Menjadi pekerja di kota dengan biaya hidup relatif rendah seperti Kediri seharusnya menjadi sebuah keuntungan. Teorinya, dengan gaji UMR yang sudah menyentuh angka dua jutaan, kita bisa hidup tenang sambil sesekali jajan tahu takwa.
Namun, teori tinggal teora ketika algoritma Instagram dan TikTok mulai bekerja. Tiba-tiba saja, standar kebahagiaan kita tidak lagi diukur dari kenyangnya perut, melainkan dari seberapa estetik kopi yang kita pegang atau seberapa branded outfit kerja yang kita kenakan.
Selamat datang di era ketika gaji UMR Kediri dipaksa berkompetisi dengan selera Senopati. Sebuah fenomena sosial yang cukup ajaib sekaligus menyedihkan. Banyak dari kita yang merasa bahwa kemiskinan—atau setidaknya terlihat biasa saja—adalah sebuah aib yang harus ditutupi dengan segala cara, termasuk dengan cara mencicil gengsi yang sebenarnya tidak mampu kita beli.
Keresahan ini bukan tanpa dasar. Dikutip dari laporan riset perilaku konsumen oleh Katadata, tekanan teman sebaya (peer pressure) dan paparan media sosial menjadi pemicu utama meningkatnya pengeluaran nonprimer di kalangan Gen Z dan milenial.
Kita merasa harus "hadir" dalam tren agar tidak dianggap gagal. Akibatnya, barang-barang yang sifatnya keinginan diubah paksa menjadi kebutuhan pokok. Kopi seharga lima puluh ribu rupiah dianggap sebagai "biaya sewa kursi" demi sebuah story yang hanya bertahan 24 jam.
Mari kita bedah secara logis. Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi gaya hidup sering kali bergerak lebih cepat daripada kenaikan upah minimum itu sendiri.
Jika gaji UMR kita digunakan untuk mencicil smartphone terbaru keluaran Amerika atau membeli pakaian bermerek demi konten Outfit of the Day (OOTD), struktur finansial kita sebenarnya sedang berada di ujung tanduk.
Kita sedang membangun istana pasir di atas ombak cicilan pinjaman online (pinjol) yang bunganya lebih kejam daripada ibu tiri di sinetron.
Menurut saya, kemiskinan itu tidak mematikan, tetapi gaya hidup yang dipaksakan itulah yang akan membunuhmu pelan-pelan. Ada semacam rasa malu yang aneh jika kita terlihat membawa bekal nasi dari rumah atau memakai sepatu yang sudah berumur dua tahun.
Padahal, tidak ada yang lebih memalukan daripada terlihat kaya di media sosial, padahal sebenarnya kita sedang bingung memikirkan cara membayar tagihan listrik di dunia nyata.
Dampaknya secara sosial adalah terciptanya masyarakat yang rapuh. Kita menjadi generasi yang mudah stres karena terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain yang mungkin saja sama-sama sedang bersandiwara.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna di layar ponsel membuat kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang hanya sekadar ingin pamer.
Jika dianalisis bersama, fenomena ini adalah bentuk eksploitasi diri sendiri atas nama pengakuan sosial. Kita bekerja delapan jam sehari, memeras keringat dan pikiran, hanya untuk memberikan uang tersebut kepada perusahaan multinasional demi barang-barang yang tidak menambah nilai diri kita secara substansial. Kita terjepit di antara realitas dompet yang kering dan ekspektasi pergaulan yang setinggi langit.
Dampaknya bagi kesehatan mental pun nyata. Menurut studi dalam Journal of Economic Psychology, ketidakmampuan untuk memenuhi standar gaya hidup yang diinginkan dapat memicu depresi dan perasaan rendah diri yang kronis. Kita merasa menjadi manusia kelas dua hanya karena tidak mampu membeli apa yang sedang viral. Padahal, nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh merek tas atau tempat nongkrongnya.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kalian untuk kembali membumi. Berhenti memaksakan diri untuk mengikuti langkah kaki orang-orang yang jalannya memang sudah berbeda. Gaji UMR bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup, tetapi nikmatilah hidup sesuai dengan kapasitas kantongmu, bukan kapasitas gengsimu.
Apakah kamu benar-benar butuh kopi mahal itu untuk bekerja, atau hanya butuh fotonya untuk validasi bahwa kamu "mampu"? Ingat, jurang kebangkrutan itu tidak sedalam lubang yang kamu gali sendiri untuk menimbun gengsimu.
Mari mulai bangga dengan apa yang kita miliki, tanpa perlu merasa harus menjadi orang lain. Sebab, pada akhirnya, yang akan menyelamatkanmu di masa depan adalah tabungan yang nyata, bukan sekadar jempol dari netizen yang bahkan tidak peduli apakah kamu sudah makan atau belum hari ini.
Baca Juga
-
Internet Sudah Jadi Kebutuhan Pokok, Kenapa Tata Kelolanya Masih Merugikan Konsumen?
-
BBM Non Subsidi September 2026 Naik: Beban Global atau Momentum Evaluasi?
-
XL Buktikan Diri Jadi Jaringan Terbaik 2026, Saatnya Kamu Coba Sendiri!
-
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
-
Iqro', Lagu yang Bikin Saya Mikir Ulang soal Kesombongan Sendiri
Artikel Terkait
-
Kalau Kamu Bukan HRD atau Calon Mertua, Tolong Jangan Tanya soal Gaji Saya
-
Di Balik Angka yang Disebut Cukup: Senyum di Luar, Pusing Hitung Sisa Saldo Kemudian
-
Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup
-
Bukan Masalah Kurang Bersyukur, Saya Kerja 3 Profesi Pun Masih Tetap Bokek
-
Di Balik Angka UMR: Ada Cerita Perjuangan di Tengah Kebutuhan yang Meningkat
Kolom
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
Terkini
-
Review Film Practical Magic: The Book Of Magic, Nostalgia Sihir yang Indah!
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Sinopsis Mame to Mugi, Drama Jepang Dibintangi Saito Asuka dan Tomita Miu