M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Dodo n Friends 2026 (Instagram/@jaranabangteater)
Vicka Rumanti

Yogyakarta sebagai kota pelajar terus dibanjiri angka pendatang muda yang meroket setiap tahunnya. Namun, ruang untuk merawat bakat mereka justru terasa kian menyempit. Imbasnya, cerita lama terus berulang. Anak-anak muda seolah kehabisan tempat untuk melarikan energi mereka, hingga akhirnya tersesat di jalanan kelam.

Suara founder sekaligus ketua Teater Jaran Abang, Inggit Muhammad terdengar penuh empati saat ia mulai membedah lembaran realita di luar jendela studionya.

“Banyak sekali isu-isu kenakalan remaja, klitih, dan juga putus sekolah. Orang nggak punya mimpi, harapan, atau visi ke depan. Itulah yang membuat kami ingin mencoba untuk memfasilitasi mereka supaya tidak mengarah ke hal-hal yang negatif,” ungkapnya lirih, saat berbincang beberapa hari lalu.

Tepat pada momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017, sebuah api kecil dinyalakan. Berlokasi di jantung kesibukan kota, jaraknya hanya selemparan batu dari Tugu Pal Putih, Jaran Abang menempa karya dan memupuk ruang perlindungan bagi tumbuhnya kreativitas anak-anak muda. Bukan sekadar nama pelengkap identitas, Jaran Abang adalah sebuah akronim penuh makna: Joko Prawan (muda-mudi) dan Abang (merah api). Ini menjadi simbol dari semangat muda yang membara untuk mendobrak panggung seni pertunjukan di Yogyakarta.

"Awalnya kami hanya tergabung dalam sebuah proyek sekali jalan Bermuda Indonesia," kenang Inggit sembari menerawang masa-masa awal berdirinya komunitas. "Karena merasa sudah kompak dan tidak ingin energi ini menguap begitu saja, kami memutuskan untuk melanjutkannya menjadi sebuah komunitas yang berkelanjutan."

Saya merasakan ada ketulusan dan kegigihan yang nyata dari tekad Inggit. Inisiatif yang ia ambil bukan lahir dari sekadar rasa iba. Dia tidak sedang menjual narasi kemiskinan atau belas kasihan untuk memoles citra komunitasnya, melainkan sebuah langkah mulia yang ia tempuh dalam memutus rantai kerapuhan anak muda.

Ketertarikan saya pada panggung alih peran membuat obrolan ini terasa kian personal. Saya menyadari bahwa mempertahankan komunitas teater di era disrupsi digital seperti sekarang adalah pekerjaan yang sangat sulit. Namun, melihat sorot mata anak-anak muda di Jaran Abang dan kegembiraan yang mereka bangun ketika latihan membuat saya sadar bahwa mereka adalah pengecualian.

Ketika kebudayaan perlahan terkikis oleh algoritma media sosial, komunitas ini tetap bertahan untuk membuktikan bahwa teater bukan sekadar ruang khayal. Ia adalah panggung replika kehidupan, tempat sebuah realita dipotret apa adanya.

Menolak Berat, Memeluk yang Dekat

Tari Kerja Bakti 2025 (Instagram/@jaranabangteater)

Di tengah menjamurnya kelompok teater di Jogja yang kerap membawakan lakon-lakon berjarak atau naskah puitis yang rumit, Jaran Abang memilih jalan yang berbeda. Mereka memposisikan diri sebagai teater anak muda yang simple, light, dan fresh. Karakter unik ini dibangun dengan menjadikan isu-isu keseharian anak muda sebagai subjek utama pertunjukan.

"Jarang ada anak muda yang mau bikin pentas tentang Sungai Code, padahal rumahnya di sana," ujar Inggit heran. "Atau cerita dilema sederhana seperti habis lulus SMA mau kuliah di mana? Mau kerja apa? Hal-hal dekat seperti inilah yang sering mis di panggung teater kita, padahal inilah realita yang bener-bener ada di depan mata."

Jadi, jangan heran jika menonton Jaran Abang, Anda akan disuguhi cerita tentang hangatnya kerja bakti kampung, cerita-cerita anak sekolah, hingga eksplorasi cerita rakyat, seperti Timun Mas, dan lain sebagainya. Gaya pertunjukannya pun adaptif terhadap zaman. Di era gempuran video pendek yang merampas perhatian manusia, Jaran Abang juga mengikuti polanya dengan memotong durasi pementasan menjadi lebih singkat tanpa kehilangan kedalaman makna.

Dinamika di Balik Gemerlap Lampu Panggung

Kolaborasi Mataf UMY 2024 (Instagram/@jaranabangteater)

Perjalanan dari tahun 2017 hingga hari ini tentu tidak selalu mulus. Jaran Abang telah melewati berbagai grafik pasang surut. Mereka pernah berada di titik terendah saat tidak ada pemasukan finansial, hingga pengalaman pahit ditipu dalam sebuah proyek besar ketika sedang menghadapi keterbatasan modal. Namun, bagi Inggit dan kawan-kawan, kejatuhan bukanlah alasan untuk bubar, melainkan fase krusial untuk naik level.

“Kejatuhanmu itu bukan hal yang membuatmu semakin terpuruk. Kalau kamu bisa perlahan-lahan bangkit, berarti kamu akan naik level,” kata-kata yang selalu Inggit ingatkan pada timnya. Melalui analogi sederhana layaknya sekolah yang ada ujian di sela-sela pembelajaran, begitu pula kehidupan berjalan dengan tantangan-tantangan yang harus dihadapi.  

Salah satu pencapaian yang paling disyukuri adalah transformasi anggota. Dimulai dari sekumpulan anak lulusan SMA yang buta arah kesenian, kini Jaran Abang mengelola sekitar 35 anggota aktif dan membina lebih dari 50 anak-anak di pinggiran Sungai Code. Uniknya, Jaran Abang tidak menuntut semua anggotanya menjadi seniman panggung murni. Komunitas ini beroperasi layaknya terminal. Kini, mantan-mantan aktor mereka telah berkembang menjadi PNS, polisi, guru, hingga pemilik bisnis. Bagi mereka, teater adalah media melatih kepercayaan diri dan menemukan kedewasaan.

Warna Istimewa dari Sebuah Karya

Nyonya Anie 2022 (Screenshoot YouTube/Jaran Abang TV)

Setiap seniman selalu punya satu karya yang merawat ingatan mereka tentang arti perjuangan. Bagi Inggit, ingatan itu berlabuh pada Nyonya Anie. Dipentaskan pada tahun 2022, lakon tersebut menjadi tempat ia mewujudkan imajinasi liarnya tanpa tekanan. Di masa itulah ego mudanya sedang meletup-letup.

Nyonya Anie adalah adaptasi dari naskah “Hotel Toegoe” yang terinspirasi dari tokoh drama korea favorit Inggit masa itu disandingkan dengan narasi sejarah lokal yang intim sekaligus megah di eranya.

"Mungkin sekarang sign (gaya) berkaryaku sudah agak berbeda dengan era itu," Inggit mengaku jujur. Namun, ia tidak akan pernah melupakan keajaiban di tahun 2022 tersebut. Memproduksi pertunjukan secara mandiri dari nol, mengurus konten, naskah, hingga melihat gedung pertunjukan dipadati penonton adalah kemewahan batin yang sangat luar biasa. Ini menjadi titik krusial yang menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Bermimpi Membangun Disneyland Jogja

Pentas Panji Kali Cemari 2024 (Instagram/@jaranabangteater)

Ketika ditanya mengenai mimpi besar yang belum terwujud, suara Inggit terdengar lebih antusias. Di tengah kritik gurunya yang menyebut karya Jaran Abang "terlalu condong ke pasar", Inggit justru melihat peluang bisnis yang masif di industri kreatif.

"Mimpi besarku, aku ingin Jaran Abang bertransformasi jadi perusahaan entertainment yang aktif dan mampu memberikan upah layak bagi pekerjanya," tegas Inggit. "Aku pengin punya gedung pertunjukan sendiri. Aku pengin buat Disneyland versi Jogja, di mana seni pertunjukan lokal bisa dikemas secara masif, dinikmati wisatawan, dan hasilnya bisa dirasakan banyak orang."

Menariknya, di tengah ekosistem seni yang sering kali memberi makan sifat narsisme, Inggit justru mempraktikkan "diet ego". Menjadi motor utama di Jaran Abang, ia belajar banyak tentang batas kecukupan.

“Tapi aku juga merasa ada yang ngingetin, ‘gak boleh serakah’. Jadi, apa yang aku dapatkan nanti ke depannya harus aku bagi ke orang-orang. Mimpi besarnya itu: harus bisa berbagi ke orang lebih banyak lagi,” tegas Inggit.

Melalui Jaran Abang, api semangat pemuda dari Jogja ini akan terus menyala, membakar kemalasan, menerangi realitas sosial, dan menolak padam oleh perubahan zaman. Intip kegiatan dan pementasan seru mereka ke depannya melalui media sosial Instagram @jaranabangteater. Jika Anda tertarik, proses rekrutmen biasanya diadakan satu tahun sekali sekitar bulan Agustus. Jangan sampai ketinggalan selagi ada kesempatan!