Kolom

Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua

Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua
Ilustrasi lansia (pexels/Yusuf Kaya)

Setiap kali melihat iklan di televisi atau media sosial tentang indahnya masa tua, seperti pasangan lansia yang duduk santai di kursi goyang, menikmati teh hangat di teras rumah yang asri, sambil sesekali menengok tabungan masa tua yang aman, saya hanya bisa tersenyum kecut.

Bagi saya, seorang ibu rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, bayangan hari tua seperti itu rasanya seperti dongeng sebelum tidur. Indah, tapi mustahil terjadi di dunia nyata saya.

Realitas yang saya hadapi setiap hari jauh dari kata romantis. Alih-alih memikirkan dana pensiun, fokus saya setiap bulan habis untuk memutar otak bagaimana caranya agar uang belanja cukup untuk makan, bayar kontrakan, dan memastikan sekolah anak-anak tidak putus di tengah jalan. Jangankan menyisihkan uang untuk investasi atau asuransi swasta, sisa uang di dompet saya di akhir bulan sering kali hanya berupa selembar uang Rp 2.000 yang sudah lecek.

Kecemasan saya ini bukanlah ketakutan yang mengada-ada. Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, sebagian besar lansia dari kelompok ekonomi bawah di Indonesia mengalami kerentanan sosial dan ekonomi yang tinggi di hari tua karena tidak memiliki jaminan pendapatan tetap atau tabungan yang memadai.

Keadaan ini diperparah dengan melemahnya sistem pendukung keluarga akibat tekanan ekonomi yang merata di tingkat anak-cucu. Jadi, ketakutan saya akan masa depan yang telantar ini sebenarnya adalah ancaman nyata yang sedang mengintai di depan mata.

Jujur saja, ketakutan terbesar saya saat ini bukanlah kematian. Kematian itu pasti dan urusannya langsung selesai. Ketakutan terbesar saya adalah proses menuju tua: ketika fisik saya mulai digerogoti penyakit, rambut memutih, tenaga habis, sementara saya tidak memiliki aset sepeser pun.

Saya tidak punya tanah untuk dijual, tidak punya kos-kosan untuk diputar hasilnya, dan tentu saja tidak punya uang pensiun bulanan layaknya pegawai negeri. Saya adalah emak-emak yang hari tuanya sepenuhnya "kosong". Di sinilah letak beban psikologis yang paling menyesakkan dada.

Di satu sisi, ada dogma budaya yang kuat bahwa anak adalah investasi masa depan dan wajib merawat orang tuanya di hari tua. Namun, di sisi lain, saya melihat sendiri betapa beratnya perjuangan anak-anak saya nantinya untuk bertahan hidup di zaman yang makin keras ini.

Saya sangat takut menjadi "generasi sandwich" berikutnya yang membebani mereka. Saya tidak mau uang yang seharusnya dipakai anak saya untuk membeli susu cucu saya, justru habis tersedot untuk membelikan obat-obatan atau popok dewasa untuk saya.

Setiap kali badan saya terasa linu setelah seharian mencuci dan membereskan rumah, pikiran buruk itu sering kali mampir tanpa diundang. Saya membayangkan, bagaimana kalau nanti saya lumpuh? Bagaimana kalau saya pikun dan merepotkan semua orang?

Menjadi beban bagi anak-cucu adalah mimpi buruk yang membuat saya sering terjaga di sepertiga malam. Ada rasa bersalah yang teramat besar karena sebagai orang tua, saya tidak bisa meninggalkan warisan harta, dan justru berpotensi meninggalkan beban finansial.

Bagi emak-emak kelas bawah seperti saya, jaminan hari tua dari pemerintah seperti BPJS Ketenagakerjaan informal sering kali belum terjangkau secara konsisten, karena pendapatan rumah tangga yang fluktuatif. Kami sering kali luput dari skema perlindungan sosial yang komprehensif.

Edukasi tentang perencanaan keuangan yang sering digemborkan para pengamat di internet itu terasa seperti ejekan, sebab bagaimana mungkin bisa merencanakan masa depan jika uang untuk bertahan hidup besok pagi saja masih harus dicari nanti sore?

Pada akhirnya, di tengah segala keterbatasan ini, aset terbesar yang saya miliki saat ini hanyalah doa. Setiap malam saya berdoa, bukan meminta umur yang panjang hingga ratusan tahun, melainkan meminta agar selalu diberi kesehatan sampai hari tua nanti.

Saya hanya ingin tetap mandiri, bisa berjalan dengan kaki sendiri, dan tidak menyusahkan anak-cucu hingga hari terakhir saya di dunia. Sebab bagi emak-emak tanpa dana pensiun seperti saya, mati dalam keadaan tidak merepotkan orang lain adalah sebuah kemewahan tertinggi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda