Belakangan ini, thrifting alias berburu baju bekas pakai diglorifikasi sebagai pahlawan lingkungan. Tagar sustainable fashion dan less waste bertebaran di mana-mana, membujuk kita untuk percaya bahwa membeli baju bekas adalah cara terbaik menyelamatkan bumi dari limbah fast fashion.
Tapi jujur deh, mari kita bongkar realitanya. Berapa banyak dari kita yang tergiur baju murah di thrift shop, lalu pas dibawa pulang ternyata jahitannya rapuh, ada noda membandel, atau ukurannya aneh, hingga akhirnya berakhir mengenaskan di pojokan dapur sebagai kain lap? Kalau niatnya mengurangi sampah tapi ujung-ujungnya malah menimbun kain lap di rumah, bukankah itu namanya kontradiksi?
Hemat 2 Kali LIpat dengan Prinsip "Mending Beli Baru"
Bagi sebagian orang, membeli baju baru sering dicap konsumtif. Padahal, kalau kita mau berhitung secara rasional, membeli baju baru dengan kualitas bahan yang bagus justru bisa bikin kita menghemat hingga 200%. Kenapa? Karena baju tersebut tahan lama dan bisa dipakai bertahun-tahun.
Sebodoh amatlah orang mau bilang baju kita "itu-itu terus". Justru esensi dari less waste yang sesungguhnya adalah looping atau memakai pakaian yang sama berulang kali sampai maksimal, bukan hobi gonta-ganti pakaian.
Memang, thrifting mungkin lebih cocok untuk orang yang profilnya suka ganti-ganti model baju agar tidak bosan. Tapi itu pun ada syaratnya: harus jeli memperhatikan bahan, misalnya memastikan bahannya katun atau bukan. Kalau kita berburu di tempat yang terkenal dengan pasokan thrift impor berkualitas seperti Pasar Jodoh di Batam atau Mangga Dua, kita memang masih bisa menemukan barang dari Thailand atau Singapura yang mutunya bagus. Masalahnya, tidak semua orang punya waktu dan kejelian untuk menyortir "harta karun" tersebut. Sisanya? Ya zonk dan jadi sampah rumahan.
Dilema Donasi: Mereka Juga Layak Dapat yang Baru
Ketika baju thrift yang kita beli ternyata tidak cocok, alibi paling murah kita biasanya adalah, "Ya sudah, disumbangkan saja ke panti asuhan."
Tapi coba kita pikirkan lagi secara empati. Memberikan baju bekas—yang kita sendiri pun malas memakainya karena kualitasnya kurang sreg—ke anak-anak panti asuhan itu rasanya agak aneh dan kurang etis. Mereka juga manusia yang memiliki martabat, dan mereka pun layak mendapatkan pakaian baru yang layak, bersih, dan memanusiakan mereka. Donasi seharusnya tidak menjadi tempat pelarian atau "tempat sampah terselubung" atas rasa bersalah kita karena salah beli baju.
Sisi Gelap Thrifting: Berawal Solusi, Berakhir Jadi "Waste Dumping"
Secara konsep, thrifting memang memiliki dampak positif, yaitu memperpanjang umur pakai pakaian (reuse) dan menekan laju produksi limbah fast fashion yang masif di hulu. Namun, secara makro, tren ini menyimpan dampak negatif yang mengerikan bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehudanan (KLHK), limbah tekstil di Indonesia sudah menjadi masalah serius yang mencapai 2,3 juta ton per tahun. Secara global, perdagangan baju bekas ini sebenarnya adalah kedok negara-negara maju untuk melakukan waste dumping (pembuangan sampah) ke negara berkembang. Pakaian-pakaian bekas dari luar negeri dikirim dalam bentuk bal-balan besar ke Indonesia.
Di sinilah lingkaran setannya berputar:
Limbah Berputar di Sini: Pakaian yang tidak layak jual atau tidak laku di pasar thrift lokal akhirnya menumpuk dan mencemari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kita sendiri. Sampah mereka, kita yang menanggung.
Mematikan Produk Lokal: Harga baju thrift impor ilegal yang sangat murah merusak harga pasar. Akibatnya, produk konveksi lokal dan UMKM fashion dalam negeri jadi tidak laku karena kalah saing secara harga. Sektor industri tekstil lokal yang menyerap jutaan tenaga kerja pun perlahan tercekik.
Cerdas Memilih, Stop Ikut-Ikutan
Bukan berarti kita sama sekali dilarang membeli barang bekas. Kalau kamu memang tim yang suka ganti-ganti model, silakan thrifting asal berkomitmen untuk super jeli memilih bahan yang tahan lama dan benar-benar akan dipakai.
Namun, jika kamu belum siap untuk menyortir secara detail dan malas merawatnya, berhentilah ikut-ikutan tren demi konten less waste. Daripada menambah koleksi kain lap di rumah atau merusak ekosistem industri lokal, memilih membeli satu baju baru yang berkualitas, berbahan bagus, dan dirawat hingga bertahun-tahun jauh lebih ramah lingkungan—dan tentunya, ramah di kantong untuk jangka panjang.
Baca Juga
-
Jangan Cuma Rendang! Sulap Daging Kurban Jadi 4 Hidangan Nusantara yang Lebih Menggoda
-
Ketakutan Kiko Menjelang Hari Raya
-
Gen Z dan Tren Mindful Buying: Cara Anak Muda Mengatur Napas Finansial di Tengah Ketidakpastian
-
Radiasi di Balik TWS: Seberapa Aman Dipakai Setiap Hari?
-
Masterpiece! Telinga Saya Sangat Terpuaskan dengan 'Your Side' Weird Genius
Artikel Terkait
-
Stop 'Check Out' Spontan! Ini Alasan Kenapa Payday Kamu Justru Bikin Rumah Berantakan
-
Jejak Sampah di Balik Tombol 'Checkout': Sudah Siapkah Berhenti Jadi Konsumen Pasif?
-
Hobi Checkout Baju Picu Clutter Lifestyle dan Sampah Tekstil Meningkat?
-
Awas Terjebak Tren! 5 Mitos Less Waste yang Telanjur Dipercaya
-
Tren Belanja Barang Viral Lucu: Cepat Dibeli, Cepat Pula Jadi Sampah?
Kolom
-
Menyoal Kewaspadaan Rakyat di Tengah Kultus Mas Bahlil Ganteng
-
Sapi Kurban APBN Rp100 Miliar: Saat Menkeu Mengaku Ketinggalan Info
-
Stop 'Check Out' Spontan! Ini Alasan Kenapa Payday Kamu Justru Bikin Rumah Berantakan
-
Tragedi Kresek Hitam: Sengkarut Sampah Plastik Pasca-Iduladha yang Tak Kunjung Usai
-
Dilema Kaum Rebahan di Tengah Gejolak Ekonomi: Chill atau Mulai Bergerak?
Terkini
-
Kenapa Iduladha Identik dengan Kurban? Begini Awal Mula dan Maknanya
-
4 Ide Outfit ala Jeon Somi dengan Nuansa Pastel yang Stylish tanpa Ribet!
-
Drama We Are All Trying Here, Ketika Dua Orang Melawan Rasa Tidak Berharga
-
Hilang Tanpa Jejak di Kuil Terbengkalai: Awal Mula Teror dalam 'The Shrine'
-
212 Ribu Penonton Hari Pertama, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih Pecah Rekor!