Apakah motivasi saja cukup untuk menguasai sebuah keahlian? Ataukah ada faktor lain yang lebih menentukan? Bagaimana jika suatu keahlian dapat dilakukan secara otomatis, tanpa perlu motivasi dan tanpa banyak berpikir? Buku karya Ustaz Felix Siauw berjudul How to Master Your Habits hadir sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Sejak bagian blurb, sudah ditegaskan bahwa buku ini bukan buku motivasi. Dan bagi saya, klaim itu terbukti seratus persen. Salah satu contohnya adalah kebiasaan menulis yang sebelumnya hanya menjadi wacana, tetapi perlahan berubah menjadi praktik nyata setelah membaca buku ini.
Resensi Buku
Buku ini diawali dengan memperkenalkan tokoh-tokoh besar, seperti Imam Syafii yang menghafal Alquran pada usia 7 tahun dan menghafal Kitab Al-Muwatha pada usia 12 tahun; Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun; kehebatan Aisyah r.a. yang meriwayatkan sekitar 2.100 hadis; hingga kesuksesan Eiichiro Oda dengan komik One Piece-nya.
Sebagian orang menganggap pencapaian mereka semata-mata karena dilebihkan oleh Allah Swt., sehingga wajar jika seseorang mampu menguasai banyak keahlian sekaligus. Namun, buku ini menegaskan bahwa keahlian bukanlah warisan, melainkan hasil dari pengulangan. Hal ini dianalogikan dengan pesulap yang mengeluarkan seekor merpati dari topi kosong. Itu bukan keajaiban, melainkan hasil dari latihan yang dilakukan berkali-kali.
Materi utama buku ini membahas tentang habits (kebiasaan): apa itu habits, bagaimana cara mengendalikannya, hingga praktik penerapannya. Habits adalah sesuatu yang kita lakukan secara otomatis, tanpa perlu berpikir panjang.
Ustaz Felix langsung menghadapkan pembaca pada sebuah teks Arab gundul dan meminta pembaca untuk membacanya. Bagi sebagian orang, hal itu mudah. Namun, bagi sebagian lainnya, satu huruf pun tidak dapat dibaca. Pada halaman berikutnya, ditampilkan teks Surah Al-Fatihah dalam bentuk Arab gundul. Dalam waktu kurang dari satu menit, hampir semua pembaca dapat membacanya. Padahal, keduanya sama-sama Arab gundul. Inilah perbedaan mendasar antara sesuatu yang telah menjadi habits dan yang belum.
Diatur atau tidak, habits akan selalu muncul—baik kebiasaan yang baik maupun yang buruk. Sebab sejatinya, yang mendorong hampir setiap tindakan manusia adalah habits. Habits diibaratkan seperti spiral yang terus berputar: bisa membesar atau mengecil, tergantung bagaimana kita mengendalikannya. Buku ini juga menjelaskan bahwa komposisi habits terdiri atas practice (latihan) dan repetition (pengulangan). Dijelaskan pula berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah kebiasaan.
Pada bagian akhir, Ustaz Felix mengajak pembaca langsung mempraktikkan isi buku dengan menulis. Caranya sederhana: siapkan alat tulis apa pun, lalu tulislah apa saja terlebih dahulu. Tentukan target, misalnya menulis satu jam setiap hari setelah subuh. Bahkan, setelah selesai membaca buku ini pun, pembaca sebenarnya sudah memiliki satu habits baru, yaitu memahami konsep habits itu sendiri—hasil dari pengulangan ide dan kata yang terus ditanamkan sepanjang buku.
Kelebihan Buku
Semua pembahasannya adalah “daging”, tetapi tidak terasa berat. Meski sarat teori, buku ini tetap mudah dipahami karena sebelum masuk ke teori inti, Ustaz Felix dengan piawai memberikan ilustrasi, bayangan, dan contoh yang sederhana, bahkan dapat dipahami oleh anak sekolah dasar sekalipun.
Kekurangan Buku
Buku ini memiliki banyak pengulangan. Hal-hal yang sudah dibahas di awal kembali diulang di bagian tengah dan akhir dengan tujuan membentuk habits itu sendiri. Namun, bagi pembaca yang sudah memahami sejak awal, beberapa bagian terasa bisa dilewati.
Selain itu, penggunaan kertas HVS serta latar ilustrasi hitam-putih di setiap halaman membuat pengalaman membaca kurang nyaman, terlepas dari kualitas materi yang sangat baik.
Identitas Buku
- Judul: How to Master Your Habits
- Penulis: Felix Siauw
- Tahun Terbit: 2012
- Penerbit: Alfatih Press
- ISBN: 978-602-17997-2-7
Baca Juga
-
The Traveling Cat Chronicles: Jejak Kesetiaan Nana Menembus Batas Waktu
-
Membaca Haru no Sora: Mengapa Si Tukang Bully Berhak untuk Terluka?
-
Review The Wizard of Oz: Dongeng Klasik tentang Perjalanan Menemukan Diri
-
Mystery Theater: Perjalanan Lintas Waktu Nebula Mengungkap Korupsi Sekolah
-
The Apothecary Diaries Season 2: Rahasia Kelam Maomao dan Silsilah Rumit Kekaisaran
Artikel Terkait
-
Novel 14 Days Isabella: Seni Mencintai Diri di Tengah Keluarga yang Retak
-
Review Novel O Eka Kurniawan: Satir Pedas Tentang Monyet Berambisi Jadi Manusia
-
Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
-
Ulasan Novel The Devil Who Tamed Her: Intrik Cinta di Kalangan Bangsawan
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
Ulasan
-
Review The Gangster, The Cop, The Devil: Adu Brutal Polisi Nekat dan Bos Mafia Melawan Sang Iblis
-
The Traveling Cat Chronicles: Jejak Kesetiaan Nana Menembus Batas Waktu
-
The Furious, Bukti Film Aksi Asia Masih Sulit Dikalahkan Hollywood
-
Review Cerita Lila: Horor Psikologis yang Lebih Menakutkan dari Sekadar Penampakan
-
Sisi Protektif Victor Ma Pada Zhao Lusi yang Relate dalam Drama Hidden Love
Terkini
-
100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?
-
Tanpa Jeda
-
Bertajuk 'The Sin: Bliss,' ENHYPEN Umumkan Comeback pada Bulan Agustus
-
It Girl Vibes! 4 Ide OOTD Kasual ala Roh Yoon Seo yang Cocok Buat Gen Z
-
Sinopsis Daikuko: GATE24, Drama Jepang Terbaru Shuri dan Maeda Gordon