat Orang Tua: Tradisi atau Ketidakadilan?
-
Climate Anxiety: Saat Generasi Muda Cemas akan Masa Depan Bumi
-
Menantang Budaya Sibuk: Mengapa Istirahat Sering Kali Terasa Bersalah?
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
FOMO di Kalangan Pelajar: Ancaman Tren Viral Meredupkan Budaya Literasi
Terkini
-
4 Outfit Dress ala Annie ALLDAY PROJECT, dari Edgy sampai Elegan Look!
-
Mengenal 6 Tipe Kepribadian Perempuan: Kamu Alpha, Beta, atau Sigma?
-
Di Antara Batu, Kami Bertumbuh
-
Reuni di Persija Jakarta, Shayne Pattynama Sambut Kedatangan Mauro Zijlstra
-
ILLIT Rangkul Identitas Diri dan Potensi Tak Terbatas Lewat Lagu Not Me