Pernyataan pejabat publik di media massa kerap menjadi sorotan warganet belakangan ini. Salah satu di antaranya tidak lain adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos saat membahas isu krusial sering kali memicu perdebatan.
"Saya memohon menyarankan agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak. Contoh, katakanlah kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah matang, jangan kompornya boros," ucap Bahlil.
Berawal dari merangsang panic buying akibat krisis bahan bakar, saat ini dirinya meminta masyarakat untuk menghemat energi dengan mematikan kompor seusai masakan matang. Pernyataan ini membuat warganet geram karena sekelas menteri memberikan imbauan seperti perkataan seorang ibu kepada anaknya.
Kekesalan warganet itu tampak melalui komentar di unggahan akun Instagram terbaru @kesdm dan @bahlillahadalia. Sebagian pengguna menyindir Bahlil secara tersirat karena cara penyampaian yang terlalu mendasar sehingga seharusnya tidak perlu dibicarakan kepada khalayak umum.
"Emak saya kalau masak kompornya enggak dinyalain, begitu selesai baru kompor dinyalain," tulis @sudahjadiimam.
"Saya biasanya kalau habis masak, kompornya saya makan," ujar @sintaa.ss11.
"Semua orang juga tahu, Pak, kalau sudah matang kompornya dimatikan," lanjut @ahmaddrifai17.
Meskipun pernyataan tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi energi, ada pula tujuan yang sebenarnya lebih selaras melalui imbauan tersebut, yaitu menyadarkan masyarakat agar terhindar dari bencana kebakaran. Respons warganet ini kontras dengan tujuan yang disampaikan karena mereka lebih menyoroti cara penyampaian daripada substansi imbauan.
Berita kebakaran rumah di berbagai daerah akibat kelalaian individu yang lupa mematikan kompor seharusnya menyita perhatian pemerintah. Berita-berita berikut ini menunjukkan bahwa kelalaian kompor memang masih menjadi penyebab utama kebakaran rumah di berbagai daerah:
- Di Ciputat saat Idulfitri 1447 Hijriah, pemilik rumah meninggalkan kompor yang masih menyala (IndonesiaKini.id).
- Di Sulawesi Barat pada 28 Februari 2026, diduga penghuni lupa mematikan kompor (detikSulsel).
- Di Banyuwangi pada 3 Januari 2026 pagi hari (Suara Indonesia).
- Di Denpasar Selatan pada 22 Maret 2026 malam hari (Balipuspanews.com).
- Di Kediri pada 23 Maret 2026 siang hari saat penghuni keluar kota (Jatimnow.com).
Berita yang tersebar di media massa masih begitu banyak mengangkat peristiwa kebakaran di rumah warga karena kelalaian tersebut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain: penghuni meninggalkan kompor sebentar sehingga api tetap menyala, tertidur pada malam hari, serta kebiasaan lansia atau anak kos yang belum terbiasa memasak.
Untuk mengurangi risiko ini, imbauan yang disampaikan oleh pejabat publik perlu menggunakan retorika yang tepat agar terhindar dari miskomunikasi. Misalnya, "Penting bagi kita semua untuk memastikan kompor dimatikan setelah memasak. Dengan begitu, rumah tetap aman dari bahaya kebakaran, sekaligus bisa menghemat energi serta sumber daya yang berharga."
Penyampaian yang tidak jelas tujuannya sering menimbulkan reaksi publik yang tidak diharapkan. Upaya menghemat energi dengan mematikan kompor justru kurang menyentuh ke inti masalah, sebaliknya menekankan bahaya kebakaran yang dapat mengancam keselamatan nyawa bisa menyentuh akar persoalan.
Pejabat publik perlu belajar mendalami retorika saat memberikan keterangan pers kepada media massa agar tidak disalahartikan oleh publik. Selain itu, sebagai masyarakat kita perlu mengambil sisi positif dari tujuan yang lebih selaras, yaitu menghemat energi dan melindungi rumah serta keluarga dari bahaya kebakaran.
Harapannya, pejabat publik mampu menjelaskan suatu isu kepada masyarakat dengan jelas dan detail dengan selalu menjaga kepercayaan publik, bukan memicu polemik dan perbincangan negatif yang berakhir menjadi hoaks atau dijadikan sebuah meme bagi warganet.
Baca Juga
-
Relate Sama Korban HTS, Ini Makna Nyesek di Balik Lagu 'Tak Sampai Mekar'
-
Di Tiongkok Guru Setara Dokter, di Indonesia Guru Honorer Dijerat Judi Online: Ada Apa?
-
Kutukan di Balik Dapur SPPG: Ketika Rakyat Miskin Nyaman Jadi Buruh Murah
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Janji Kampanye dan Realitas Politik: Menakar Jarak Antara Prabowo dan Pascabowo
Artikel Terkait
-
Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi
-
Minyak Mahal, Pendidikan Terancam? Membaca Masa Depan Indonesia di Tengah Gejolak Energi Global
-
Pertamina Perkuat Budaya Hemat Energi, dari Kantor hingga Program untuk Masyarakat
-
Harga Bensin Tembus Rp 31 Ribu Per Liter Warga Eropa Ramai Berburu Mobil Listrik Bekas
-
Bahlil Masih Lobi-lobi Iran Demi Muluskan Jalur Kapal Pertamina Lewat Selat Hormuz
Kolom
-
Identik dengan Nobar, Piala Dunia 2026 Tak Nikmat Jika Ditonton Sendirian?
-
Tragedi Tebet: Ketika Fasilitas Publik Berubah Menjadi Kuburan bagi Balita Tak Berdosa
-
Generasi Z dan Krisis Fokus: Benarkah Media Sosial Penyebab Utamanya?
-
Tren Pembayaran Cashless Only: Praktis Buat Tenant, Ribet Buat Pembeli
-
Duel Hidup Mati di Monterrey: Belanda Siapkan Pressing Tinggi, Maroko Andalkan Serangan Kilat
Terkini
-
Bukan Lagi Kejadian Langka: Suhu 41,7C Lumpuhkan Eropa dan Renggut 1.300 Nyawa
-
Hansel and Gretel: Dongeng Klasik yang Berubah Jadi Aksi Berdarah
-
Di Balik Senyum Guru di Ujung Desa
-
Review Husbands in Action: Detektif dan Dokter Hewan Lawan Sindikat Jahat!
-
Hong Myung-Bo Mundur setelah Gagal Piala Dunia, Presiden Nilai 'Tak Kompeten'