Film Monster (Kaibutsu) karya sutradara legendaris Jepang, Hirokazu Kore-eda, bukan sekadar drama keluarga biasa. Sejak pemutaran perdana di Festival Film Cannes 2023, di mana ia memenangkan penghargaan Skenario Terbaik (Best Screenplay), film ini telah menjadi buah bibir global karena kedalaman narasi dan struktur penceritaannya yang jenius. Melalui tangan dingin penulis naskah Yuji Sakamoto dan iringan musik terakhir dari mendiang Ryuichi Sakamoto, Monster menjelma menjadi sebuah simfoni tentang empati, prasangka, dan rahasia yang tersembunyi di balik wajah-wajah normal.
Monster (2023) telah dirilis secara reguler di bioskop Indonesia sejak 3 Januari 2024. Film ini ditayangkan secara luas melalui jaringan Cinépolis Cinemas, CGV Cinemas, serta beberapa lokasi Cinema XXI (terutama di studio pilihan atau The Premiere).
Mengingat saat ini kita berada di tahun 2026, film ini sudah menyelesaikan masa tayang regulernya di layar lebar. FYI: Film ini bisa kamu tonton kembali dengan jadwal tayang terbatas mulai tanggal 25 April 2025. Atau kalau kamu melewatkannya dapat juga diakses melalui platform streaming resmi yang bekerja sama dengan distributor lokal atau sering kali diputar kembali dalam program khusus festival film internasional di Indonesia.
Jantung Kebenaran: Dunia Rahasia Minato dan Yori
Kisah Monster dibuka dengan kebakaran sebuah gedung di sebuah kota kecil di Jepang. Fokus awal jatuh pada Saori (Sakura Ando), seorang ibu tunggal yang mulai curiga dengan perilaku aneh putranya yang masih duduk di bangku SD, Minato (Soya Kurokawa). Minato sering pulang dengan luka fisik, kehilangan sepatu sebelah, dan bahkan menggumamkan kalimat mengerikan tentang "siapa yang memiliki otak babi".
Kecurigaan Saori bermuara pada guru sekolah Minato, Pak Hori (Eita Nagayama). Saori yang protektif melabrak sekolah, namun ia justru menghadapi birokrasi sekolah yang dingin, penuh permintaan maaf formal yang terasa kosong, dan tuduhan bahwa Pak Hori melakukan kekerasan fisik serta verbal.
Kore-eda dengan jenius menggunakan teknik Rashomon-style untuk membedah kebenaran dari tiga sisi. Awalnya, kita diajak merasakan keresahan Saori menghadapi sistem sekolah yang dingin. Tak lama kemudian, sudut pandang berpindah ke Pak Hori—sosok guru yang sebenarnya berdedikasi namun hancur karena kesalahpahaman massal. Namun, jawaban atas segala teka-teki monster itu baru kita temukan di bagian terakhir. Melalui perspektif Minato, film ini mengungkap kebenaran yang jujur dan menyentuh mengenai hubungannya dengan Yori Hoshikawa, yang menjadi inti dari seluruh konflik yang terjadi.
Review Film Monster
Siapa monsternya? adalah pertanyaan yang terus dilemparkan film ini kepadaku. Di babak pertama, kita mungkin menganggap Pak Hori adalah monsternya. Di babak kedua, mungkin sistem sekolah atau bahkan Saori. Akan tetapi, seiring berjalannya cerita, kita menyadari bahwa monster tersebut bukanlah sosok individu, melainkan prasangka kolektif masyarakat. Film ini menggambarkan betapa mudahnya kita menghakimi seseorang tanpa mengetahui konteks utuhnya. Pak Hori dihancurkan oleh rumor, sementara kepala sekolah yang tampak tanpa emosi sebenarnya memendam duka yang lebih gelap. Kore-eda menunjukkan bahwa setiap orang adalah pahlawan dalam cerita mereka sendiri dan mungkin menjadi penjahat dalam cerita orang lain.
Pada perspektif ketiga, aku melihat hubungan yang sangat rapuh namun indah antara Minato dan Yori. Yori adalah anak yang ceria akan tetapi mengalami kekerasan domestik di rumah karena dianggap tidak normal oleh ayahnya. Hubungan kedua anak ini bukanlah sekadar persahabatan biasa; ada lapisan kebingungan tentang identitas diri dan seksualitas di usia dini yang digambarkan dengan sangat halus dan penuh empati. Elemen alam, seperti hujan badai dan tanah longsor yang menjadi klimaks film, berfungsi sebagai metafora pembersihan. Saat dunia orang dewasa sibuk saling menyalahkan dan mencari monster, kedua anak tersebut justru mencari kebebasan di sebuah gerbong kereta tua yang terbengkalai di tengah hutan—sebuah tempat perlindungan dari dunia yang tidak memahami mereka.
Visualisasi dalam Monster terasa intim tapi luas. Sinematografi Ryuto Kondo menangkap keindahan kota pinggir danau dengan kontras yang tajam antara ketenangan alam dan kekacauan emosional manusianya. Tapi, elemen yang paling menyayat hati adalah skor musik dari Ryuichi Sakamoto. Musiknya tidak mendominasi, melainkan hadir seperti napas—halus, melankolis, dan memberikan ruang bagiku untuk merenung. Mengetahui bahwa ini adalah karya terakhir beliau sebelum wafat memberikan bobot emosional ekstra pada setiap denting pianonya.
Monster (2023) adalah sebuah tamparan lembut bagi kemanusiaan kita. Film ini tidak memberikan jawaban hitam-putih. Alih-alih menghukum karakter-karakternya, Kore-eda mengajakku untuk melihat lebih dekat, mendengar lebih baik, dan memahami bahwa kebenaran sering kali tersembunyi di balik lapisan-lapisan yang tak diduga. Pada akhirnya, judul Monster merujuk pada ketakutan kita terhadap apa yang tidak kita mengerti. Saat Minato dan Yori berlari menuju cahaya di akhir film, kita diingatkan bahwa mungkin kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan ketika kita berhenti mencoba mendefinisikan orang lain berdasarkan standar sempit kita sendiri.
Wajib banget untuk ditonton! Ya, terutama buat kamu yang menyukai drama psikologis dengan kedalaman emosi yang luar biasa. Pastikan untuk selalu mengecek ketersediaan film ini di layanan streaming legal atau bioskop alternatif agar kamu tetap bisa mengapresiasi mahakarya sinematik dari Jepang ini secara maksimal ya, Sobat Yoursay! Rating pribadiku 9.5/10.
Baca Juga
-
Review Film Salmokji: Whispering Water, Ketika Air Menjadi Pintu Kematian!
-
Ulasan Film My Father's Shadow: Narasi Surealis Tentang Identitas Bangsa
-
Kupeluk Kamu Selamanya: Sebuah Refleksi Kasih Tanpa Batas, Ruang, dan Waktu
-
Kerja Saja Tidak Cukup: Membedah Jebakan Hustle Culture di Hari Buruh
-
Tom yang Bermimpi Melawan Gurita Raksasa
Artikel Terkait
-
Sinopsis Sareta Gawa No Fukushuu, Drama Jepang Dibintangi Misaki Ayame
-
Sinopsis Straight to Hell, Drama Jepang Terbaru Erika Toda di Netflix
-
Film dan Serial Anime Jepang Ramaikan Annecy Festival 2026, Ini Daftarnya
-
Timnas Indonesia Gagal Lolos, Jay Idzes Justru Nantikan Hal Ini di Piala Dunia 2026
-
Hello, Habits: Mengubah Hidup Lewat Kebiasaan Kecil ala Fumio Sasaki
Ulasan
-
Potret Hidup yang Perih dan Berisik dalam Novel Jakarta Selintas Aram
-
Bukan Lagi Dilan yang Kita Kenal: Mengapa 'Dilan ITB 1997' Lebih Sunyi dan Penuh Luka?
-
Bertahan di Tempat yang Menyakitkan: Kisah Lela dan Anak-Anak Terlupakan
-
Review Film Salmokji: Whispering Water, Ketika Air Menjadi Pintu Kematian!
-
Ulasan Lagu Lomba Sihir!: MV Nyeleneh yang Ajak Kita Kalahkan Dunia
Terkini
-
Tragedi Hutan Gambut dan Ilusi Pemulihan yang Kita Percaya
-
4 Clay Mask Centella untuk Pori Bersih Tanpa Bikin Kulit Kering
-
Hardiknas dan Jurang UMR: Mengapa Tidak Semua Anak Berani Bermimpi?
-
Ketika Anak Menjadi Korban Daycare, Ibu Sudah Cukup Hancur Tanpa Perlu Dihakimi
-
Wild Eyes Diadaptasi Jadi Drama Pendek, Angkat Romansa dan Konflik Istana