Sobat Yoursay, rencana pengangkatan puluhan ribu PPPK di Badan Gizi Nasional memperjelas skala prioritas ketakutan negara.
Tampaknya, pemerintah jauh lebih cemas jika program unggulannya tidak berjalan mulus, ketimbang merasa khawatir akan kehilangan para pejuang lama yang selama ini telah menopang sistem pendidikan dan kesehatan kita. Ini bukanlah asumsi, melainkan pembacaan atas pola kebijakan yang secara bertahap menyusun hierarki mengenai apa yang dianggap paling berharga oleh negara.
Mari kita bahas. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program besar, mahal, dan politis. program ini secara langsung menyentuh anak-anak, gizi, masa depan bangsa, dan tentu saja citra pemerintah.
Wajar jika negara ingin memastikan program ini berjalan mulus. Maka rekrutmen dilakukan cepat, massal, dan nyaris tanpa hambatan. Formasi jelas, jadwal pasti, bahkan jalur pendidikannya pun sudah disiapkan.
Namun di sisi lain, sobat Yoursay, ada profesi-profesi yang telah bertahun-tahun menopang negara tanpa sorotan kamera.
Mereka adalah guru honorer yang digaji ratusan ribu rupiah per bulan dan tenaga kesehatan yang berkali-kali ikut seleksi PPPK dengan peluang yang selalu tipis. Mereka bertahan hanya karena rasa tanggung jawab dan keterikatan emosional pada pekerjaannya. Anehnya, kehilangan mereka tidak pernah diperlakukan sebagai ancaman serius oleh negara.
Negara tampak sangat takut jika sebuah program unggulan tersendat. Tapi negara tidak tampak panik ketika guru honorer memilih berhenti, pindah profesi, atau kehilangan semangat. Seolah-olah manusia bisa selalu diganti, selama program tetap berjalan.
Sobat Yoursay, kita tidak sedang menyalahkan pegawai MBG atau lulusan SPPI. Mereka berhak atas pekerjaan dan kepastian. Yang patut dipertanyakan adalah logika kebijakan di baliknya. Mengapa negara bisa begitu cepat menciptakan kepastian bagi pelaksana program baru, tapi begitu lamban memberi kejelasan bagi mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi?
Jawabannya mungkin karena kegagalan program akan terlihat, sementara kelelahan honorer tidak. Program yang gagal bisa menjadi bahan kritik politik, sorotan media, bahkan ancaman elektoral. Tapi honorer yang lelah, frustrasi, lalu pergi, sering kali hanya dianggap statistik.
Ketakutan negara, tampaknya, lebih besar pada kegagalan yang bisa dipotret, dibanding penderitaan yang hanya bisa dirasakan.
Sobat Yoursay, mari kita sejenak membayangkan skenario sebaliknya. Bagaimana jika suatu hari guru honorer mogok massal? Bagaimana jika tenaga kesehatan di daerah terpencil benar-benar berhenti karena kelelahan? Bukankah dampaknya jauh lebih fatal bagi bangsa dibanding satu program yang tertunda? Tapi negara seolah percaya, mereka akan selalu ada, sabar, dan bertahan.
Kesabaran honorer telah lama menjadi semacam jaring pengaman tak resmi bagi negara. Tanpa kontrak layak, tanpa gaji pantas, mereka tetap bekerja. Ironisnya, kesetiaan ini justru membuat negara merasa aman untuk menunda. Karena toh sistem tidak runtuh. Sekolah tetap buka, dan puskesmas tetap beroperasi. Maka urgensi pun menghilang.
Sobat Yoursay, apa yang sebenarnya ditakuti oleh negara? Apakah benar-benar kesejahteraan rakyat, atau kegagalan kebijakan yang bisa mencoreng wajah kekuasaan? Karena dari cara negara bergerak, jawabannya mulai terlihat.
Negara seharusnya takut kehilangan manusianya, bukan hanya takut programnya gagal. Karena takut kehilangan guru berarti takut kehilangan masa depan pendidikan. Dan takut kehilangan nakes berarti takut kehilangan nyawa rakyat. Ketakutan semacam itu seharusnya cukup untuk mendorong kebijakan yang adil dan berimbang.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Program diberi kepastian, manusia diberi janji. Program diberi tenggat, manusia justru diberi harapan. Dan harapan, sobat Yoursay tahu, adalah bentuk penundaan yang paling halus.
Artikel ini bukan ajakan menolak MBG. Anak-anak memang butuh gizi. Tapi anak-anak juga butuh guru yang tidak hidup dalam kecemasan, dan tenaga kesehatan yang tidak kelelahan secara struktural.
Mungkin sudah saatnya negara menata ulang rasa takutnya. Takutlah pada ketidakadilan yang diwariskan. Takutlah pada kelelahan yang dibiarkan. Karena sobat Yoursay, program bisa berganti setiap periode. Tapi luka karena diabaikan, sering kali tinggal jauh lebih lama.
Baca Juga
-
Di Balik Target Khatam: Bicara Jujur tentang Ramadan dan Privilege Ibadah
-
Prabowo Bilang 'Siap-Siap Sulit', Rakyat Menjawab: 'Pak, Kami Sudah Sulit!'
-
Hari Perempuan Internasional: Saatnya Berhenti Membeli Narasi Kesempurnaan
-
Dilema Gorden Warteg: Hormati yang Puasa atau Hargai yang Cari Nafkah?
-
Bakti Tanpa Gaji Anak Perempuan: Karier Melesat, Tapi di Rumah Otomatis Jadi Perawat
Artikel Terkait
-
Gaji Guru Dinilai Tak Layak, Komisi X DPR Dorong Upah Minimal Rp 5 Juta
-
Gaji Guru Honorer Cuma Rp200-500 Ribu, DPR Ingatkan Negara: Pembiaran Adalah Bentuk Pelanggaran HAM
-
DPR Beri 'Lampu Hijau' Pegawai Inti SPPG Jadi ASN: Tapi Tetap Harus Penuhi Kriteria
-
Bahaya Kecemburuan Kebijakan: Saat Honorer Lama Merasa Dianaktirikan
-
Guru Honorer: Upah Tak Layak di Balik Beban Kerja yang Penuh
Kolom
-
Idulfitri Jalur Zen: Strategi Ibu-Ibu Hadapi Pertanyaan "Mana Calon Menantunya?".
-
Jangan Pusing Masalah Keluarga, Bu Anna Punya Teh dan Roti Buat Penenangnya
-
Generasi Overthinking di Era Over-Information
-
Di Balik Target Khatam: Bicara Jujur tentang Ramadan dan Privilege Ibadah
-
Prabowo Bilang 'Siap-Siap Sulit', Rakyat Menjawab: 'Pak, Kami Sudah Sulit!'
Terkini
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
-
Bingung Pilih Skincare? Yoursay Class Bareng Mydervia Punya Jawabannya
-
Bye Kulit Kering! 4 Cleanser Glycerin Bikin Lembap Tahan Lama Selama Puasa
-
Ramadan Connect by Yoursay: Diskusi New Media Jogja soal Niche dan Cuan