Banyak orang mengira ketidakjujuran lahir karena takut dihakimi, seperti takut dianggap salah, dicap buruk, atau ditolak secara sosial. Namun, di balik semua anggapan itu, ada ketakutan yang jauh lebih sunyi dan jarang dibicarakan, yaitu takut ditinggalkan setelah jujur.
Di kalangan Gen Z, ketakutan ini sering muncul dalam relasi pertemanan, keluarga, hingga hubungan romantis. Bukan karena ingin berbohong, tapi karena jujur terasa seperti mempertaruhkan keberadaan diri sendiri.
Dilema emosional pun mulai dirasakan hingga pilihan buat tidak jujur dianggap sebagai solusi terbaik demi menghindari risiko ditinggalkan. Kondisi ini pun semakin relate dengan sebagian besar Gen Z yang mungkin tidak takut dihakimi dibanding merasa kehilangan.
Kenapa Jujur Terasa Begitu Menakutkan?
Bagi sebagian besar Gen Z, pengalaman masa lalu membentuk pola trauma soal kejujuran yang berubah menjadi menakutkan. Pengalaman masa kecil yang membuat kejujuran kadang berujung pada hubungan yang merenggang jadi sebabnya.
Saat bersikap jujur, orang terdekat malah menjauh, muncul respons dingin, atau menarik diri. Akhirnya, otak belajar kalau jujur berarti akan kehilangan. Bukan karena kejujuran itu salah, tapi karena respons orang lain yang terasa menyakitkan.
Takut Kehilangan Lebih Besar dari Takut Disalahkan
Di era media sosial, koneksi terasa banyak tapi juga rapuh. Hubungan bisa hilang hanya karena satu perbedaan pandangan. Dalam kondisi seperti ini, rasa takut ditinggalkan sering jauh lebih besar daripada takut dikritik.
Gen Z tumbuh dengan kesadaran kalau ditinggalkan bisa berarti sendirian, kehilangan koneksi terasa seperti kehilangan identitas, dan relasi menjadi tempat bertahan hidup secara emosional. Nggak heran kalau banyak yang memilih diam, menyesuaikan diri, dan memendam isi hati.
Bentuk Ketidakjujuran yang Terlihat “Aman”
Ketakutan ini jarang muncul sebagai kebohongan besar dan lebih sering hadir dalam bentuk halus. Misalnya, bilang “nggak apa-apa” padahal kecewa, mengiyakan sesuatu demi menjaga hubungan, menyembunyikan pendapat yang memicu konflik, atau menunda kejujuran sampai “waktu yang tepat”
Dari luar terlihat dewasa, tapi di dalam justru sangat melelahkan. Hal ini terjadi karena fokus utama bukan pada kenyamanan diri sendiri tapi validasi orang lain dan kebutuhan atas relasi.
Relasi yang Bertahan Karena Diam
Ironisnya, banyak hubungan bertahan bukan karena saling memahami, tapi karena sama-sama nggak jujur. Saat kejujuran ditahan terlalu lama, hubungan memang tetap ada, tapi kehilangan kedalaman makna.
Perasaan pun mulai terasa hampa. Dekat secara fisik, tapi jauh secara emosional. Di titik ini, yang dipertahankan bukan lagi hubungan, melainkan ketakutan akan kehilangan.
Akar Psikologis: Attachment dan Pengalaman Ditinggalkan
Secara psikologis, ketakutan ini sering berkaitan dengan pola attachment. Mereka yang pernah mengalami ditinggal saat paling jujur, diabaikan karena mengungkapkan emosi, dan dicintai secara bersyarat akan belajar menekan kebenaran diri demi rasa aman.
Bukan manipulatif, tapi cara ini justru dianggap sebagai strategi bertahan hidup emosional. Namun, ada hal yang sering terlupa, yaitu kejujuran sebenarnya nggak akan menghancurkan hubungan yang sehat.
Justru kejujuran menyaring mana relasi yang benar-benar aman. Orang yang pergi setelah kamu jujur sering kali bukan bentuk kehilangan, tapi pelepasan dari hubungan yang nggak siap menerima dirimu seutuhnya.
Belajar Jujur Tanpa Kehilangan Diri
Bagi Gen Z, proses belajar jujur bukan soal bicara blak-blakan tanpa empati tapi tentang mengenali perasaan sendiri lebih dulu. Memilih waktu dan cara yang aman untuk menyampaikan dengan bahasa yang jujur tapi nggak menyerang bisa jadi solusi.
Hanya saja, kamu juga harus berani menerima kalau nggak semua orang bisa tetap tinggal. Nggak apa-apa pelan-pelan belajar karena kejujuran adalah keberanian kecil yang dilatih perlahan, bukan lompatan besar sekaligus.
Relasi Aman: Jujur Bukan Ancaman, Tapi "Undangan"
Kejujuran bukan ancaman bagi hubungan yang tepat. Sikap jujur justru "undangan" untuk bertemu di level relasi yang lebih dalam. Saat kejujuran membuat seseorang pergi, mungkin itu bukan kehilangan yang harus ditangisi.
Bisa jadi kehilangan yang dirasakan setelah jujur merupakan ruang kosong yang akhirnya memberi tempat bagi hubungan lain yang lebih sehat. Ingat, kamu nggak diciptakan untuk bertahan dengan cara menghilangkan diri sendiri.
Satu hal yang pasti, hubungan yang sehat nggak akan membuatmu merasa harus menyusut agar diterima. Dalam relasi yang aman, kejujuran memang bisa memicu ketidaknyamanan, tapi nggak akan berujung pada pengabaian.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dilema Lamaran ke-100
-
Fenomena Trust Issue Gen Z: Mengapa Mereka Tak Lagi Percaya Institusi Formal?
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi
-
Gen Z Bisa Miliki Rumah, Hunian Terjangkau Ini Jadi Alternatif di Tengah Harga Melambung
Lifestyle
-
3 Pilihan Cream Blush Murah untuk Pemula: Mudah Dibaurkan dan Tahan Lama!
-
Motorola Luncurkan Program Beta Android 17 untuk Moto Edge 2025 dan G57
-
4 Lulur Mandi Bengkoang di Bawah Rp17 Ribu, Bikin Kulit Cerah dan Halus!
-
Uang THR Cair? Ini 5 Laptop Gaming RTX Harga 15-20 Jutaan!
-
Game Ngebut, Kamera Tajam! Ini 5 HP 4 Jutaan Terbaik