Sekar Anindyah Lamase | Victorio Firsta Ovarynza Immatunnajah
Memanfaatkan limbah sampah menjadi karya seni dalam pameran (Dok.pribadi/Victorio Firsta)
Victorio Firsta Ovarynza Immatunnajah

Konsep karya seni tanpa sampah telah mengubah cara pandang seniman untuk mengubah sampah menjadi karya seni, hal ini tentu didukung untuk menuju gaya hidup zero waste dengan menghentikan pembuangan di tempat pembuangan akhir (TPA). Dalam praktiknya, beberapa seniman dan mahasiswa dalam membuat karya seni seringkali menggunakan barang bekas untuk menghasilkan karya seni bernilai tinggi.

Seperti kardus bekas, sampah plastik diubah menjadi objek estetis atau instalasi menggunakan teknik pemotongan serta pewarnaan yang sesuai dengan konsep. Praktik ini kemudian dikenal sebagai seni daur ulang (recycled art) yang kemudian membentuk ekspresi kreatif sekaligus membawa pesan kuat tentang pelestarian lingkungan.

Di Indonesia, ada beberapa seniman yang selalu menggunakan sampah dan limbah menjadi karya seni bernilai tinggi. Diantara para seniman itu, ada I Made Muliana Bayak seniman asal bali yang dkenal dengam proyek Plasticology, dengan mengubah plastik menjadi karya instalasi, lukisan dan patung menjadi media kritik terhadap masalah sampah.

Sementara itu, di Yogyakarta ada 2 seniman yang mengolah sampah plastik menjadi karya seni, yaitu Eko Nugroho, merupakan seorang seniman kontemporer yang sering mengubah limbah menjadi karya instalasi monumental seperti yang dituangkan dalam patung Lost Treasure dan Bouquet of Love. Instalasi yang dibuatnya berasal dari ember plastik, botol air, peralatan elektornik bekas, dan lainnya.

Dikutip dari TribunJogja, Kepedulian Eko Nugroho terhadap sampah sudah muncul sejak ia menduduki bangku perkuliahan di tahun 1997, akan tetapi ia baru aktif membuat karya seni yang berasal dari limbah pada tahun 2017. Responsnya mengenai produksi sampah di area wisata membuatnya ingin ikut andil dengan membangun instalasi seni berukuran kolosal dari sampah plastik.

Sampah dapat digunakan sebagai media seni patung, lukisan atau instalasi yang di make up menjadi sesuatu yang bernilai menjadi karya seni dan kemudian tidak dipandang terlihat sebagai limah. Karya upcycle dapat dihargai dan layak berada di ruang galeri museum, interior hingga ruang public.

Di lain pihak, Hangno Hartono seniman dan budayawan asal Yogyakarta yang mengubah sampah menjadi karya seni wayang dan melakukan kampanye pemanfaatan sampah atau barang bekas menjadi berbagai karakter wayang yang menarik. Dilansir dari greennetwork.id, kesadarannya untuk mengubah sampah menjadi karya seni berangkat dari penutupan tempat pembuangan sampah di piyungan beberapa tahun lalu.

Pemanfaatkan sampah dalam pembuatan wayang dilakukan dengan peran penting yaitu untuk mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Hal ini menjai bentuk kontribusi masyarakat secara sadar dalam penerapan ekonomi sirkular dan menekan biaya produksi untuk menciptakan karya seni.

Disisi lain, mahasiswa yang mengadakan pameran sebagai tugas akhir kerap memanfaatkan sampah sebagai material utama dalam menciptakan karya seni instalasi, patung hingga kerajinan. Kegiatan ini mencerminkan konsep keberlanjutan (sustainability) dan berfungsi ganda sebagai kampanya lingkungan untuk mengubah limbah menjadi karya.

Tentunya, pemanfaatan sampah menjadi karya seni terdapat kilas balik dalam mengimplementasikan berbagai pesan sosial dan pesan lingkungan untuk di pamerkan ke masyarakat. Proses ini dinilai kreativitas tidak selalu bergantung pada bahan yang mahal, melainkan kemampyan untuk mengolah ide dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar.

Lebih lanjut, kardus sangat cocok untuk diubah menjadi karya seni karena materialnya yang fleksibel, mudah dibentuk dan ramah lingkungan. Teksturnya yang unik memungkinkan seniman dan mahasiswa untuk memanfaatkan sampah menjadi karya untuk dibuat menjadi maket 3D hingga instalasi besar dengan biaya yang terjangkau dan mudah diperoleh di area sekitar.

Dengan demikian, seniman dan mahasiswa telah berperan dalam mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi ruang kreatif. Melalu pemanfaatan sampah sebagai media berkarya, seniman dan sampah menunjukkan bahwa seni dapat berperan sebagai sarana komunikasi.

Baca Juga