Kolom

Apa Untungnya Perang? Analisis Kerugian Tak Terhingga dari Konflik Global Saat Ini

Apa Untungnya Perang? Analisis Kerugian Tak Terhingga dari Konflik Global Saat Ini
Ilustrasi gambar Hentikan Perang (pixabay)

Perang sama dengan menghancurkan ataupun merusak. Karena itu, perang bukanlah solusi dalam menyelesaikan sebuah masalah. Saat ini, banyak masalah ingin diselesaikan dengan perang. Sebagai contoh, perang antara A.S.-Israel dengan Iran, serta perang Rusia dan Ukraina yang menjadi sorotan dunia. Perang tersebut terjadi akibat adanya masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan negosiasi.

Akhirnya, mereka menggunakan rudal, tank, pesawat tempur, dan lainnya. Secara logika, perang itu tidak ada untungnya, melainkan hanya merugikan saja.

Memakan Korban Nyawa

Perang itu hanya menyengsarakan rakyat. Perang hanya membuat nyawa melayang. Padahal, masyarakat tidak tahu-menahu tentang masalah antarnegara, tetapi harus menjadi korban. Korbannya pun tidak sedikit, melainkan banyak hingga dicap sebagai krisis kemanusiaan.

Nyawa melayang dengan cuma-cuma akibat emosi yang tidak berdasar. Hidup serasa menyedihkan karena manusia menyerang manusia lainnya. Perang layaknya tuhan yang dapat mencabut nyawa. Karena itu, perang tidak ada gunanya, hanya memberikan keburukan. Setiap kali tidak ada kesepakatan, maka taruhannya adalah nyawa. Jadi, kalau sudah begitu, apakah mereka yang berperang senang dengan kondisi ini? Padahal masih ada ruang kosong untuk duduk bersama menyelesaikan masalah.

Masih ada tempat untuk mendinginkan kepala sampai menemukan titik temu. Perang hanya membuat negara lain mengutuk dan mengecam, bahkan dapat terprovokasi semakin jauh. Perang memang tidak ada gunanya, malah cuma menyengsarakan.

Manusia diciptakan untuk hidup bahagia dan bermanfaat, bukan untuk sengsara. Adanya sebuah negara adalah untuk menyejahterakan rakyat, bukan berperang dengan rakyat negara lain. Begitu berharganya sebuah nyawa, tetapi terenggut dengan cara-cara yang tidak benar. Pantas bila negara-negara di dunia menyerukan untuk menghentikan perang.

Kehancuran dan Kemiskinan

Perang itu sifatnya hanya menghancurkan dan menyebabkan kemiskinan. Cobalah kita melihat gedung-gedung tinggi hancur, rumah hancur, fasilitas kesehatan hancur, sekolah hancur, dan ruang publik lainnya pun hancur.

Perang itu sifatnya hanya menghancurkan sehingga akibatnya adalah kemiskinan. Setelah perang, apa yang mau diharapkan? Apakah hanya mengharapkan kemenangan, namun tidak ada gunanya juga? Habis perang terbitlah kemiskinan bagi rakyatnya.

Rumah masyarakat hancur, semua fasilitas hancur, maka lahirlah kemiskinan. Pemerintah yang berperang harus membangun kembali fasilitas yang hancur, yang mana dapat menghabiskan banyak anggaran sehingga tidak ada lagi anggaran untuk rakyat.

Masyarakat pun tidak bisa bekerja karena fasilitas untuk kerja hancur dan situasi dalam keadaan darurat. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum pun mereka tidak mampu lagi. Anak-anak tidak bersekolah karena sekolahnya hancur. Akhirnya, tidak ada aktivitas belajar-mengajar yang akan membawa pada kebodohan.

Masyarakat yang sakit tidak bisa diobati karena fasilitas kesehatan seperti rumah sakit hancur. Akhirnya, sulit mendapatkan layanan kesehatan. Kalau sudah begitu, masyarakat sengsara dalam kemiskinan dan kesusahan akibat perang. Jadi, apa yang mau diharapkan dari perang? Tidak ada.

Di era modern ini, perang bukan lagi solusi. Perang itu menghabiskan banyak anggaran untuk membeli dan membuat alutsista, seperti rudal, tank, kapal, pesawat tempur, dan lain sebagainya. Padahal, tidak ada pemasukan dari menang perang, bukan? Jadi, untuk apa berperang? Apakah perang hanya untuk bersenang-senang saja atau untuk gagah-gagahan saja?

Masyarakat yang sudah susah menjadi semakin susah karena perang. Masyarakat menjerit karena harapannya untuk sejahtera tidak mampu dipenuhi. Ditambah lagi, negara-negara tetangga ikut terdampak. Salah satunya Indonesia, karena Selat Hormuz ditutup, asupan minyak bumi sulit didapat. Akhirnya, kita harus mengirit penggunaan minyak.

Bukan itu saja, barang-barang lain yang masih impor akan terdampak karena perang. Akhirnya, masyarakat kesulitan, namun tidak ada solusi untuk mengurangi penderitaan tersebut. Kalau sudah begini, rakyat hanya bisa meratapi kesedihan tanpa dapat bertindak. Sungguh menyedihkan sekali.

Kesulitan hidup yang selama ini dirasakan kembali bertambah. Padahal, misi negara kita adalah menciptakan kesejahteraan untuk rakyatnya, namun perang di daerah Timur Tengah pun berdampak besar bagi kita.

Jadi, kita harus mengatakan bahwa perang itu bukan tujuan. Perdamaian menjadi sesuatu yang harus diwujudkan. Namun, bagaimana membuat negara yang berperang berdamai? Apakah dengan niat Indonesia untuk berdialog dan bermediasi dengan negara yang sedang berperang akan memberikan hasil yang baik? Belum tentu juga.

Untuk menciptakan perdamaian harus dengan kebersamaan antar-negara-negara di dunia untuk berdiskusi dan menghasilkan kesepakatan yang positif untuk kedua belah pihak yang berperang. Negara lain harus punya wibawa dan kuasa untuk bernegosiasi mencapai perdamaian itu. Jika tidak, semua akan sia-sia.

Sudah beberapa pekan berlalu, namun masih belum ada kesepakatan gencatan senjata. Jika terus bergulir, maka akan semakin meresahkan dan menyedihkan. Tidak ada keuntungan dari perang. Jadi, untuk apa diteruskan? Semoga saja ada cahaya terang yang nantinya muncul sebagai tanda perang akan segera berakhir dan memberikan rasa aman serta nyaman bagi rakyat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda