Pernah nggak sih setelah membaca postingan di X, kamu merasa jadi lebih pintar? Tapi setelah itu kesal sendiri karena ada pengguna lain yang mencibir pengguna TikTok sebagai sekumpulan orang yang hanya bisa joget? Atau mungkin ketika di Instagram ada yang bilang Facebook itu “museum purbakala”. Kalau bahasanya sedikit kelihatan kuno pasti ada yang komentar: “Balik lagi aja ke Facebook, Bu.”
Jika pernah, selamat kamu sedang terjebak dalam perang identitas digital yang sebenarnya tidak ada pemenangnya. Fenomena saling hujat antar-platform media sosial ini sudah mencapai level yang menyebalkan. Ada semacam stereotip kaku yang kita tempelkan pada setiap aplikasi. Contohnya Twitter atau sekarang X adalah tempatnya orang "gila" berdebat, TikTok jadi kendang fans Alex Turner dan konten-konten cringe, hingga Instagram yang dicap sebagai sarang OKB (Orang Kaya Baru) yang haus validasi.
Haus Validasi, tapi Cepet Banget Eksekusi
Kenapa ya kita begitu peduli dengan apa yang digunakan orang lain? Kenapa kita merasa perlu menjatuhkan satu platform demi memuja platform yang kita pakai?
Michael Hogg dalam jurnalnya, Social Identity and Social Comparison, memberikan penjelasan yang sejalan dengan fenomena ini. Menurutnya, manusia secara alami membutuhkan pembanding sosial untuk meningkatkan self-esteem atau rasa percaya diri. Dalam konteks digital, platform yang kita pilih merupakan bagian dari identitas kita.
Ketika kita menghina platform lain, secara tidak sadar kita sedang melakukan cara yang murah dan mudah untuk menjadi superior. Kita tidak perlu berprestasi di dunia nyata untuk merasa hebat. Cukup dengan merendahkan pengguna platform sebelah, kita sudah merasa berada di kasta sosial yang lebih tinggi. Ini sama seperti ego yang diberi makan oleh algoritma.
Stop Jadi Polisi Digital
Padahal, kalau kita sadar, setiap platform itu hanyalah alat. Media sosial adalah jembatan bagi seseorang untuk menjangkau kehidupan sosial yang lebih luas, mencari teman, atau sekadar melepas penat dan menjadikannya sebagai hiburan. Jadi, melakukan generalisasi terhadap jutaan pengguna dalam satu platform itu bukan hanya kegiatan dangkal dan tidak masuk akal, tapi juga bentuk stereotip yang membatasi pergaulan kita sendiri.
Hidup kita akan jadi sangat melelahkan jika hanya dihabiskan untuk mengurusi "sekte" media sosial mana yang paling benar. Padahal, orang yang dianggap alay di TikTok mungkin sedang membangun bisnis kreatif dan justru lebih sukses. Di sisi lain, orang yang dianggap "purba" di Facebook bisa jadi hanyalah seorang kerabat yang ingin tetap terhubung dengan keluarga mereka.
Jadi sekarang sudah saatnya kita berhenti menjadi "polisi digital". Dengan itu kita hanya bisa mengatur standar keren atau tidaknya seseorang berdasarkan ikon aplikasi di ponsel mereka. Biarkan orang lain menikmati ruang digitalnya masing-masing.
Hidup sudah cukup rumit tanpa harus ditambah dengan urusan membandingkan mana yang lebih unggul antara scroll vertikal atau cuitan teks. Lagi pula, kita semua sama-sama orang yang sedang menatap layar kaca sambil mencari kebahagiaan masing-masing lewat apa yang ada di dalamnya.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
Nuon Telkom Gaspol Bangun Ekosistem Digital Indonesia, Targetkan Pasar 12 Miliar Dolar AS
-
Duet TikTok-Tokopedia Ubah Peta Tren Perdagangan Online di RI
-
Serba-serbi Ramadan: Ikhlas Bersedekah atau Butuh Validasi Manusia?
-
Tren Beauty TikTok 2026: Dari Produk Viral ke Brand yang Bertahan
-
Vilmei Nangis Akun TikTok 68 Juta Followers Diblokir Permanen, Kerugian Capai Miliaran?
News
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
Terkini
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam