Bimo Aria Fundrika | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi suasana pembelajaran di kelas (Pexels/el jusuf)
Zahrin Nur Azizah

Menjadi seorang guru di era sekarang memiliki tantangan yang berbeda jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Perbedaan mendasar yang paling terasa bukan hanya pada sistem pendidikan, melainkan pada karakter peserta didik yang dihadapi saat ini.

Anak-anak zaman sekarang tumbuh dan akrab dengan teknologi, sebuah kondisi yang tidak dialami oleh murid di masa lalu. Hal ini secara otomatis membentuk pola pikir, sikap, dan cara berkomunikasi yang sangat berbeda. Akibatnya, cara mereka memandang dan merespons aturan sekolah pun tidak lagi sama dengan dahulu.

Meskipun begitu, pergeseran zaman ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Fenomena ini justru menjadi panggilan baru bagi para guru untuk terus beradaptasi dan memperbarui metode mengajarnya. Guru dituntut untuk selalu kreatif dalam mencari pendekatan yang relevan agar tetap bisa terhubung dengan generasi sekarang.

Namun, di tengah perubahan tersebut, beban kerja dan peran guru menjadi jauh lebih kompleks. Jika dahulu sosok guru yang tegas sangat disegani, kini guru berada di posisi yang cukup sulit.

Guru tidak hanya dituntut untuk bekerja secara profesional dan menjaga etika profesi, tetapi juga diharapkan bisa menjadi teman bagi peserta didik. Mereka diminta untuk memahami emosi setiap anak dan menghindari kesan "galak" agar tidak menimbulkan konflik. Sayangnya, menjaga keseimbangan antara ketegasan aturan dan kedekatan emosional ini sering kali sulit dilakukan secara bersamaan di dalam kelas.

Profesionalitas Guru di Ruang Kelas

Sejak dulu, guru dikenal sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Mereka tidak hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap dan perilaku. Di depan kelas, guru dituntut bersikap adil, objektif, dan profesional, termasuk dalam menegakkan aturan serta memberikan evaluasi pembelajaran.

Namun, ketegasan sering kali disalahartikan. Tidak sedikit peserta didik yang melabeli guru tegas sebagai sosok kaku, galak, atau tidak seru. Bahkan ada yang merasa takut, atau tidak terima ketika mendapat hukuman atas pelanggaran yang dilakukan.

Dalam situasi ekstrem, ketidakpuasan ini bisa berujung pada pelaporan kepada pihak berwajib. Di titik inilah posisi guru menjadi serba salah. Ingin menegur peserta didik yang melanggar, tetapi dihantui rasa takut berhadapan dengan konsekuensi hukum.

Guru sebagai Teman bagi Peserta Didik

Di sisi lain, guru juga dituntut untuk dekat dengan peserta didik. Kurikulum saat ini menekankan pendekatan student-centered, di mana peserta didik didorong lebih aktif dalam proses belajar, bukan sekadar menjadi pendengar pasif. Agar kelas berjalan hidup, guru perlu membangun kedekatan dan pendekatan personal.

Dalam peran ini, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan kematangan emosi peserta didik. Sehingga perlu juga memahami dunia mereka, sekaligus mengajarkan cara mengelola emosi dan bersikap dengan tepat.

Namun kedekatan ini menyimpan risiko. Ketika batas mulai kabur, tidak sedikit peserta didik yang benar-benar menganggap guru sebagai teman sebaya. Rasa hormat perlahan memudar, dan sopan santun pun ikut mengendur.

Menjaga Batas antara Empati dan Disiplin

Di sinilah dilema itu menguat. Guru dituntut empatik, tetapi tetap harus disiplin. Menjadi dekat tanpa kehilangan wibawa sekaligus menjadi tegas tanpa kekerasan. Batas antara guru sebagai pendidik dan guru sebagai “teman” perlu dibuat dengan jelas, meskipun tidak mudah.

Upaya untuk menjaga batasan dalam mendidik ini tidak seharusnya menjadi beban guru sendirian. Dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak agar tercipta lingkungan yang sehat.

Pertama, sekolah perlu hadir dengan menyediakan sistem penanganan konflik yang adil bagi semua pihak. Kedua, peran orang tua sangat krusial untuk menanamkan nilai-nilai rasa hormat kepada anak mereka. Selain itu, dukungan masyarakat juga sangat dibutuhkan agar tidak serta merta langsung menghakimi. Kita perlu ingat bahwa guru bukanlah malaikat yang sempurna tanpa cela, namun mereka juga bukan sosok yang pantas untuk dimusuhi.

Oleh karena itu, profesionalitas dan kedekatan emosional seharusnya saling melengkapi, bukan malah dianggap saling berlawanan. Relasi yang sehat di ruang kelas hanya bisa terwujud ketika semua pihak mau memahami bahwa mendidik anak bukan perkara sederhana.

Agar pendidikan berjalan maksimal, guru tidak boleh terus-menerus disalahkan. Mendidik membutuhkan kepercayaan dan dukungan dari semua pihak, bukan rasa takut yang menghantui guru. Dengan begitu, guru tetap bisa bersikap profesional namun tetap mampu membangun rasa saling percaya dengan peserta didik.