Hayuning Ratri Hapsari | Leonardus Aji Wibowo
(Dari kiri) Jemsii, Naykilla, Tenxii yang mempopulerkan genre HipDut (YouTube/Folkative)
Leonardus Aji Wibowo

Lagu Garam & Madu ramai berseliweran di TikTok sebagai sound berbagai konten, mulai dari video joget, transition, sampai story time, dan tanpa sadar jadi pintu masuk banyak Gen Z mengenal hipdut sebagai warna baru dalam dunia musik dangdut. Lagu ini bukan cuma viral, tapi juga jadi simbol perubahan cara anak muda melihat dangdut, dari yang dulu dianggap “musik orang tua”, kini justru terasa dekat, seru, dan relevan dengan gaya hidup digital mereka.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi juga ruang distribusi budaya, tempat genre musik baru lahir, berkembang, dan menemukan audiensnya sendiri. TikTok, Instagram, dan Spotify menjadi ekosistem yang mempercepat penyebaran musik, sekaligus membentuk selera pendengar muda yang lebih terbuka terhadap eksplorasi genre.

Dari fenomena itu, hipdut mulai dikenal sebagai gaya musik yang memadukan dangdut dengan sentuhan hip-hop dan beat elektronik, sehingga menghadirkan nuansa baru yang lebih segar, dinamis, dan terasa lebih “kekinian”. Perpaduan ini bikin dangdut nggak lagi terasa kaku, tapi justru fleksibel, mudah masuk ke berbagai platform digital, dan cepat menyatu dengan budaya konten yang lekat dengan keseharian Gen Z.

Hipdut hadir bukan sebagai bentuk penolakan terhadap dangdut lama, melainkan sebagai bentuk transformasi. Nilai-nilai musikal dangdut tetap ada, tetapi dikemas ulang dalam format yang lebih dekat dengan ritme hidup anak muda, baik dari sisi tempo, aransemen, maupun visualisasi.

Popularitas genre ini juga nggak lepas dari peran Tenxii, Naykilla, dan Jemsii yang membawa dangdut ke ruang digital dengan pendekatan yang lebih modern, baik dari sisi aransemen musik, visual, maupun lirik yang terasa lebih relate dengan realitas anak muda. Mereka bukan sekadar bikin lagu, tapi juga membentuk cara baru menikmati dangdut lewat platform seperti TikTok dan Spotify, di mana musik bukan cuma didengar, tapi juga jadi bagian dari konten, ekspresi diri, dan identitas sosial.

Dalam konteks ini, musik tidak lagi berdiri sendiri sebagai karya audio, tetapi menjadi bagian dari ekosistem visual, narasi digital, dan budaya sharing. Lagu bisa hidup dalam potongan video pendek, tren joget, hingga narasi personal yang dibagikan pengguna.

Hipdut kemudian berkembang bukan cuma sebagai genre musik, tapi juga sebagai bagian dari budaya populer Gen Z, karena lagunya mudah dipotong jadi sound, enak dipakai buat konten pendek, dan cepat menyebar lewat algoritma media sosial. Dari sini, hipdut bukan hanya soal lagu viral, tapi juga tentang bagaimana musik lokal bisa hidup berdampingan dengan budaya digital yang serba cepat dan instan.

Genre ini juga memperlihatkan bahwa musik lokal tidak harus kalah dengan dominasi genre global. Justru dengan identitas lokal yang dikemas modern, hipdut mampu membangun ruangnya sendiri di tengah arus globalisasi musik.

Perbincangan soal hipdut juga sempat ramai ketika Tenxii menyebut genre ini dalam momentum AMI Awards, yang kemudian memicu diskusi warganet tentang siapa sebenarnya yang lebih dulu mempopulerkan gaya perpaduan hip-hop dan dangdut. Banyak netizen menilai bahwa NDX A.K.A. sudah lebih dulu menghadirkan konsep serupa sejak lama, meski saat itu belum dikenal dengan istilah hipdut seperti sekarang.

Diskusi ini memperlihatkan bahwa hipdut bukan sekadar tren sesaat, tetapi bagian dari proses panjang evolusi dangdut itu sendiri. Genre ini tumbuh dari sejarah, eksperimen, dan adaptasi yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Perdebatan ini justru memperlihatkan bahwa hipdut bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari proses panjang transformasi dangdut yang terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Bagi Gen Z, hipdut bukan cuma soal musik viral, tapi juga tentang cara baru memandang dangdut sebagai musik lokal yang bisa tampil modern, fun, dan tetap relevan di tengah dominasi musik global.

Lewat hipdut, dangdut menunjukkan bahwa ia tidak pernah benar-benar ditinggalkan, hanya berubah wajah agar bisa tetap hidup di ruang digital dan tetap dekat dengan generasi baru tanpa kehilangan identitas budayanya. Genre ini menjadi bukti bahwa musik lokal bisa terus berkembang, beradaptasi, dan menemukan audiens baru tanpa harus kehilangan akarnya sendiri.