Punya teman yang kelihatannya santai, tapi tiap ngomong bikin nyentil? Senyumnya manis, tapi kalimatnya kayak sindiran halus level dewa? Yup, besar kemungkinan kamu lagi berhadapan sama teman pasif agresif.
Tipe teman semacam ini biasanya nggak marah secara terang-terangan. Hanya saja emosinya bocor lewat kode, diam berkepanjangan, atau komentar “bercanda tapi nyakitin”. Masalahnya, menghadapi orang pasif agresif itu sering bikin kita ikut emosi.
Padahal, kalau kita ikut meledak justru bikin situasi makin ribet. Nah, biar kamu tetap waras dan nggak kehabisan energi, ini dia cara menghadapi teman pasif agresif tanpa ikut meledak.
1. Kenali Dulu Polanya Biar Nggak Salah Paham
Sebelum baper, penting buat tahu ciri-cirinya. Teman pasif agresif biasanya sering bilang “nggak apa-apa” tapi vibes-nya jelas nggak baik-baik saja. Mereka juga hibi nyindir halus lewat candaan.
Bahkan mereka sering alas chat lama tapi pas ketemu kayak nggak ada masalah apa-apa. Meski begitu, silent treatment dan pura-pura lupa atau sengaja telat kerap jadi sikap protes mereka ke kamu.
Kalau kamu sadar ini pola tanpa serangan personal langsung ini, kamu jadi lebih tenang. Ingat, sikap mereka sering berasal dari ketidakmampuan mengungkapkan emosi secara jujur, bukan karena kamu selalu salah.
2. Jangan Ikut Main Kode, Tetap Pakai Komunikasi Jelas
Salah satu jebakan terbesar saat menghadapi teman pasif agresif adalah ikut main kode. Balas sindiran dengan sindiran, atau diem-dieman juga. Hasilnya, drama nalah makin panjang.
Coba ganti dengan gaya komunikasi yang jelas tapi santai, misalnya ngomong “Eh, aku ngerasa kamu agak beda akhir-akhir ini. Kalau ada yang ganggu, bilang aja ya”. Cara komunikasi seperti ini nggak menyerang, tapi tetap membuka ruang ngobrol.
3. Validasi Perasaan, Tapi Jangan Ambil Semua Beban
Kadang teman pasif agresif cuma pengin dimengerti, bukan didebat. Kamu bisa validasi tanpa harus menyalahkan diri sendiri lewat kalimat “Aku ngerti kalau kamu lagi capek atau kesel”.
Tapi perlu diingat, validasi tidak sama dengan mengiyakan semua sikapnya. Kamu tetap boleh menerapkan batas. Kalau dia mulai nyindir berlebihan, kamu berhak memblokir potensi drama dan fokus pada self-respect.
4. Atur Jarak Emosional, Bukan Langsung Cut Off
Kamu mungkin merasa dihadapkan pilihan ekstrem, tahan terus atau langsung cut off. Padahal ada opsi tengah yang lebih sehat, yaitu mengatur jarak emosional.
Caranya, kurangi intensitas curhat dua arah dan jangan terlalu berharap respon dewasa dari dia. Usahakan tetap sopan, tapi juga nggak harus selalu available.
Menjaga jarak bukan berarti benci kok, tapi bentuk self-care paling realistis. Jadi, kamu nggak perlu overthinking sama reaksi mereka nanti.
5. Jangan Jadikan Reaksi Mereka Sebagai Cermin Harga Diri
Teman pasif agresif sering bikin kita mikir “Eh aku salah ya?” atau “Kok jadi aku yang ngerasa jahat?”. Pelan-pelan sadari kalau cara orang mengekspresikan emosi adalah tanggung jawab mereka sendiri.
Ingat, kamu nggak bisa mengontrol cara orang bereaksi, tapi kamu bisa mengontrol responsmu. Kalau kamu sudah menjaga komunikasi dengan sopan dan jujur, itu sudah cukup. Sisanya bukan bebanmu lagi.
6. Gunakan Humor Ringan Kalau Situasinya Aman
Kadang, cara paling Gen Z banget buat mencairkan suasana adalah humor ringan. Bukan sarkas, tapi playful. Humor bisa jadi jembatan, asal dipakai di momen yang tepat dan bukan untuk meremehkan.
7. Pilih Damai, Bukan Menang
Menghadapi teman pasif agresif bukan soal siapa yang benar. Tujuan utamanya kesehatan mental kamu tetap aman. Nggak semua konflik harus dimenangkan dan nggak semua orang harus diajari sampai paham.
Kadang, dewasa itu berarti tahu kapan menjelaskan, kapan berhenti, dan kapan fokus pada hidup sendiri. Dan itu bukan tanda lemah, justru tanda kamu makin matang.
8. Tetap Tenang, Kamu Nggak Harus Ikut Meledak
Menghadapi teman pasif agresif memang melelahkan, apalagi kalau kamu tipe yang sensitif dan mikir panjang. Tapi kabar baiknya, kamu bisa tetap jadi versi diri yang tenang tanpa harus berubah jadi dingin atau kasar.
Dengan komunikasi jelas, batasan sehat, dan kesadaran diri, kamu bisa menjaga relasi tanpa mengorbankan kewarasan. Ingat, dewasa itu bukan soal siapa paling keras, tapi siapa paling sadar mengelola emosi.
Baca Juga
-
Post-Holiday Fatigue: Liburan Tak Selalu Menyembuhkan, Tetap Merasa Lelah
-
Tren Silent Rebellion di Dunia Kerja: Cara Gen Z Melawan Tanpa Ribut
-
Kaleidoskop Prestasi Bulutangkis Indonesia: 21 Gelar di BWF World Tour 2025
-
Lebih dari Sekadar Ambisi, Ini 5 Kunci Energi Batin untuk Sukses di 2026
-
Gregoria Ajukan Protected Rank 1 Tahun, Putri KW Berjuang Sendiri di 2026?
Artikel Terkait
Kolom
-
Darurat Kebebasan! Ancaman Nyata Bagi Aktivis yang Berani Bersuara
-
Resmi Berlaku! Babak Baru Penegakan Hukum yang Menghantui Suara Kritis
-
Bos Lulusan SD, Pegawainya Sarjana: Benarkah Kuliah Percuma?
-
Standar TikTok: Katalog Hidup Mewah yang Bikin Kita Miskin Mental
-
Honor Power 2 Rilis Awal Januari 2026: Dibekali Baterai Jumbo 10.080 mAh
Terkini
-
Kreator Pastikan Manga Kaoru Hana wa Rin to Saku Tamat Sekitar 2 Tahun Lagi
-
Showrunner Ryan Condal Konfirmasi House of the Dragon Berakhir di Season 4
-
Laptop Gaming Rasa PC Desktop? ROG Strix G16 dengan AMD 3D V-Cache
-
Teaser Trailer Balas Budi Resmi Dirilis, Misi Balas Dendam Penuh Tawa
-
Pindah Agensi, Mees Hilgers Bisa Akhiri Perang Dingin dengan FC Twente?