Perang sama dengan menghancurkan ataupun merusak. Karena itu, perang bukanlah solusi dalam menyelesaikan sebuah masalah. Saat ini, banyak masalah ingin diselesaikan dengan perang. Sebagai contoh, perang antara A.S.-Israel dengan Iran, serta perang Rusia dan Ukraina yang menjadi sorotan dunia. Perang tersebut terjadi akibat adanya masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan negosiasi.
Akhirnya, mereka menggunakan rudal, tank, pesawat tempur, dan lainnya. Secara logika, perang itu tidak ada untungnya, melainkan hanya merugikan saja.
Perang itu hanya menyengsarakan rakyat. Perang hanya membuat nyawa melayang. Padahal, masyarakat tidak tahu-menahu tentang masalah antarnegara, tetapi harus menjadi korban. Korbannya pun tidak sedikit, melainkan banyak hingga dicap sebagai krisis kemanusiaan.
Nyawa melayang dengan cuma-cuma akibat emosi yang tidak berdasar. Hidup serasa menyedihkan karena manusia menyerang manusia lainnya. Perang layaknya tuhan yang dapat mencabut nyawa. Karena itu, perang tidak ada gunanya, hanya memberikan keburukan. Setiap kali tidak ada kesepakatan, maka taruhannya adalah nyawa. Jadi, kalau sudah begitu, apakah mereka yang berperang senang dengan kondisi ini? Padahal masih ada ruang kosong untuk duduk bersama menyelesaikan masalah.
Masih ada tempat untuk mendinginkan kepala sampai menemukan titik temu. Perang hanya membuat negara lain mengutuk dan mengecam, bahkan dapat terprovokasi semakin jauh. Perang memang tidak ada gunanya, malah cuma menyengsarakan.
Manusia diciptakan untuk hidup bahagia dan bermanfaat, bukan untuk sengsara. Adanya sebuah negara adalah untuk menyejahterakan rakyat, bukan berperang dengan rakyat negara lain. Begitu berharganya sebuah nyawa, tetapi terenggut dengan cara-cara yang tidak benar. Pantas bila negara-negara di dunia menyerukan untuk menghentikan perang.
Kehancuran dan Kemiskinan
Perang itu sifatnya hanya menghancurkan dan menyebabkan kemiskinan. Cobalah kita melihat gedung-gedung tinggi hancur, rumah hancur, fasilitas kesehatan hancur, sekolah hancur, dan ruang publik lainnya pun hancur.
Perang itu sifatnya hanya menghancurkan sehingga akibatnya adalah kemiskinan. Setelah perang, apa yang mau diharapkan? Apakah hanya mengharapkan kemenangan, namun tidak ada gunanya juga? Habis perang terbitlah kemiskinan bagi rakyatnya.
Rumah masyarakat hancur, semua fasilitas hancur, maka lahirlah kemiskinan. Pemerintah yang berperang harus membangun kembali fasilitas yang hancur, yang mana dapat menghabiskan banyak anggaran sehingga tidak ada lagi anggaran untuk rakyat.
Masyarakat pun tidak bisa bekerja karena fasilitas untuk kerja hancur dan situasi dalam keadaan darurat. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum pun mereka tidak mampu lagi. Anak-anak tidak bersekolah karena sekolahnya hancur. Akhirnya, tidak ada aktivitas belajar-mengajar yang akan membawa pada kebodohan.
Masyarakat yang sakit tidak bisa diobati karena fasilitas kesehatan seperti rumah sakit hancur. Akhirnya, sulit mendapatkan layanan kesehatan. Kalau sudah begitu, masyarakat sengsara dalam kemiskinan dan kesusahan akibat perang. Jadi, apa yang mau diharapkan dari perang? Tidak ada.
Di era modern ini, perang bukan lagi solusi. Perang itu menghabiskan banyak anggaran untuk membeli dan membuat alutsista, seperti rudal, tank, kapal, pesawat tempur, dan lain sebagainya. Padahal, tidak ada pemasukan dari menang perang, bukan? Jadi, untuk apa berperang? Apakah perang hanya untuk bersenang-senang saja atau untuk gagah-gagahan saja?
Masyarakat yang sudah susah menjadi semakin susah karena perang. Masyarakat menjerit karena harapannya untuk sejahtera tidak mampu dipenuhi. Ditambah lagi, negara-negara tetangga ikut terdampak. Salah satunya Indonesia, karena Selat Hormuz ditutup, asupan minyak bumi sulit didapat. Akhirnya, kita harus mengirit penggunaan minyak.
Bukan itu saja, barang-barang lain yang masih impor akan terdampak karena perang. Akhirnya, masyarakat kesulitan, namun tidak ada solusi untuk mengurangi penderitaan tersebut. Kalau sudah begini, rakyat hanya bisa meratapi kesedihan tanpa dapat bertindak. Sungguh menyedihkan sekali.
Kesulitan hidup yang selama ini dirasakan kembali bertambah. Padahal, misi negara kita adalah menciptakan kesejahteraan untuk rakyatnya, namun perang di daerah Timur Tengah pun berdampak besar bagi kita.
Jadi, kita harus mengatakan bahwa perang itu bukan tujuan. Perdamaian menjadi sesuatu yang harus diwujudkan. Namun, bagaimana membuat negara yang berperang berdamai? Apakah dengan niat Indonesia untuk berdialog dan bermediasi dengan negara yang sedang berperang akan memberikan hasil yang baik? Belum tentu juga.
Untuk menciptakan perdamaian harus dengan kebersamaan antar-negara-negara di dunia untuk berdiskusi dan menghasilkan kesepakatan yang positif untuk kedua belah pihak yang berperang. Negara lain harus punya wibawa dan kuasa untuk bernegosiasi mencapai perdamaian itu. Jika tidak, semua akan sia-sia.
Sudah beberapa pekan berlalu, namun masih belum ada kesepakatan gencatan senjata. Jika terus bergulir, maka akan semakin meresahkan dan menyedihkan. Tidak ada keuntungan dari perang. Jadi, untuk apa diteruskan? Semoga saja ada cahaya terang yang nantinya muncul sebagai tanda perang akan segera berakhir dan memberikan rasa aman serta nyaman bagi rakyat.
Baca Juga
-
Di Balik Larangan Medsos untuk Remaja: Ada Bahaya Konten Kekerasan, Hoaks, dan Bullying Online
-
Wajib Cek! Ini Daftar Persiapan Krusial Sebelum Anda Mulai Perjalanan Mudik
-
Jebakan Umur 30: Mengapa Tekanan Menikah Justru Membuat Jodoh Semakin Lari?
-
Aktivis Kontras Diserang, Bukti Nyata Kemunduran Demokrasi?
-
Stop Ngebut-ngebutan! Kecelakaan di Jalan Raya Bisa Langsung Bikin Anda Miskin
Artikel Terkait
-
Ketegangan Selat Hormuz Memuncak: Ultimatum Trump Picu Ancaman Balasan dari Teheran
-
Influencer Inggris Jadi Buzzer Pemerintah? Pamer Bikini Tutupi Realita Perang Iran
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Ngeri! Iran Tembakkan Rudal Balistik Sejauh 2500 Mil Serang Pangkalan AS-Inggris
-
Iran Tolak Gencatan Senjata, Menlu Abbas Araghchi: Apa Jaminannya AS-Israel Tak Lagi Menyerang?
Kolom
-
Dilarang Berlama-lama: Cara Mengambil Manfaat dari 'Wangsit Kamar Mandi'
-
Pelangi di Mars, Ketika Film Anak Gagal Memahami Anak
-
Diet Berita: Tutorial Tetap Waras di Zaman yang Terlalu Ramai
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Dear Pemudik, Jika Lelah Jangan Paksakan Diri Berkendara
Terkini
-
Fakta dan Makna MV Baru Harry Styles 'American Girls': Nostalgia Rasa?
-
Ernando Ari Dicoret, 4 Penjaga Gawang Masuk Skuad Final Timnas Indonesia
-
Wajib Tonton! 5 Film Indonesia Bertema Mudik yang Penuh Makna dan Emosi
-
Pria Punya Hak untuk Menangis: Belajar Mengolah Duka dari Mencuci Piring
-
RM BTS Sampaikan Terima Kasih dan Permintaan Maaf usai Konser ARIRANG