M. Reza Sulaiman | NK. Saputra
Foto uang kertas (Dok. Pribadi)
NK. Saputra

Sore itu, langkah saya melambat di pinggir jalan yang mulai lengang. Suasana tidak terlalu ramai, hanya suara kendaraan yang sesekali melintas dan angin yang membawa debu tipis dari aspal. Di tengah langkah yang hampir berlalu begitu saja, mata saya tertuju pada selembar uang kertas berwarna biru yang terlipat rapi di permukaan jalan. Saya berhenti, lalu memungutnya perlahan. Setelah diperhatikan, tidak salah lagi, itu benar-benar uang.

Perasaan yang muncul ternyata bukan senang atau beruntung, melainkan ragu. Ada jeda singkat di kepala saya, seolah hati dan pikiran saling berdebat. Nominalnya memang tidak besar, tetapi cukup berarti bagi siapa pun. Dalam situasi kebutuhan hidup yang sering kali datang tanpa aba-aba, godaan untuk menganggapnya sebagai rezeki sempat terlintas di benak saya.

Namun, pikiran itu tidak bertahan lama. Saya justru membayangkan kemungkinan lain. Uang ini pasti milik seseorang yang tanpa sadar menjatuhkannya. Bisa jadi uang ongkos pulang, belanja harian, atau keperluan penting lainnya. Membayangkan pemiliknya kebingungan mencari uang tersebut membuat hati saya terasa tidak tenang.

Saya menoleh ke sekitar, berharap menemukan seseorang yang terlihat sedang mencari sesuatu. Jalanan relatif sepi, hanya beberapa orang berlalu tanpa menunjukkan tanda-tanda kehilangan. Rasa bimbang semakin kuat. Haruskah saya menunggu di tempat itu? Bertanya pada orang-orang yang lewat? Atau menyerah pada keadaan dan menyimpannya begitu saja?

Di momen itu saya sadar, kejujuran sering kali diuji bukan saat banyak orang melihat, melainkan ketika tidak ada yang mengawasi. Bukan soal besar atau kecilnya nominal, tetapi soal pilihan yang kita ambil. Mengambil sesuatu yang bukan hak kita, meski tampak sepele, tetap bisa meninggalkan beban di hati.

Saya akhirnya memutuskan untuk bertanya pada satu-dua orang yang melintas. Saya berharap, meski kecil kemungkinannya, bisa menemukan pemilik uang tersebut. Hasilnya memang nihil. Tidak ada yang merasa kehilangan. Meski begitu, usaha itu justru membuat hati saya lebih lega. Setidaknya, saya tidak langsung memilih jalan paling mudah.

Dari kejadian sederhana itu, saya belajar bahwa menemukan uang di jalan bukan hanya tentang benda yang kita temukan. Lebih dari itu, ia adalah ujian kecil tentang kejujuran dan empati. Karena pada akhirnya, ketenangan hati selalu jauh lebih berharga daripada selembar uang yang bukan milik kita.