Meninjau di pesisir Indragiri Hiir, Hari Pohon sedunia ternyata tidak dirayakan dengan seremoni yang sifatnya hanya simbolik.
Dilaporkan dari media Bermadah.co, para perempuan khususnya masyarakat adat dari suku Duanu justru turun langsung ke lumpur pesisir untuk menanam 10.000 bibit mangrove di Dusun Sungai Bandung, Desa Tanjung Pasir.
Aksi ekologis dilakukan mereka bersama Bangun Desa Payung Negeri ini berlangsung seharian penuh di wilayah yang selama bertahun-tahun mengalami abrasi dan intrusi air laut akibat rusaknya ekosistem mangrove. Bagi mereka, para perempuan Duanu menanam pohon bukan agenda tahunan melainkan bagian dari upaya untuk mempertahankan ruang hidup yang kian terkikis.
Jauh di timur Indonesia, di perairan Raja Ampat, para perempuan adat Kampung Yenbuba juga melakukan perlindungan bagi ekosistem mereka. Tujuh tahun setelah kapar pesiar Caledonian Sky menghancurkan terumbu karang di sekitar Pulau Kri, perempuan Yenuba terlibat langsung dalam proyek restorasi ekosistem laut.
Yang mereka lakukan adalah menanam kembali fragmen karang, merwat reef star dan menjaga area yang sudah rusak parah.
Dilansir dari BBC News Indonesia, Aleksina seorang perempuan Yenbuba mengatakan “Terumbu karang kalau rusak, dan ekosistem yang ada di Raja Ampat, khususnya di Pulau Mansuar, di Kampung Yenbuba, kalau rusak memang kami tidak bisa buat apa-apa, karena dari laut kami juga menikmati hasil dari terumbu karang."
Cukup sederhana, para perempuan disana merasa bahwa ekosistem pesisir bukan hanya untuk dimanfaatkan dan dibabiskan, tetapi untuk dijaga sehingga menjadi sumber penghidupan bagi lintas generasi.
Catatan dari kedua kasus diatas adalah dari dua kisah wilayah yang berbeda ini mempunyai satu benang merah yang sama yakni, para perempuan adalah penjaga ekosistem pesisir yang aktif dan berpengetahuan.
Dari Mangrove di Indragiri Hilir hingga terumbu karang di Raja Empat kita bisa sepakat bahwa para perempuan berusaha untuk bekerja merawat dan mengembalikan ekosistem alam, walaupun pengetahuan mereka mungkin tak seutuh para ilmuwan di kota-kota.
Para perempuan disana mungkin tak punya sertifikat ahli ekologis, ahli konservasionis ataupun ilmuwan lingkungan tetapi hidup bersama dengan pesisir membuat mereka menjadi salah satu penjaga ekosistem yang menyimpan pemahaman ekologis yang lahir dari pengalaman hidup pribadi.
Saat ini, ketika berbicara tentang pesisir kita sering kali fokus pada kerusakan, Memang benar saat ini krisis, abrasi, pencemaran, dan perubahan iklim memang banyak terjadi. Tentu saja, topik tersebut adalah topik yang penting karena menempatkan masyarakat pesisir sebagai subjek yang terdampak pada permasalahan tersebut.
Walaupun krisis ekologis terus menggunjang mereka namun kita harus belajar dari para perempuan pesisir. Hal ini, karena mereka terus menunjukkan bahwa di tengah krisis ada pengetahuan yang terus bekerja dari mereka. Pengetahuan sederhana itu terus dilakukan untuk menjaga ekosistem.
Bagi penulis, pemerintah seharusnya belajar dari bagaimana perempuan pesisir bekerja. Perempuan pesisir tahu kapan alam boleh diambil dan kapan alam harus dibiarkan untuk pulih.
Pengetahuan itu tidak lahir dari bangku kuliah layaknya yang selalu pemerintah lakukan, melainkan dari praktik sehari-hari para perempuan pesisir yang terus diwariskan lintas generasi.
Relasi perempuan pesisir dan alam bisa jadi pembelajaran bagi kita semua. Kita juga bisa mengambilnya sebagai sebuah solusi sederhana dimana pesisir hadir untuk dirawat bukan untuk di eksploitasi.
Pesisir adalah ruang hidup yang harus dijaga agar tetap memberi untuk kita, para manusia. Karena itu, keputusan-keputusan kita untuk pesisir ini adalah simbol di masa depan.
Jika keputusan berpihak pada pesisir maka praktik keberlanjutan akan menjadi sesuatu yang nyata, jika tidak maka sebaliknya. Meski terlihat seserhana, praktik ini justru menjadi fondasi yang penting bagi ketahanan pesisir kita.
Baca Juga
-
Sinopsis Whispering Water, Film Horor Baru yang Dibintangi Kim Hye Yoon
-
Ketika Air Keras Menjadi Pesan: Ancaman Nyata bagi Suara Kritis Demokrasi
-
Terlalu Tua untuk Bekerja? Wajah Ageisme di Dunia Kerja Indonesia
-
Usai 7 Tahun Vakum, Son Dam Bi Siap Comeback Akting Lewat Drama Pendek Baru
-
70% Perempuan Alami Kekerasan di Tempat Kerja, Ini Saatnya Benahi Sistem
Artikel Terkait
-
Bukan Meninggalkan, Hanya Mendefinisikan Ulang: Kisah Anak Nelayan di Era Modern
-
Program Kebun Mama, Kala Perempuan di NTT Memimpin Perubahan dengan Menanam Asa
-
Sejarah Hari Ibu 22 Desember: Perjuangan Sejak 1928, Kini Keluar Jalur
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Lewat 'Kebun Mama', Ratusan Perempuan Komunitas di NTT Gerakkan Ketahanan Pangan Lokal
Kolom
-
Bukan soal Nominal, Ini Alasan Pentingnya Menghargai Nilai dari Uang Kecil
-
Klaim 100 Persen Rampung di Aceh: Keberhasilan Nyata atau Tabir Pencitraan?
-
Ketika Momen Sesederhana Foto Keluarga di Hari Lebaran Terasa Mewah
-
Ketika Media Sosial Membentuk Cara Berpikir Generasi Baru
-
Gen Z di Hari Raya: Antara Kewajiban Tradisi dan Realita Zaman
Terkini
-
Rahasia Hutan Ajaib
-
Review Abang Adik: Siap-siap Banjir Air Mata dari Kisah Pilu Dua Saudara
-
Bangkit dari Post Holiday Blues Usai Mudik Lebaran: 7 Cara Cerdas Balik ke Realita Tanpa Drama
-
Novel When My Name Was Keoko, Perjuangan Identitas di Bawah Penjajahan Jepang
-
HP Panas Padahal Gak Main Game? Waspada, Mungkin Ada "Tamu Tak Diundang" Lagi Ngintip