Lintang Siltya Utami | Eza F.
Tak sedikit orang yang mulai menerapkan less waste. (Gemini AI)
Eza F.

Gaya hidup less waste belakangan ini memang tengah menjadi trend kekinian yang sangat populer di tengah masyarakat. Namun gerakan peduli lingkungan ini sejatinya bukan sekadar modis atau ajang bergaya agar terlihat keren, melainkan sebuah gerakan sadar yang memberikan dampak nyata bagi kelangsungan hidup kita.

Mengingat kondisi Bumi yang kian mengkhawatirkan akibat timbunan sampah, aksi nyata ini mutlak harus dimulai hari ini dari diri sendiri demi mewujudkan lingkungan yang lestari bagi generasi mendatang. Jika kita menilik kondisi di sekitar kita, konteks permasalahan sampah di Indonesia sudah berada pada tahap yang sangat relevan dan mendesak.

Bayangkan saja, rata-rata satu orang manusia di Indonesia menghasilkan sekitar 0,7 kg sampah setiap harinya. Di kota besar seperti Jakarta, jenis limbah yang paling mendominasi adalah sampah plastik dan berbagai produk sekali pakai lainnya.

Bahkan, jika diakumulasikan secara nasional, total sampah dari penggunaan tisu saja bisa menyentuh angka fantastis, yakni mencapai 25.000 ton. Fakta lain yang tidak kalah mencengangkan adalah posisi Indonesia yang menduduki peringkat kedua di dunia sebagai negara terbanyak yang membuang sampah plastik ke laut.

Sampah-sampah plastik yang terapung di perairan ini nantinya akan hancur menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik. Ketika mikroplastik tersebut masuk ke dalam rantai makanan laut dan terkonsumsi oleh manusia, ada risiko kesehatan fatal yang mengintai, mulai dari memicu reaksi alergi, keracunan, hingga penyakit kanker.

Melihat krisis tersebut, menunda untuk melakukan perubahan sama saja dengan menimbun bencana di masa depan. Sebagai ilustrasi, Kota Jakarta sendiri harus menghadapi kiriman 8.688 ton sampah per harinya, sementara limbah plastik membutuhkan waktu hingga 400 tahun agar bisa terurai di lautan.

Apabila Anda memilih untuk menunda tindakan ini walau hanya satu tahun saja, tanpa sadar Anda telah menyumbang sekitar 255,5 kg sampah baru yang berpotensi merusak dan mencemari lingkungan sekitar.

Untungnya, konsep less waste hadir sebagai jalan keluar yang jauh lebih mudah, inklusif, dan realistis untuk diterapkan oleh siapa saja dibandingkan dengan konsep zero waste. Jika zero waste menetapkan target ambisius berupa nol sampah yang sering kali sulit dicapai dan membuat pelakunya merasa tertekan, less waste memiliki prinsip yang lebih modest atau bersahaja.

Gerakan ini tidak menuntut kesempurnaan, melainkan menitikberatkan pada langkah-langkah praktis serta konsisten yang bisa dijalankan tanpa beban oleh setiap individu.

Secara praktis, gerakan ini mengadaptasi filosofi 5R yang sangat aplikatif untuk kehidupan sehari-hari, dimulai dari tahap Refuse atau menolak produk sekali pakai yang tidak terlalu penting. Tahap selanjutnya adalah Reduce, yaitu menekan konsumsi barang-barang yang kurang esensial, diikuti dengan Reuse atau mengoptimalkan kembali barang lama yang masih layak pakai.

Untuk barang yang sudah tidak bisa digunakan lagi, kita bisa menerapkan Recycle (daur ulang), serta melakukan Rot atau mengompos sisa-sisa sampah organik rumah tangga.

Membongkar Hambatan Pikiran dan Meraih Manfaat Nyata untuk Diri Sendiri

Sering kali, hal yang menghambat seseorang untuk beralih ke gaya hidup bersih ini bukanlah karena tidak adanya jalan atau metode, melainkan karena rasa gengsi dan malas untuk mulai bergerak. Ada banyak alasan klise yang kerap muncul di pikiran, seperti merasa belum terbiasa, kurang pengetahuan, atau merasa kurang peduli.

Padahal, solusinya sangat sederhana; Anda bisa belajar sambil berjalan karena sumber informasi gratis sudah sangat banyak, dan rasa peduli itu nantinya akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Lagi pula, mengadopsi pola hidup minim sampah ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi alam, tetapi juga mendatangkan keuntungan langsung bagi diri kita sendiri sejak hari pertama. Dari sisi finansial, prinsip ini jelas membantu kita menghemat uang karena pengeluaran bulanan untuk membeli produk sekali pakai bisa dipangkas secara signifikan.

Dengan mengurangi konsumsi dan belanja secara berlebihan, kestabilan dompet kita tentu akan menjadi jauh lebih sehat. Selain membuat finansial lebih hemat, tubuh kita pun akan menjadi jauh lebih sehat. Hal ini terjadi karena produk-produk natural yang digunakan dalam gaya hidup ini umumnya lebih minim dari paparan bahan kimia berbahaya.

Manfaat kesehatan ini juga akan terasa secara langsung ketika kita mulai mengurangi konsumsi makanan siap saji dan memilih untuk memasak makanan sendiri di rumah. Di samping itu, keterbatasan dalam menggunakan barang sekali pakai secara otomatis akan mengasah dan meningkatkan kreativitas kita.

Kita dituntut untuk lebih inovatif dalam mendaur ulang dan memanfaatkan barang-barang yang sudah dimiliki agar bisa menjadi lebih fungsional. Pada akhirnya, semua kontribusi langsung dalam mengurangi beban bumi ini akan mendatangkan kepuasan batin tersendiri karena kita tahu bahwa kita telah melakukan hal yang baik untuk diri sendiri dan lingkungan.

Gerakan ini juga membawa dampak sosial positif yang cukup luas di lingkungan kemasyarakatan. Aksi konsisten yang Anda lakukan dapat menginspirasi orang-orang di sekitar untuk ikut peduli, sehingga lambat laun akan terbentuk komunitas yang sadar lingkungan.

Dalam skala yang lebih besar, lingkaran sosial ini mampu menciptakan sistem ekonomi berkelanjutan, di mana setiap barang didesain untuk memiliki umur pakai yang panjang. Untuk memulai langkah nyata hari ini, ada beberapa cara praktis dan mudah yang bisa langsung Anda praktikkan tanpa perlu menunda lagi.

Langkah awal yang paling sederhana adalah selalu membawa tas belanja sendiri saat pergi ke pasar atau supermarket agar tidak perlu menggunakan kantong plastik. Selanjutnya, biasakan diri membawa tumbler atau botol minum pribadi ke mana pun Anda pergi guna menghindari pembelian air minum dalam kemasan plastik sekali pakai.

Tindakan taktis lainnya yang bisa dicoba adalah membiasakan diri menggunakan tisu secukupnya saja, atau jika memungkinkan, mulailah menggantinya dengan sapu tangan reusable yang bisa dicuci. Anda juga bisa mulai memilah sampah domestik langsung dari rumah antara yang organik dan anorganik.

Agar proses pembentukan kebiasaan baru ini terasa lebih menyenangkan dan terarah, Anda bisa menantang diri sendiri dengan mengikuti 30 Days Zero Waste Challenge. Kita harus segera mengubah pola pikir lama yang menganggap bahwa urusan mengelola sampah adalah hal yang kotor dan bisa ditunda nanti saja saat memiliki waktu luang.

Pola pikir tersebut harus diubah menjadi sebuah prinsip baru: "Aku peduli, aku bisa mulai dari diri sendiri, sekarang juga". Sadarilah bahwa Anda adalah agen perubahan yang paling efektif bagi gaya hidup Anda sendiri, karena tidak ada orang lain yang bisa mengubah kebiasaan tersebut selain diri Anda.

Akhir kata, mari kita pahami bersama bahwa setiap hari yang kita lewatkan begitu saja tanpa melakukan aksi nyata akan berujung pada akumulasi sampah tambahan yang merusak Bumi. Namun, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari akan menghasilkan dampak kumulatif yang sangat raksasa bagi masa depan Bumi.

Oleh karena itu, mari ambil tanggung jawab pribadi atas sampah kita, hilangkan rasa malas, dan mulailah berkontribusi untuk Bumi yang lebih bersih dan lestari sejak hari ini.