Pernahkah kita terpikir bahwa identitas yang kita ciptakan di internet bisa berbalik menyerang kita sendiri, atau bahkan menjadi sarana untuk membalas dendam yang sangat berbahaya?
Dalam karya "Kerumunan Terakhir", Okky Madasari menggambarkan kenyataan pahit dari kehidupan manusia modern yang terjebak antara dua dunia. Melalui karakter Jayanegara, kita diajak untuk memahami bahwa "kerumunan" kini tidak hanya sekadar kelompok fisik di stasiun tua, tetapi juga kumpulan anonim di ranah digital yang dapat mengangkat atau meruntuhkan harga diri seseorang dalam sekejap.
Pelarian, Kepalsuan, dan Dendam yang Terbalas
Jayanegara adalah seorang pemuda berasal dari keluarga yang memiliki reputasi baik di Yogyakarta yang memilih untuk menjalani hidup tanpa arah sebagai bentuk pelarian.
Ayahnya, Bapak Sukendar, merupakan seorang akademisi yang berhasil dan dihormati oleh masyarakat, namun di balik itu terdapat sisi kelam sebagai seorang penggila perselingkuhan. Ketidakstabilan di rumahnya mendorong Jayanegara untuk pergi ke Jakarta mengikuti kekasihnya, Maera, seorang perempuan yang memiliki ambisi tinggi yang menjadi sumber kekuatan Jayanegara yang tidak memiliki pekerjaan.
Dalam suasana hampa di Jakarta, Jayanegara menemukan "hiburan baru": dunia maya. Ia menciptakan identitas lain dengan nama Matajaya, yang menjadi popular dan diperhatikan banyak orang. Melalui sosok Matajaya, Jayanegara melawan ayahnya dengan membongkar sisi hitam sang Dekan di hadapan publik digital.
Namun, dunia yang ia anggap sebagai jalan keluar justru berbalik terhadapnya. Ketidakbenaran sosok Matajaya terungkap, dan malangnya, Maera, kekasihnya—justru menjadi korban pelecehan oleh Arkadewa, seorang idola tiruan di dunia maya. Meskipun mereka berusaha mencari ketenangan di tempat terpencil di lereng Gunung Suroloyo, "kerumunan" masa kini tetap dapat menemukan dan mengoyak kembali luka mereka.
Kelebihan
Kecermatan Okky Madasari dalam menangkap fenomena sosial merupakan kekuatan utama dari novel ini. Ia dengan tajam menggambarkan pergeseran manusia dari budaya lisan dan fisik menuju budaya digital yang sarat dengan kepalsuan. Tokoh Jayanegara digambar dengan sangat manusiawi; seorang anak yang mendambakan keadilan, meskipun memilih jalan yang juga bermasalah.
Interaksi antara Jayanegara dan ayahnya berfungsi sebagai simbol yang menarik mengenai bagaimana citra publik sering kali hanya merupakan penutup dari keburukan pribadi. Okky juga dengan berani membahas isu mengenai pelecehan seksual di dunia digital melalui pengalaman Maera dan Nura, menunjukkan bahwa para pelaku bisa menyembunyikan diri di balik narasi-narasi yang cerdas dan menarik di internet.
Pembaca akan dihadapkan pada cerita yang relevan mengenai betapa sulitnya bagi individu masa kini untuk benar-benar "menghilang" dan memulai hidup baru. Pesan moral mengenai kejujuran ibu Jayanegara yang mampu menggoyahkan kekuasaan ayahnya memberikan nuansa tersendiri tentang kekuatan literasi, meskipun harus dibayar mahal dengan hilangnya privasi.
Jika dibandingkan dengan karya Okky yang lain, novel ini terasa sangat modern dan berani mencerminkan wajah netizen saat ini. Meskipun beberapa bagian dari alur cerita terasa padat dan meninggalkan tanda tanya tentang nasib tokoh-tokoh pendukung, kedalaman isu yang diangkat tetap menjadikannya sebuah karya penting untuk dibaca di tengah keramaian media sosial.
"Kerumunan Terakhir" adalah cermin bagi kita yang setiap hari berselancar di dunia maya. Okky Madasari mengingatkan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar sunyi selama kita masih membawa jejak digital. Novel ini bukan hanya sekadar ulasan tentang kehidupan seorang pemuda yang gagal, tapi sebuah peringatan keras tentang betapa rapuhnya harga diri manusia di hadapan kerumunan orang-orang muda modern. Sebuah bacaan yang sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang mulai merasa asing dengan dirinya sendiri di balik layar gawai. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beritahu!.
Identitas Buku:
- Judul: Kerumunan Terakhir
- Pengarang: Okky Madasari
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utam
- Tahun terbit: 2016
- Tebal halaman : 360 halaman
Baca Juga
-
Review Toko Buku Gerbang Kota: Ketika Buku Menjadi Penyembuh Kesepian
-
Falsafah Siri dan Pidato Presiden: Menakar Keadaban Lisan Pemimpin Kita
-
Runtuhnya Republik Marilah Cerita Sebelum Fajar Tiba
-
Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna: Teman Teduh Memeluk Kerapuhan
-
Socrates di Meja Tongkrongan, Mengapa Banyak Belajar Bikin Pendiam?
Artikel Terkait
News
-
Bukan Lagi Kejadian Langka: Suhu 41,7C Lumpuhkan Eropa dan Renggut 1.300 Nyawa
-
Menemukan Makna Wellbeing dari Hal Sederhana Lewat Just Appreciate Today
-
Tak Lagi Asal Jalan: Standar Keamanan Jip Bromo Akan Segera Diperketat
-
Dolar AS Menguat, Haruskah Kita Mulai Mengencangkan Ikat Pinggang Sekarang?
-
Menjaga Nostalgia, Merangkul Semua: Upaya Orutaku Club Agar Tetap Inklusif
Terkini
-
Mengapa Hati Saya Tak Pernah Hanya untuk Argentina saat Piala Dunia
-
Penyakit Lama Kambuh, Jerman Kembali Tersingkir Dini dari Ajang Piala Dunia
-
Code Kunst Dikabarkan Putus Setelah 8 Tahun Pacaran, Agensi Buka Suara
-
Rilis Teaser PV, Anime The Kept Man of the Princess Knight Siap Tayang 2027
-
Mengapa Sebagian Ibu Membenci Putrinya? Mengurai Luka Batin yang Diwariskan