Di tengah hiruk-pikuk dunia, kini segala hal harus melintas begitu cepat. Sebagai manusia yang harus terus memperbarui informasi dan menyelesaikan tenggat pekerjaan demi bertahan hidup, perputaran yang terjadi jelas melelahkan—layaknya berlari di lapangan GBK berpuluh-puluh putaran tanpa henti.
Kecemasan hidup pun tidak kalah menumpuk. Arus informasi yang pesat hanya membuat tangan tidak henti-hentinya menggaruk kepala. Perdebatan meledak di mana-mana, mempermasalahkan segala hal, bahkan untuk perkara yang paling sederhana sekalipun.
Kecepatan ini kian diperparah oleh hadirnya AI yang mampu meneruskan arus informasi dan menyelesaikan berbagai urusan dalam hitungan detik. Semua itu terkadang justru membuat kita kehilangan makna yang ada di dalamnya.
Namun, di balik semua hiruk-pikuk tersebut, saya menemukan solusi untuk mengurai benang kusut yang ada. Cukup dengan duduk jongkok di depan pot plastik, menantikan biji cabai yang saya tanam pecah menjadi tunas, hingga akhirnya menghasilkan cabai merah yang segar.
Terkesan tidak produktif? Mungkin. Tetapi, di tengah segala percepatan yang secepat cahaya ini, menanam cabai adalah salah satu cara saya menjaga kewarasan.
1. Lawan "Halusinasi" dengan Realitas Tanah
Di dunia kerja, kita mulai akrab dengan AI yang terkadang memberikan "halusinasi"—jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi sebenarnya kosong. Namun, di depan pot plastik ini, tidak ada ruang untuk kepalsuan. Cabai tidak pernah berbohong. Jika saya lupa menyiram, ia akan layu. Jika pupuknya berlebih, ia akan mati. Di sini, tidak ada algoritma yang bisa disuap. Hubungan antara tangan, air, dan tanah adalah kejujuran mutlak yang mengingatkan saya bahwa hidup tidak selalu bisa di-generate lewat perintah teks.
2. Menemukan Makna dalam Penantian
Di arus yang serba cepat ini, saya sering kali merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri saya—sebuah perasaan dalam menantikan dan mempelajari sesuatu secara perlahan dan saksama. Atau dengan kata lain, saya rindu untuk kembali bersabar dengan sebuah pekerjaan spekulatif yang menuntut dedikasi waktu.
Dokumen yang dibuat secepat kilat atau data yang tersaji dalam sekejap mata tidak lagi memberikan "reaksi penantian". Ia hambar. Ia tidak memiliki debaran yang sama selayaknya menantikan tunas dari biji cabai yang saya tanam sendiri. Kini, hidup seolah ditekan oleh obsesi terhadap kecepatan, menggiring kita menuju sebuah periode instan dalam menciptakan maupun menantikan sesuatu. Padahal, jauh di dalam kesabaran, terdapat arti yang sangat dalam yang sering kali terlewatkan.
Maka bagi saya, menanam cabai adalah latihan untuk kembali menghargai proses. Kita sudah terlalu terbiasa dengan kepuasan instan hingga lupa bagaimana cara menunggu yang baik. Dengan menanam, saya belajar bahwa hal-hal terbaik dalam hidup—seperti halnya rasa pedas yang membakar lidah—memang membutuhkan waktu, perhatian, dan kesabaran yang tulus untuk benar-benar matang.
3. Detoksifikasi dari Kecepatan Cahaya
Jika berlari berputar-putar di GBK tanpa henti terasa sangat melelahkan, maka mengikuti arus informasi dan desakan tuntutan pekerjaan yang tiada habisnya juga amat menguras fisik serta mental. Tak jarang, muncul keinginan untuk sekadar pura-pura tidak tahu tentang segala hal dan menjalani hidup sesuai keinginan sendiri; berhenti sejenak dari segala bentuk percepatan yang ada.
Saat saya memangkas daun dan gulma pada tanaman cabai, sebagian diri saya benar-benar menikmati momen itu. Pikiran saya sepenuhnya terfokus. Tidak ada kata multitasking saat merawat tanaman atau menjaga bibit yang masih rapuh. Saya hanya fokus merawatnya. Bagi saya, ini adalah metode meditasi yang sangat ampuh untuk menghadapi gila dan cepatnya perputaran informasi di dunia.
4. Hasil yang Nyata, Bukan Sekadar Data
Teknologi mungkin bisa membuatkan saya gambar cabai paling estetik di dunia dalam sekejap, tetapi ia tidak bisa memberimu aroma tanah basah atau kepuasan saat memetik hasil keringat sendiri untuk sambal di meja makan. Ada kebanggaan primal yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode pemrograman: rasa syukur saat melihat sesuatu yang kita rawat dengan tangan sendiri akhirnya membuahkan hasil.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Media Iran Yakin Benjamin Netanyahu Sudah Meninggal Dunia
-
Terpopuler: 7 Prompt AI Gambar Ucapan Idulfitri, Tips Menghemat Baterai HP saat Mudik
-
Identitas Barista Cantik di Video Netanyahu Terbongkar, Pihak Keluarga Ungkap Fakta Lain
-
Bongkar Hoaks Foto AI Pelaku Teror Andrie Yunus, Polisi: Diduga Disusun Jaringan Pelaku yang Panik
-
Viral Nenek-Nenek Digampar Pedagang Diduga Ketahuan Mencuri Cabai, Bikin Miris Melihatnya
Kolom
-
Medsos dan Seni Menjadi Domba di Tengah Perang Algoritma
-
Ramadan 1447 H: di Antara Sujud Sunyi dan Kecamuk Perang
-
Saya Menumbalkan Lambung Demi Sesobek Saset Kopi Susu saat Sahur
-
Jebakan Umur 30: Mengapa Tekanan Menikah Justru Membuat Jodoh Semakin Lari?
-
Rumah Kinclong Jelang Lebaran: Tradisi Tahunan yang Tak Pernah Absen
Terkini
-
4 Lulur Mandi Tradisional, Buat Kulit Halus dan Glowing Jelang Lebaran
-
Review The Art of Sarah: Serial Netflix yang Mengkritik Obsesi Status Palsu
-
Tak Perlu Laptop? Ini 7 Tablet 3 Jutaan Paling Worth It 2026
-
Budget Tipis? Ini 5 Laptop 2-3 Jutaan untuk Sekolah dan Kuliah
-
Saya Menjual Idealisme Musik Saya Demi Desahan Manis Bertajuk 'Malu-Malu'