Pesannya Masih Relevan, Pidato Hari Guru Nasional 1996 Presiden Soeharto Kembali Viral

Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Pesannya Masih Relevan, Pidato Hari Guru Nasional 1996 Presiden Soeharto Kembali Viral
Video Presiden Soeharto saat pidato peringatan Hari Guru Nasional 1996 (Instagram/karnalifaisal)

Media sosial kembali diramaikan oleh sebuah potongan video lawas yang memperlihatkan Presiden Soeharto menyampaikan pidato pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 1996. Video itu kembali viral karena cuplikan pesannya dianggap masih relate.

Dalam video tersebut, Presiden Soeharto yang baru akan membuka pidatonya meminta hadirin untuk berdiri. Dengan gaya soft spoken, presiden kedua RI yang akrab disapa Pak Harto tersebut meminta tamu yang hadir untuk menjaga keheningan.

Bahkan beliau berkelakar kalau boleh saya berbicara, tapi mulutnya tidak boleh dibuka. Sontak gaya komunikasi yang sarat guyonan santai ini membuat semua orang tertawa. Namun, anehnya, semua langsung tertib menjaga keheningan selama Pak Harto berpidato.

Pesan Moral yang Relate Hingga Sekarang

Di tengah banyaknya acara seremonial saat ini, baik upacara, apel, kegiatan sekolah, hingga event pemerintahan, kondisi “ramai sendiri”, tidak fokus, atau tidak menghormati jalannya acara sudah sering menjadi perhatian publik.

Maka, tidak heran jika video lawas tersebut, yang kembali diunggah di momen serupa pada peringatan Haru Guru Nasional, menuai sorotan netizen karena mengandung pesan moral yang relate hingga sekarang.

Dalam video yang sedang beredar, Presiden Soeharto menekankan satu hal mendasar di mana suasana hening adalah syarat utama agar sebuah peringatan dapat berlangsung dengan baik dan penuh makna.

Lewat guyon pembuka pidato, Pak Harto seolah ingin menegaskan kalau suasana khidmat baru bisa tercipta jika peserta acara menjaga ketertiban. Suasana hening adalah bentuk penghormatan dan ketenangan menunjukkan sikap siap menerima pesan yang disampaikan.

Walaupun pesan itu disampaikan hampir tiga dekade lalu, netizen menilai bahwa maknanya justru semakin relevan. Banyak netizen menyoroti bahwa saat ini terlalu banyak acara yang terganggu oleh suara bising, peserta yang tidak memperhatikan, atau perilaku yang kurang menghormati jalannya peringatan resmi.

Pesan Lawas Kembali Dianggap Penting, Mengapa?

Pesan lawas kembali dianggap penting dan bahkan masih relevan di era modern ini menjadi ruang introspeksi diri untuk generasi muda. Terlebih pada generasi yang dekat dengan digitalisasi, gawai yang bak “pacar kedua” sering kali bikin fokus terpecah di momen seremonial.

Pada masa kini, hampir semua peserta acara membawa ponsel. Kondisi ini sering menimbulkan suara notifikasi, peserta sibuk merekam, atau bahkan mengobrol sendiri. Akhirnya suasana formal mudah berubah menjadi gaduh.

Perilaku menjaga keheningan demi acara tetap khidmat  sebenarnya juga jadi bentuk penghormatan, terlebih jika momen seremonial ini ditujukan untuk even penting seperti peringatan Hari Guru Nasional.

Bukan hanya seremoni lalu pulang, jalannya acara juga wajib dihormati. Pesan ini melekat kuat dari potongan video pidato Pak Harto yang menjadi bukti penerapan sikap disiplin yang diajarkan guru di sekolah.

Esensi Keheningan dalam Acara Resmi

Hening bukan sekadar “tidak berbicara”, tapi juga menjadi tanda penghormatan, kesiapan menerima pesan, dan kesadaran bahwa ada momen penting yang harus dihargai bersama.

Dalam konteks Hari Guru, suasana hening dan tertib berarti kita menghargai perjuangan guru yang sering mengorbankan waktu, energi, serta kesabaran untuk mendidik generasi berikutnya.

Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau banyak netizen berkomentar video jadul pidato Pak Harto tadi memiliki pesan yang masih sangat modern. Mengapa? Budaya dan kondisi sosial saat ini jadi alasan besarnya.

Di era digital, kecenderungan konsentrasi pendek di sebuah acara membuat perhatian tidak penuh hingga suasana “guyon”, berbicara sendiri, atau tidak fokus menjadi hal biasa. Video ini memberi tamparan bahwa kedisiplinan kecil seperti hening saat pidato sudah menjadi barang langka.

Netizen juga menilai bahwa pesan Pak Harti terasa tegas namun tetap halus. Tidak menggurui, tapi jelas maksudnya. Hal inilah yang membuat video tersebut terasa “menyentil”, mengingatkan tanpa harus marah-marah.

Di tengah budaya digital yang serba cepat dan penuh distraksi, pesan itu terasa seperti pengingat keras bahwa menghargai itu sederhana, cukup diam sejenak dan fokus.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak