Self-care bukan lagi istilah asing bagi generasi saat ini. Kesadaran bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan merawat kesehatan tubuh perlahan mulai tumbuh. Banyak orang sudah memahami bahwa lelah bukan hanya soal fisik, tapi juga soal pikiran yang terus bekerja tanpa henti.
Namun, di saat yang sama, kemajuan zaman justru ikut memberi tekanan baru pada kesehatan mental. Segalanya dituntut serba cepat, respons harus segera, produktivitas seolah tidak boleh berhenti. Istirahat sering kali terasa seperti hambatan, bukan kebutuhan.
Dari situ, muncul pemikiran yang mungkin tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua orang saja. Keinginan sederhana untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi jeda bagi diri sendiri, justru dibarengi rasa tidak enak.
“Aku ingin beristirahat sebentar, tapi kenapa rasanya serba salah, ya?”
Mengapa self-care sering membuat perasaan serba salah?
Jika mendengar kata self-care, sebagian orang masih menganggapnya sebagai tindakan melepaskan diri dari tanggung jawab demi memenuhi keinginan pribadi. Seolah-olah merawat diri berarti mengabaikan kewajiban, pekerjaan, atau peran yang sedang dijalani. Padahal, pemahaman seperti ini keliru dan memang perlu diluruskan.
Menurut Halodoc, self-care adalah perawatan diri yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan diri, baik secara fisik maupun mental. Dari sini, sebenarnya sudah cukup jelas bahwa self-care berbeda dengan selfish. Self-care berangkat dari kebutuhan untuk menjaga diri agar tetap sehat dan seimbang, sementara selfish cenderung hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain.
Lalu, jika maknanya sudah begitu jelas, kenapa rasa bersalah masih sering muncul saat seseorang mencoba melakukan self-care? Salah satu jawabannya bisa jadi datang dari budaya yang tanpa sadar kita terapkan sehari-hari. Hustle culture membuat kesibukan dan produktivitas seolah menjadi patokan utama kesuksesan. Semakin sibuk seseorang, semakin ia dianggap berhasil.
Sekilas, budaya ini memang terlihat positif. Namun tanpa disadari, tuntutan untuk terus bergerak dan bekerja justru berisiko menimbulkan kelelahan berkepanjangan. Tanpa jeda, tanpa istirahat, dan tanpa self-care, tubuh dan pikiran perlahan terkikis hingga akhirnya mengalami burnout.
Kiat Self-care Tanpa Rasa Bersalah
Secara sederhana, self-care dibutuhkan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Ketika keduanya berada dalam kondisi yang sehat, aktivitas dan pekerjaan justru bisa berjalan lebih baik. Oleh karena itu, merawat diri seharusnya tidak selalu diiringi rasa bersalah. Berikut beberapa kiat self-care yang bisa dilakukan tanpa perlu merasa egois.
1. Menerapkan hidup sehat
Mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan berolahraga secara teratur sudah termasuk bentuk self-care yang paling dasar. Tubuh yang dirawat dengan baik akan lebih kuat menghadapi tekanan sehari-hari. Selain itu, mengelola stres juga menjadi bagian penting agar pikiran tidak terus-menerus berada dalam kondisi tegang.
2. Melepas penat melalui hobi
Kembali menekuni hobi bisa menjadi cara sederhana untuk merawat diri. Melakukan hal yang disukai membantu tubuh menjadi lebih rileks dan pikiran terasa lebih tenang. Di tengah rutinitas yang padat, hobi bisa menjadi ruang kecil untuk rehat sejenak.
3. Mengisi ulang energi (recharging)
Mengisi ulang energi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti meditasi, yoga, pijat, atau sekadar berjalan santai. Kegiatan-kegiatan ini membantu memulihkan energi yang sempat terkuras setelah beberapa hari disibukkan oleh pekerjaan. Saat pikiran kembali segar, tubuh pun akan ikut terasa lebih sehat.
4. Memberi waktu untuk diri sendiri
Self-care tidak selalu harus mewah. Bahkan sepuluh menit tanpa gadget sudah cukup membantu sistem saraf yang sebelumnya tegang menjadi lebih rileks. Waktu singkat ini juga bisa menjadi langkah awal untuk melakukan digital detox dari hiruk-pikuk dunia maya.
5. Bicara jujur pada diri sendiri
Berani jujur pada diri sendiri membantu kita lebih mengenali perasaan yang sedang dialami. Pertanyaannya sederhana, “Bagaimana perasaanku hari ini?” Jika dilakukan setiap hari, kamu akan menyadari bahwa jawabannya bisa berbeda-beda. Jangan menyangkal perasaan itu, dengarkan saja. Dari sana, kebutuhan diri akan lebih mudah dipahami.
Sebagai penutup, self-care bukanlah bentuk keegoisan. Merawat diri tidak berarti mengabaikan tanggung jawab, melainkan memastikan diri agar tetap mampu dan kuat menjalani hari. Di tengah aktivitas yang semakin padat dan tuntutan yang tak pernah benar-benar berhenti, self-care justru menjadi kebutuhan, bukan sesuatu yang perlu disalahkan atau disesali.
Baca Juga
-
Hidup dalam Mode Bertahan: Realita Banyak Orang Dewasa Hari Ini
-
Standar Kecantikan: Belenggu Tak Terlihat Bagi Perempuan
-
Bahaya Doomscrolling: Mengapa Terlalu Banyak Baca Berita Bisa Merusak Mental?
-
Mendadak Jadi Wali Kota: Fenomena TheoTown di Tengah Pemain Indonesia
-
Ketika AI Disalahgunakan: Masihkah Media Sosial Aman bagi Perempuan?
Artikel Terkait
Kolom
-
Polemik Anies dan Kemenhut: Benarkah Negara Memfasilitasi Perusakan Hutan?
-
Ironi Prioritas: Saat Program MBG Menggeser Martabat Guru dan Nakes
-
Deepfake, AI, dan Ancaman Baru untuk Demokrasi Digital
-
Kesepian Kolektif di Era Konektivitas: Banyak Teman, Minim Kelekatan
-
HP Bukan Sekadar Alat Komunikasi: Peran Smartphone dalam Gaya Hidup Modern
Terkini
-
4 Film Sinemaku Pictures yang Dibintangi Prilly Latuconsina, Wajib Masuk Watchlist!
-
Sinopsis Our Universe, Drakor Baru Dibintangi Bae In Hyuk dan Roh Jeong Eui
-
Insanul Fahmi Bongkar Dua Syarat Damai dari Wardatina Mawa, Apa Saja?
-
Tamon's B-Side Meledak Berkat Anime, Manga Lakukan Cetak Ulang Darurat
-
Kesan Jason Momoa Syuting Film Bareng Sang Anak: Benar-benar Menakutkan