Di era sekarang ini, entah kenapa, mencari jodoh terasa begitu sulit. Padahal, ketika kita berjalan saja, sering kali kita berpapasan dengan pria maupun wanita yang berjalan sendiri, seolah belum memiliki pendamping. Di kantor pun demikian; begitu banyak rekan yang masih lajang namun tak kunjung berjodoh. Bahkan di transportasi umum seperti kereta api maupun bus Transjakarta, kita sering melihat orang-orang yang berangkat sendiri, yang dalam perspektif kita, mereka mungkin masih single.
Bukan itu saja, setiap kali pergi beribadah di gereja, masjid, maupun tempat ibadah lainnya, pasti kita melihat sosok yang masih sendiri, namun belum tentu menjadi jodoh. Meski banyak orang yang kita jumpai, masalah jodoh tetap menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan. Bahkan, urusan perjodohan ini kerap menjadi beban pikiran bagi kita, terutama saat orang tua mulai mendesak untuk segera menikah.
Mencari Jodoh Melalui Media Sosial
Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan di media sosial yang intinya begini: mendapatkan jodoh melalui "jalur random"—seperti bertemu langsung di transportasi umum atau pusat perbelanjaan—sudah sangat jarang terjadi. Sering kali ketika seorang pria melihat wanita yang disukainya, ketertarikan itu hanya berhenti pada tatapan saja. Tidak ada keberanian untuk mengajak berkenalan. Alhasil, itu hanya menjadi kekaguman sesaat, bukan awal dari sebuah perjodohan.
Atas tulisan itu, saya maupun banyak orang merasakan hal yang sama. Ketika bertemu seseorang di ruang publik atau rumah ibadah, muncul rasa takut jika si wanita menolak atau merasa risi (ilfeel) karena dianggap "sok kenal sok dekat". Dalam situasi tersebut, banyak orang akhirnya beralih mencari jodoh melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook.
Saat ini, kita bisa melihat akun-akun Instagram yang khusus dibuat untuk membantu para lajang mencari pasangan. Di sana, dicantumkan profil pria atau wanita yang serius mencari jodoh. Dari postingan tersebut, interaksi bermula lewat komentar hingga berlanjut ke Direct Message (DM). Percakapan yang awalnya biasa saja bisa berkembang menjadi hubungan yang serius hingga berujung pada pertemuan fisik.
Patut diakui bahwa media sosial menjadi wadah bagi mereka yang kurang percaya diri untuk mendekati lawan jenis secara langsung. Namun, jalur ini pun bukan tanpa hambatan. Ada kalanya DM yang dikirimkan tidak mendapatkan balasan, atau akun yang diikuti tidak memberikan respons sama sekali. Kondisi ini terkadang membuat kita patah semangat. Ada yang disukai, namun sulit untuk didekati. Akhirnya, niat baik pun kandas dan kita harus mencoba mencari yang lain lagi.
Antara Selektif dan Usaha yang Tak Henti
Kondisi ini sering membuat rekan, teman, maupun keluarga beranggapan bahwa kita adalah sosok yang terlalu pemilih. Padahal, menjalin hubungan menuju pernikahan tidak boleh sembarangan. Pernikahan adalah ikatan sakral yang hanya boleh dipisahkan oleh maut. Jadi, memilih sosok pendamping hidup adalah hak sekaligus kewajiban diri masing-masing.
Jika melalui media sosial keinginan hati belum juga tersampaikan, kita harus tetap mencoba mencari. Hal tersebut dilakukan terus-menerus, meskipun usia semakin bertambah. Media sosial telah menjadi ruang alternatif yang nyata; banyak pasangan yang berhasil menikah setelah berkenalan di sana.
Tak ada salahnya mencoba. Jika tidak ada keberanian untuk memulai secara langsung, cobalah melalui media sosial. Setiap orang memiliki karakter dan cara yang berbeda dalam mencari pasangan. Lakukanlah dengan cara masing-masing untuk menemukan yang terbaik. Semuanya kembali pada usaha dan doa agar perjuangan mencari teman hidup tidak sia-sia. Mari gunakan platform apa pun demi masa depan dan kebaikan hidup kita.
Baca Juga
-
Beras Mahal Menjerit, Beli Rokok Sanggup: Ironi Prioritas Keluarga Indonesia
-
Simak! Ini Modus Baru Penipuan Digital yang Sedang Marak di Indonesia dan Dunia
-
Merenungkan Kembali 1 Juni: Sudahkah Kita Menjadi Pancasilais yang Sebenarnya?
-
Jebakan Asmara Digital: Mengapa Love Scamming Harus Membuka Mata Hati Kita
-
Bijak Menggunakan Paylater: Kunci Kemudahan Hidup atau Jebakan Konsumtif?
Artikel Terkait
-
Media Sosial sebagai Panggung Bersuara: Benarkah Itu Wujud Emansipasi?
-
Speak Up Like Kartini: Emansipasi Perempuan di Era Media Sosial
-
Dari Rental PS ke Panggung Dunia, Atta Halilintar Ungkap Difollow Ronaldo hingga Dihubungi Ribery
-
Buku Itu Dibaca Isinya, Bukan Cuma untuk Menghias Feed Instagram Biar Kelihatan Keren
-
Rong Dino "Golek Garwo": Dua Hari Cari Jodoh, Ajang Unik Cari Pasangan di Jogja
Kolom
-
Manifesto Lingkungan Hidup Emang Keren tapi Kalah Sakti dari Ketegasan Emak
-
Hemat dan Ramah Lingkungan, Biasakan 'Repair First' sebelum Membeli Baru
-
Jangan Langsung Dibuang! 5 Sampah Dapur Ini Bisa Menyuburkan Tanaman
-
Nasib Pekerja Lepas yang Bebas Mengatur Waktu tapi Bingung Besok Makan Apa
-
Ramai-Ramai Tukar Rupiah ke Dolar, Seberapa Efektif Amankan Tabungan?
Terkini
-
Harga Rp12 Jutaan, Xiaomi 17T Pro Masih Layak Disebut Flagship Killer?
-
Unik dan Modis! 4 Rekomendasi Tabi Shoes Brand Lokal yang Wajib Dilirik
-
Anti-Boring! 4 OOTD Modern Edgy Classic ala Sooin MEOVV yang Mudah Disontek
-
Review We Are All Trying Here: Merasa Tertinggal Bukan Berarti Terlambat
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini