Tuhan Maafkan Masa Laluku adalah buku karya Robi Afrizan yang sebelumnya pernah terbit dengan judul Tuhan Maafkan, Saya Pernah Pacaran. Buku ini ditulis untuk pembaca yang merindukan kedamaian hati, ingin berdamai dengan masa lalu, serta mendambakan hubungan yang lebih islami. Secara umum, buku ini menjadi panduan bagi siapa saja yang ingin keluar dari jerat dosa yang sering dianggap biasa: pacaran.
Sinopsis
Penulis mengawali buku ini dengan mengajak pembaca melakukan refleksi diri, menengok masa lalu, dan belajar berdamai dengan kesalahan yang pernah dilakukan. Pembaca diajak untuk memohon ampun kepada Allah, lalu membuka lembaran baru melalui pembahasan demi pembahasan dalam buku ini.
Pada bagian berikutnya, Robi Afrizan membahas westernisasi dan dampaknya terhadap gaya hidup generasi muda. Ia merangkum pengaruh budaya Barat dalam konsep “4F”: food, fashion, free sex, dan pacaran. Penulis menekankan bahwa pacaran, meskipun dianggap wajar, sangat mungkin berasal dari budaya luar yang bertentangan dengan nilai Islam.
Buku ini juga menjelaskan siklus pacaran dengan cukup detail: dimulai dari munculnya rasa suka, lalu stalking, berkenalan lewat media sosial atau kode-kode tertentu, berlanjut ke PDKT, hingga tahap menyatakan perasaan dan resmi “jadian”. Setelah itu, muncul masa-masa manis yang perlahan berubah menjadi hambar, lalu berujung pada kekecewaan. Penulis menegaskan bahwa siklus seperti ini sering terjadi pada banyak hubungan, kecuali jika seseorang berani mengubah arahnya.
Salah satu bab yang menonjol adalah Betapa Lucunya Pacaran. Di bab ini penulis membongkar berbagai motivasi pacaran, misalnya agar semangat ibadah, saling mengingatkan tahajud, memakai panggilan “abi-umi”, pergi shalawatan bersama, dan alasan lain yang tampak islami. Namun menurut penulis, semua itu sering kali hanyalah nafsu yang dibungkus agama. Selain itu, dibahas pula alasan pacaran seperti “mumpung muda”, “sekadar coba-coba”, “karena manusia itu normal”, hingga alasan yang dianggap paling berbahaya: pacaran atas nama dakwah.
Penulis juga menghadirkan cerpen yang disertai referensi, tentang fenomena perempuan berjilbab yang tetap pacaran, serta kemunafikan orang yang rajin menasihati namun justru melanggar apa yang ia ucapkan sendiri. Kritik ini terasa tajam terutama pada fenomena “ukhti-ukhti” yang tampak religius tetapi tidak menjaga batasan.
Bagian lain membahas perbedaan antara cinta yang tulus dan hubungan yang penuh modus. Penulis juga memberikan panduan memilih calon pasangan sesuai syariat Islam, disertai dalil dari hadis, ayat Al-Qur’an, serta pendapat para ulama.
Selain itu, buku ini membahas fenomena Valentine pada bulan Februari. Penulis menguraikan sejarahnya yang berkaitan dengan mitologi Yunani dan nilai-nilai yang dianggap kelam, termasuk unsur perzinahan. Dari sini pembaca diajak merenung: apakah sebagai seorang Muslim pantas ikut-ikutan merayakannya?
Pada bagian akhir, penulis menyampaikan harapan agar pembaca yang terlanjur pacaran segera mengambil keputusan: menghalalkan hubungan melalui pernikahan atau mengakhirinya. Hidup harus dijalani dengan lebih bermakna, karena waktu tidak pernah kembali, dan tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput.
Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca oleh remaja maupun dewasa muda yang ingin berhenti pacaran dan memperbaiki diri. Bahkan, buku ini juga cocok dijadikan kado untuk teman yang ingin menasihati sahabatnya yang masih terjerat pacaran, karena terkadang kata-kata dalam buku lebih mampu menyentuh daripada nasihat langsung
Kelebihan
Kelebihan utama buku ini adalah gaya bahasanya yang ringan, seolah penulis sedang berbicara langsung dengan pembaca. Buku ini tidak hanya menyalahkan perempuan, melainkan menegur kedua belah pihak secara tegas. Selain itu, pembahasan diperkuat dengan referensi Al-Qur’an, hadis, serta pendapat ulama, sehingga isinya tidak sekadar opini atau cerita motivasi kosong.
Kekurangan
Kekurangan buku ini terletak pada banyaknya repetisi atau pengulangan pembahasan yang sama di beberapa bagian. Hal tersebut membuat beberapa bab terasa bisa dilewati. Bagi pembaca yang belum pernah pacaran, isi buku ini juga berpotensi terasa monoton karena fokusnya dari awal hingga akhir tetap pada satu isu utama, yaitu pacaran
Identitas Buku
Judul: Tuhan Maafkan Masa Laluku
Penulis: Robi Afrizan
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2023
ISBN: 978-623-00-4876-1
Baca Juga
-
Sianida di Balik Topeng Kesopanan Bangsawan Inggris dalam An English Murder
-
Jeng Yah dan Perlawanan Sunyi Merebut Ruang Sejarah dalam 'Gadis Kretek'
-
Mengenang Penyintas PD II dan Tenggelamnya Gustloff dalam Salt to The Sea
-
Jejak Majapahit dan Aroma yang Menjerat Keserakahan dalam Aroma Karsa
-
Menguak Penadah Barang Curian dalam Lima Sekawan Memburu Kereta Api Hantu
Artikel Terkait
Ulasan
-
Di Balik Lampion Merah: Asal-usul Imlek yang Penuh Makna
-
Seni Bertahan Hidup Ala Sandwich Generation di Buku From Zero to Survive
-
Eksotika dan Keseruan Glamping di Lembah Bromo Malang
-
Realitas dan Mitos: Menyusuri Narasi Jawa dalam Novel Kereta Semar Lembu
-
Ulasan Buku Kios Pasar Sore, Potret Keseharian yang Sering Terlupakan
Terkini
-
Krisis Air Bersih di Indonesia: Masalah Tahunan yang Belum Usai
-
Sinopsis O' Romeo, Film Aksi India Terbaru Shahid Kapoor dan Triptii Dimri
-
5 Digicam Terbaik 2026 Harga Rp23 Jutaan, Cocok untuk Foto Estetik
-
4 Cleansing Oil LHA, Angkat Makeup Waterproof hingga Komedo Tanpa Iritasi
-
8 Drakor SBS yang Tayang 2026, Ada Phantom Lawyer hingga Good Partner 2