Darurat sampah masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia pada tahun 2026, masyarakat banyak menyumbang sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) dibandingkan dengan mengelola secara mandiri yang menjadi salah satu penyebab angka pembuangan akhir TPA menjadi tinggi. Data dari KLH/BPLH menunjukkan bahwa tingkat pengelolaan sampah nasional baru menyentuh angka 24 persen.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menuangkan target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang menargetkan pengelolaan sampah harus mencapai 51,61 persen di tahun 2029 dengan pendekatan ekonomi sirkular. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Indonesia tidak dapat diselesaikan dengan mengandalkan pembuangan ke TPA.
Diperlukan perubahan paradigma pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya. Salah satu pendekatannya adalah dengan konsep less waste, yaitu upaya mengurangi timbulan sampah sejak dari rumah, kawasan usaha, hingga sektor industri sebelum sampah tersebut masuk ke sistem pengolahan akhir.
Berbeda dengan pengelolaan sampah secara konvensional yang dibayarkan Rp35.000 per bulan, sistem tersebut cenderung hanya berfokus pada penyelesaian masalah di hilir saja. Konsep less waste menawarkan pendekatan yang lebih mendasar dengan mengendalikan timbulan sampah sejak dari hulu.
Penerapan konsep less waste dimulai dari hulu, yakni rumah tangga sebagai penghasil sampah terbesar, yang dinilai secara sederhana seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan tumbler, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membeli barang sesuai dengan kebutuhan menjadi bentuk nyata dari penyumbang plastik. Pemilahan sampah organik maupun anorganik menjadi kunci agar proses pengelolaan berikutnya dapat berjalan secara lebih efektif.
Pada tahap berikutnya, sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan dan sektor pertanian. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah atau pelaku usaha daur ulang.
Dengan sistem ini, sebagian besar sampah tidak lagi berakhir di TPA, melainkan kembali dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai guna. Konsep less waste juga membutuhkan dukungan pada tingkat menengah atau hilir.
Pemerintah daerah, komunitas, hingga pelaku usaha memiliki peran penting dalam menyediakan fasilitas pemilahan, tempat pengolahan sampah terpadu, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Tanpa dukungan sistem yang memadai, kesadaran masyarakat yang mulai tumbuh akan sulit berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Di sisi lain, penerapan konsep ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat telah melahirkan berbagai usaha kreatif, mulai dari produk kerajinan daur ulang, kompos organik, hingga industri pengolahan plastik yang mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan warga.
Pengamat lingkungan menilai bahwa meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan sinyal positif bahwa pola pikir masyarakat mulai bergeser. Sampah tidak lagi dipandang sebagai barang buangan semata, melainkan sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan tepat.
Perubahan paradigma inilah yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Meski demikian, angka 24 persen menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat.
Melalui penerapan konsep less waste dari hulu ke hilir, pengelolaan sampah tidak lagi hanya berfokus pada bagaimana membuang sampah, tetapi juga bagaimana mengurangi, memanfaatkan kembali, dan mengolahnya secara bertanggung jawab. Jika kesadaran masyarakat terus meningkat dan didukung oleh sistem yang kuat, maka persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah lingkungan dapat perlahan diatasi secara berkelanjutan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Bukan Sekadar Daur Ulang! Ini Strategi Baru Menekan Sampah Sebelum Menjadi Limbah
-
Bukan Sedotan, Penelitian Global Temukan Kemasan Makanan Jadi Penyumbang Utama Sampah Plastik Laut
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
Ilmuwan Temukan Cara Baru Daur Ulang Plastik Tanpa Pelarut, Bisakah Jadi Jawaban Krisis Sampah?
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
Kolom
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
-
Piala Dunia Bukan Sekadar Hiburan, Bisa Bantu Melepas Stres?
-
PPDB Jabar 2026 Kacau, Dedi Mulyadi Semprot Dinas Pendidikan: Seperti Ikan Gurame di Laut!
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Menyoal Tulisan di Bak Belakang Truk: Viral, Vulgar, Atau Puitis Saja Sih?
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Lionel Messi Cetak Hattrik, Argentina Siap Back to Back?
-
Kulit Mulus Kembali: 5 Rekomendasi Handbody Pemudar Bekas Luka
-
Generasi Emas Timnas Portugal dan Mimpi yang Kian Nyata di Piala Dunia 2026
-
4 Sunscreen Madecassoside, Lindungi Kulit Sensitif dari Kemerahan Akibat UV
-
Kejutkan Media! Tom Holland Isyaratkan Sudah Menikah dengan Zendaya