M. Reza Sulaiman | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi momen silaturahmi bersama keluarga (Pexels/RDNE Stock project)
Zahrin Nur Azizah

Hari raya selalu identik dengan momen kumpul bersama keluarga. Duduk melingkar di ruang tamu, menikmati hidangan khas Lebaran di meja, dan berbagi cerita setelah sekian lama tidak bertemu. Suasananya hangat, penuh tawa, dan terasa begitu dekat. Namun, semua itu bisa berubah dalam sekejap saat pertanyaan “itu” mulai dilontarkan.

Pertanyaan klasik yang hampir selalu muncul di momen seperti ini. Awalnya terdengar santai, bahkan dibalut dengan senyum dan nada bercanda. Tetapi sayangnya, tidak semua orang benar-benar merasa santai saat mendengarnya. Ada rasa canggung yang muncul, meskipun sering kali ditutupi dengan tawa kecil agar suasana tetap nyaman.

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kadang terasa seperti ada maksud tersembunyi. Seolah ingin mengetahui apakah orang lain sudah “lebih baik” atau belum. Bahkan, tidak jarang pertanyaan itu menjadi cara untuk mencari validasi diri. Yang lebih menarik, tanpa disadari, kita pun mungkin pernah berada di posisi yang sama, yaitu melontarkan pertanyaan serupa kepada orang lain.

Lebaran dan Crab Mentality yang Terselubung

Saat Lebaran tiba, yang seharusnya menjadi momen hangat justru bisa berubah menjadi ajang interogasi kecil-kecilan. Jika semua pertanyaan itu dikumpulkan, mungkin jumlahnya bisa sangat banyak. Setelah satu pertanyaan terjawab, biasanya akan muncul pertanyaan lain yang tidak kalah tajam.

Bahkan, mereka yang sudah bekerja pun tidak luput dari “serangan”. Salah satu contoh paling umum adalah pertanyaan, “Kapan nikah?” yang seolah menjadi pertanyaan wajib setiap tahun. Ketika dijawab dengan jawaban aman, sering kali muncul tanggapan lanjutan seperti, “Anak Om saja sudah nikah, nanti keburu tua, lho.”

Kalimat-kalimat seperti ini, jika diperhatikan, sebenarnya mengandung unsur perbandingan. Tanpa disadari, ada dorongan untuk menilai kehidupan orang lain berdasarkan standar tertentu, lalu membandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain.

Fenomena ini dikenal dengan istilah crab mentality. Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang tidak suka melihat orang lain lebih berhasil. Ada kecenderungan merasa tidak nyaman jika orang lain berada di posisi yang lebih baik. Bahkan, dalam beberapa kasus, muncul perasaan “lebih tenang” ketika orang lain tidak melampaui dirinya.

Sikap ini biasanya muncul dari rasa kompetitif yang berlebihan. Pola pikirnya sederhana, namun tidak sehat: jika aku belum bisa mencapai sesuatu, maka orang lain juga seharusnya tidak lebih dulu mencapainya. Tanpa disadari, pola pikir seperti ini bisa merusak hubungan dan suasana kebersamaan.

Dampak Crab Mentality, Terutama bagi Gen Z

Secara umum, crab mentality dapat menciptakan lingkungan yang tidak nyaman. Alih-alih saling mendukung, orang justru merasa saling menekan. Komentar yang terlihat sepele bisa meninggalkan beban pikiran, terutama jika terjadi berulang kali.

Bagi Gen Z yang cenderung lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental, situasi seperti ini bisa memicu overthinking. Setelah acara kumpul selesai, bukan tidak mungkin seseorang justru merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau mulai meragukan dirinya sendiri.

Jika dibiarkan, hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan membuat seseorang kehilangan fokus pada tujuan hidupnya. Padahal, setiap orang memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Tidak semua hal harus dicapai di waktu yang sama.

Cara Menghadapi dan Menghindarinya

Berada di lingkungan dengan sikap seperti ini memang bisa menguras tenaga dan pikiran. Karena itu, penting untuk tahu bagaimana cara menyikapinya.

Pertama, tetap percaya pada diri sendiri. Tidak semua komentar orang lain perlu dipikirkan terlalu dalam. Jika ada yang bernada negatif, cukup dengarkan seperlunya dan tetap fokus pada tujuanmu.

Kedua, jangan merasa malu dengan kegagalan. Dalam proses mencapai sesuatu, kegagalan adalah hal yang wajar. Justru dari situlah kita belajar. Jangan sampai komentar orang lain membuatmu merasa tidak berharga atau kehilangan semangat.

Ketiga, perbanyak waktu dengan orang-orang yang mendukungmu. Bukan berarti harus menjauh sepenuhnya dari keluarga, tetapi kamu bisa mengatur batasan. Pilih lingkungan yang membuatmu merasa dihargai dan berkembang.

Crab mentality adalah perilaku yang tidak sehat, namun sering kali terjadi tanpa disadari. Banyak orang melakukannya dengan niat bercanda, tanpa tahu dampaknya bagi orang lain. Karena itu, penting untuk mulai lebih peka, baik saat berbicara maupun saat menanggapi.

Dan untuk kamu yang sering berada di posisi ditanyai, tidak perlu berkecil hati. Pertanyaan orang lain tidak menentukan nilai dirimu. Karena setiap orang memiliki jalannya masing-masing.