M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Terang lampu gedung-gedung kota Jakarta (Dokumentasi pribadi/Vicka Rumanti)
Vicka Rumanti

Jakarta itu kota yang sibuk. Setidaknya, itulah kalimat pertama yang mampir di kepala saya saat pertama kali menginjakkan kaki di sini untuk memasuki dunia magang. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sudah terbiasa dengan ritme Jogja yang tenang dan santun, Jakarta terasa seperti sebuah mesin raksasa yang selalu bekerja. Semuanya bergerak cepat dan seolah-olah setiap orang di sini mengejar sesuatu yang tidak terlihat.

Lampu merah belum berganti menjadi hijau, tetapi bunyi klakson sudah bersahutan. Di dalam transportasi umum pun selalu saja ada kegelisahan. Tubuh saling berdesakan, membawa aroma lelah, dan emosi yang sama besarnya. Saya sempat bertanya-tanya: Apakah saya akan bertahan di kota ini?

Keluar dari "Zona Nyaman" demi Pengalaman

Sebenarnya, tempat magang saya, Suara.com, juga punya kantor di Jogja. Namun, suara dari dalam diri saya mendorong saya untuk mencoba menginjakkan kaki ke ibu kota. Saya ingin tahu seberapa keras Jakarta yang sering dibicarakan orang. Saya ingin menguji diri, sejauh mana bekal saya sebagai reporter dan redaksi di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) bisa terpakai di medan perang yang sesungguhnya.

Dua minggu pertama adalah masa-masa terberat. Ritme kerja di sini jauh lebih cepat dari apa pun yang pernah saya bayangkan. Ada beban yang terasa lebih menghimpit disertai harapan yang semakin sulit.

Di saat lelah itu memuncak, saya sering menatap gedung-gedung tinggi pencakar langit dari jendela. Lampu-lampu mereka terus menyala indah di malam hari. Namun, di balik itu semua muncul pikiran di kepala saya: Apakah mereka tidak pernah lelah? Apakah gedung-gedung itu akan selalu menyala, sementara saya yang baru sebentar di sini sudah merasa hampa?

Pikiran untuk menyerah sempat mampir. Namun, wajah orang tua, saudara, dan teman-teman dekat kembali hadir dalam ingatan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menguatkan dan mendukung masa depan saya. Masa saya harus menyerah sebelum benar-benar bertarung?

Belajar Mandiri di Atas Aspal Jakarta

Hidup di Jakarta memaksa saya menjadi mandiri dalam level yang berbeda. Padahal, saya sudah merantau sejak SMA di Solo, lalu kuliah di Jogja, tapi Jakarta punya standar kemandirian yang luar biasa.

Beruntung, saya tidak sendiri. Saya menjalani ini bersama seorang teman satu kos. Kami berbagi tawa dan lelah, mencari tempat tinggal, memasak, hingga berangkat kerja menembus macet bersama-sama. Bahkan, dinamika tinggal berdua pun menjadi pelajaran hidup. Saat kantor pindah dari Jakarta Selatan ke Jakarta Barat, kami sempat mengalami "cekcok batin" ketika mencari tempat tinggal baru. Hingga akhirnya, saya belajar bahwa hidup bersama berarti harus menanggalkan ego pribadi dan mengutamakan diskusi. Meminta maaf ternyata tidak seberat itu jika tujuannya mencapai harmoni.

Satu bulan berlalu dan keajaiban itu datang. Ya, saya mulai menikmati rasa lelah ini. Saya belajar mengelola kesabaran yang selama ini mungkin hanya sebatas teori. Setiap kali ingin mengeluh, saya mencoba melihat sisi positifnya. Terutama saat saya harus liputan sendirian.

Awalnya, liputan mandiri terasa sebagai beban. Namun, dari sanalah saya benar-benar belajar menjadi jurnalis seutuhnya. Saya belajar mencari lokasi, menyusun daftar pertanyaan, menentukan angle, hingga merangkai semua fakta itu menjadi satu artikel utuh di bawah bimbingan mentor.

Menemukan Makna di Bawah Langit Jakarta

Jakarta bukan hanya soal gedung megah. Saya melihat ada sisi lain di dalamnya. Ada rumah-rumah di gang sempit yang penghuninya berjuang luar biasa keras demi keluarga. Ada harapan-harapan kecil yang selalu ingin dijaga. Dan momen-momen unik yang semuanya tak selalu tentang bahagia.

Saya teringat lirik lagu Tulus berjudul "Kelana":

"Terjebak di dalam baja beroda. Di bawah raksasa tinggi, dihantui bayang-bayang kelam. Berebut udara jernih di ramai kota menggantung mimpi yang entah di mana."

Rasanya sangat relate. Kita semua di sini sedang berjuang, sedang berkelana mencari makna atau sekadar menyambung nyawa.

Ada kalanya saya rindu rumah. Rindu bernyanyi bersama teman-teman paduan suara di kampus, atau rindu suasana tenang di Jogja. Namun, saya sadar bahwa tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan sehebat ini. Kesempatan untuk "ditempa" oleh keadaan, menjadi seseorang yang lebih positif, mandiri, dan sabar menjalani kehidupan.

Syukur yang Menguatkan

Tuhan benar-benar menjadi tempat mengadu paling teduh di tengah hiruk-pikuk dan lalu-lalang kota ini. Dia terus mengingatkan saya untuk bersyukur. Tanpa penyertaan-Nya, mungkin saya hanya akan menjadi pribadi yang penuh amarah dan keluhan. Kini, saya mulai berusaha menerima. Saya suka liputan, saya suka menulis, dan saya mulai mencintai semua dinamikanya karena itu yang menjadi cita-cita saya.

Jakarta mungkin keras, tapi ia adalah guru yang jujur. Jika nanti saatnya pulang ke Jogja, saya akan membawa hati yang lebih luas, kesabaran yang lebih panjang, dan rasa syukur yang lebih dalam. Terima kasih Jakarta sudah membuat saya mampu bertahan.