Kalau kecepatan adalah prestasi, maka media hari ini pantas akan mendapatkan piala paling bergengsi. Masalahnya, piala itu diraih dengan meninggalkan satu hal sepele bernama kebenaran. Di era digital, berita tidak lagi diuji dengan pertanyaan “benar atau tidak”, tapi “sudah naik atau belum”. Kalau belum naik, ya cepat-cepat dinaikkan. Urusan akurasi bisa menyusul, kalau sempat.
Dulu, media dikenal sebagai penjaga gerbang informasi. Sekarang, gerbangnya jebol, pagarnya roboh, dan siapa pun bebas masuk membawa kabar apa saja. Media sosial jadi pasar malam informasi: ramai, ribut, penuh teriakan, tapi tidak jelas mana yang jual fakta, mana yang cuma jual sensasi. Celakanya, media arus utama bukannya membersihkan pasar, malah ikut buka lapak di tengah keramaian.
Di ruang redaksi, kecepatan telah naik pangkat jadi ideologi. Prinsipnya sederhana: siapa cepat, dia hidup. Siapa telat, siap-siap ditinggal algoritma. Judul berita pun diperas seprovokatif mungkin. Kata “diduga” dipakai seperti jimat sakti—aman secara hukum, tapi tetap menggiring opini. Isi berita? Kadang hanya hasil copas dari unggahan viral, ditambahi satu-dua kalimat agar terlihat “jurnalistik”.
Verifikasi sering diperlakukan seperti tamu tak diundang. Idealnya ada, tapi kalau bikin lama, ya ditunda. Toh publik juga jarang baca sampai habis. Yang penting judulnya bikin jempol refleks menekan layar. Kalau ternyata salah? Tinggal klarifikasi. Kecil saja, di bagian bawah. Anggap saja formalitas, semacam permintaan maaf yang tidak benar-benar ingin dimaafkan.
Situasi ini makin kacau ketika hoaks dan disinformasi ikut nimbrung. Media yang seharusnya jadi penjernih justru kadang jadi pengeras suara. Viral dulu, luruskan belakangan. Akibatnya, publik dipaksa hidup dalam kebingungan kolektif. Hari ini percaya, besok ragu, lusa apatis. Kepercayaan pada media pun terkikis bukan karena publik makin pintar, tapi karena media makin sembrono.
Belum lagi soal ekonomi. Iklan makin pelit, pembaca makin malas bayar, sementara operasional media tetap butuh makan. Akhirnya, trafik dijadikan dewa penyelamat. Klik dianggap pahala. View dipuja seperti KPI surgawi. Dalam logika ini, kualitas jadi beban, kedalaman dianggap tidak laku, dan jurnalisme investigatif dipandang terlalu mahal untuk sekadar dibagikan di linimasa.
Ironisnya, di tengah situasi sosial dan politik yang makin ruwet, media justru dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Kekuasaan makin lihai, kebijakan makin kompleks, dan publik makin butuh penjelasan. Tapi apa daya, media terlalu sibuk mengejar kecepatan, sampai lupa bertanya: “Ini benar, atau cuma ramai?”
Media sering berdalih, “Kami hanya mengikuti selera pasar.” Padahal, media juga ikut membentuk selera itu sendiri. Ketika yang disajikan terus-menerus sensasi, publik akan terbiasa dengan sensasi. Ketika yang diprioritaskan kecepatan, kebenaran dianggap bonus, bukan kewajiban.
Padahal, berita yang salah tidak pernah benar-benar hilang. Sekali tersebar, ia hidup lama di kepala orang. Klarifikasi jarang seviral kesalahan awal. Dalam jangka panjang, kerusakannya jauh lebih mahal daripada kehilangan beberapa menit untuk verifikasi.
Pada akhirnya, media harus memilih: mau jadi pelari sprint yang ngos-ngosan tapi cepat viral, atau pelari jarak jauh yang mungkin tidak selalu di depan, tapi konsisten sampai garis akhir. Kecepatan memang menggoda, tapi kepercayaan tidak dibangun dari judul nyolot dan berita setengah matang. Di tengah banjir informasi, publik sebenarnya tidak butuh media yang paling ngebut—mereka butuh media yang tidak asal tancap gas lalu kabur saat salah arah.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Mencari Jati Diri di Era Digital: Mengapa Gen Z Terjebak dalam Cermin Palsu Media Sosial?
-
50 Medsos Lokal Ramaikan ISMN Yogyakarta Meetup 2026, Bahas Kolaborasi di Era Digital
-
Kenalan Apa Itu Transformasi Digital, dari Cara Kerja Manual ke Sistem yang Lebih Rapi
-
Kreator Digital Butuh Kecepatan Tinggi, Ini Solusi Penyimpanan untuk Konten 4K hingga 8K
-
Media Belanda Prihatin Lihat Ancaman Pembunuhan yang Menimpa Thom Haye
Kolom
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Kuda Menari dan Pohon Telur: Cara Unik Orang Mandar Rayakan Maulid Nabi
Terkini
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Lawan Kulit Kering! 4 Hydrating Mist Jaga Wajah Tetap Lembap Sepanjang Hari
-
Tayang Oktober, Drakor Final Table Bagikan Keseruan Pembacaan Naskah
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Tak Perlu Mesin POS Mahal, 5 Tablet LTE Ini Cocok untuk Kasir Cafe dan UMKM