Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi flexing sedekah (Pexels/RDNE Stock project)
e. kusuma .n

Di era media sosial, hampir semua aktivitas bisa dibagikan secara terbuka, termasuk sedekah. Apalagi saat bulan Ramadan, sedekah semakin membudaya dan banyak dibagikan ke media sosial dengan dalih inspirasi.

Semua aktivitas sedekah tampil sebagai konten yang rapi, estetik, dan sarat sisi emosional. Fenomena ini sering disebut sebagai flexing sedekah. Pertanyaannya, apakah ini bentuk inspirasi yang baik, atau justru membuat makna sedekah menjadi kabur?

Topik ini semakin relevan di momen seperti Ramadan ketika semangat berbagi meningkat tajam. Di satu sisi, konten sedekah bisa memicu gerakan sosial yang positif. Namun di sisi lain, muncul kritik bahwa kebaikan hanya demi pencitraan dan validasi publik.

Apa Itu Flexing Sedekah?

Flexing sedekah merujuk pada kebiasaan memamerkan aktivitas berbagi atau donasi di media sosial secara terang-terangan. Biasanya, konten tersebut menampilkan nominal uang, jumlah bantuan, atau reaksi penerima yang dibuat dramatis.

Secara definisi, flexing identik dengan pamer. Ketika digabungkan dengan sedekah, istilah ini memunculkan dilema, apakah berbagi kebaikan tetap bernilai jika dipublikasikan secara luas?

Dalam ajaran agama, sedekah memang dianjurkan dilakukan dengan ikhlas. Bahkan ada konsep kalau tangan kiri tidak perlu tahu apa yang diberikan tangan kanan. Namun, di era digital, batas antara berbagi inspirasi dan pamer menjadi semakin tipis.

Sedekah di Momen Ramadan: Antara Niat dan Dampak

Salah satu aspek paling penting dalam membahas fenomena flexing sedekah, terutama di momen Ramadan, adalah niat. Seseorang bisa saja membagikan aktivitas sedekah dengan tujuan mengajak orang lain ikut berbuat baik.

Dari sisi dampak sosial, konten sedekah terbukti mampu meningkatkan partisipasi publik. Efek domino yang muncul sebagai dampak inspirasi menunjukkan bahwa publikasi kebaikan bisa menjadi alat mobilisasi yang efektif.

Namun, masalah muncul ketika fokus utama bukan lagi pada manfaat untuk penerima, melainkan pada citra pemberi. Jika yang ditonjolkan hanya nominal besar, ekspresi haru yang direkam, atau branding personal yang kuat, maka pesan kebaikan bisa berubah menjadi ajang kompetisi.

Menjaga Etika dalam Berbagi

Menjaga etika dalam berbagi menjadi penting, terutama sedekah di momen Ramadan yang menuntut keikhlasan lebih. Agar tidak kehilangan makna, ada beberapa prinsip yang bisa dijadikan pegangan dalam membagikan aktivitas sedekah di media sosial.

Pertama, hormati privasi dan martabat penerima bantuan. Hindari mengekspos wajah atau kondisi mereka secara berlebihan tanpa izin. Kebaikan tidak seharusnya membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Kedua, fokuskan pesan pada ajakan kolektif, bukan pada kebesaran diri. Alih-alih menonjolkan nominal pribadi, lebih baik mengedukasi tentang pentingnya berbagi dan dampak nyata yang dihasilkan.

Ketiga, refleksikan kembali niat sebelum mengunggah. Apakah konten ini benar-benar membawa manfaat, atau hanya memperkuat citra personal? Kejujuran pada diri sendiri menjadi filter paling penting.

Keempat, ingat bahwa tidak semua kebaikan harus dipublikasikan. Ada nilai yang justru lebih dalam ketika dilakukan dalam diam.

Hilang Makna atau Bentuk Inspirasi?

Fenomena flexing sedekah tidak bisa dinilai secara hitam putih. Ia berada di wilayah abu-abu antara inspirasi dan pencitraan. Teknologi hanyalah alat, manusialah yang menentukan arah penggunaannya.

Jika dilakukan dengan niat tulus, etika yang baik, dan tujuan menggerakkan lebih banyak orang untuk berbagi, publikasi sedekah bisa menjadi kekuatan sosial yang luar biasa. Namun jika motivasinya semata untuk validasi dan popularitas, maka maknanya bisa terkikis.

Pada akhirnya, sedekah bukan tentang seberapa banyak yang diketahui orang lain, melainkan seberapa besar dampaknya bagi yang membutuhkan. Di era digital, tantangan terbesar bukan hanya memberi, tetapi menjaga hati agar tetap rendah dan tidak terjebak pada sorotan.

Mungkin pertanyaan yang paling relevan bukanlah “bolehkah sedekah dipublikasikan?”, melainkan “apakah kita tetap mau berbagi jika tidak ada yang melihat?”. Jawabannya akan menentukan apakah flexing sedekah menjadi inspirasi atau sekadar panggung pencitraan di dunia maya.