Banyak orang tetap memilih memaafkan pasangan yang telah berselingkuh, meski luka itu belum sembuh. Fenomena ini sering kali berkaitan dengan hopeful bias, di mana harapan sering kali mengalahkan realita.
Mengutip dari thedecisionlab.com, hopeful bias terjadi ketika kita terlalu optimistis terhadap kemungkinan hal baik terjadi, tapi mengabaikan risiko hal buruk. Keadaan ini tentunya seakan membuat kita fokus terhadap apa yang kita harapkan saja.
Optimisme yang berlebihan ini terakumulasi menjadi hasil yang merusak, karena dua kecenderungan kognitif. Pertama, kita lebih fokus pada hal-hal yang dinantikan daripada kemungkinan negatif. Kedua, kita mengantisipasi hal buruk terjadi pada orang lain, tapi menganggap diri sendiri kebal dari risiko yang sama.
Keadaan ini dapat terjadi di berbagai situasi, terutama dalam konteks perselingkuhan. Keyakinan bahwa pasangan yang selingkuh akan berubah sering membuat korban mengabaikan tanda-tanda nyata kekecewaan, sehingga luka emosional berlanjut dan keputusan untuk melepaskan diri tertunda.
Akibatnya, korban kerap terjebak dalam siklus memaafkan berulang, meski pengalaman masa lalu menunjukkan kemungkinan disakiti lagi cukup tinggi. Hopeful bias membuat harapan atas perubahan pasangan lebih dominan dibanding realita yang ada, sehingga keputusan rasional untuk berhenti sering tertunda.
Kondisi ini juga bisa memengaruhi cara korban menilai diri sendiri, seolah-olah mereka harus memberi kesempatan lebih demi membuktikan kesetiaan atau cinta. Padahal, memahami dan mengenali hopeful bias penting agar bisa membuat keputusan yang lebih sehat dan realistis dalam menghadapi hubungan yang berisiko menyakiti.
Lebih jauh, fenomena hopeful bias dalam perselingkuhan terlihat ketika korban terlalu percaya bahwa pasangan yang bersalah akan berubah atau menyesal. Mereka sering menafsirkan tindakan kecil yang positif sebagai tanda perbaikan, meski bukti nyata menunjukkan pola pengkhianatan yang berulang.
Sikap ini membuat harapan atas perubahan terasa lebih kuat daripada kenyataan, sehingga korban menunda keputusan untuk melepaskan diri. Akibatnya, luka emosional terus berlanjut, dan siklus memaafkan secara berulang menjadi sulit diputus tanpa kesadaran akan pola pikir yang menipu ini.
Dengan menyadari hopeful bias, korban bisa mulai membedakan antara harapan yang wajar dan ilusi yang menyesatkan. Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk menetapkan batasan, melindungi diri, dan akhirnya memutus siklus luka yang berulang.
Kesadaran akan hopeful bias tidak berarti harus langsung memutuskan hubungan, tapi memberi ruang untuk refleksi dan pertimbangan lebih matang. Dengan begitu, mengambil keputusan dengan memilih untuk bertahan atau melepaskan dapat lebih realistis, tanpa hanya terpengaruh oleh harapan semata.
Baca Juga
-
Merayakan Perempuan, FISTFEST Hadirkan Ruang Ekspresi Lewat Bunga dan Musik
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
Artikel Terkait
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2